Kontroversi Status Tahanan Rumah Yaqut, KPK Dihujani Kritik Soal Transparansi dan Dugaan Perlakuan Istimewa

Jakarta | Sketsa Online – Keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengalihkan status penahanan mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, menjadi tahanan rumah memicu gelombang kritik dari berbagai pihak. Lembaga antirasuah itu dinilai tidak transparan dan berpotensi memberikan perlakuan istimewa terhadap tersangka kasus korupsi.

Sorotan publik bermula saat Yaqut tidak lagi terlihat di Rumah Tahanan (Rutan) KPK. Informasi tersebut pertama kali mencuat dari Silvia Rinita Harefa, istri dari Immanuel Ebenezer, usai menjenguk suaminya pada momen Lebaran, Sabtu (21/3/2026).

Silvia mengaku tidak melihat Yaqut di rutan dan mendapatkan informasi bahwa mantan Menteri Agama itu telah keluar sejak Kamis malam. Ketidakhadiran Yaqut juga menimbulkan tanda tanya di kalangan tahanan lain, yang tidak mengetahui alasan pengalihan tersebut.

Baca juga:  KPK: Mantan Menag Yaqut Jalani Tes Kesehatan di RS Polri Sebelum Kembali ke Rutan

Bahkan, berdasarkan keterangan yang diterima Silvia, Yaqut juga tidak terlihat saat pelaksanaan salat Id yang difasilitasi KPK bagi para tahanan.

Eks Penyidik: Keputusan KPK Janggal

Mantan penyidik KPK, Yudi Purnomo Harahap, menilai pengalihan status penahanan Yaqut sebagai langkah yang janggal. Ia mempertanyakan dasar keputusan tersebut, terutama karena tidak disertai penjelasan terbuka kepada publik.

Menurut Yudi, KPK seharusnya menjelaskan secara rinci alasan perubahan status tersebut. Ia juga mengingatkan adanya risiko tersangka menghilangkan barang bukti atau mempengaruhi saksi jika tidak ditahan di rutan.

Ia bahkan menilai keputusan ini bisa berdampak luas terhadap kredibilitas penegakan hukum, serta memicu tuntutan serupa dari tahanan lain.

MAKI: KPK Diduga Diskriminatif

Kritik juga datang dari Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI). Koordinator MAKI, Boyamin Saiman, menilai KPK tidak menjalankan prinsip keterbukaan sebagaimana diatur dalam undang-undang.

Baca juga:  Kejati Lampung Tetapkan Mantan Gubernur ARD Jadi Tersangka Korupsi Dana PI US$17,28 Juta, Langsung Ditahan

Boyamin menyoroti bahwa publik justru mengetahui perubahan status penahanan Yaqut dari pihak luar, bukan dari pengumuman resmi KPK. Hal ini menimbulkan kesan adanya upaya menutupi informasi.

Ia juga membandingkan perlakuan tersebut dengan kasus Lukas Enembe, yang tetap ditahan meski dalam kondisi sakit. Perbedaan ini dinilai memunculkan dugaan diskriminasi.

Selain itu, momentum pengalihan status menjelang Lebaran turut memicu spekulasi publik bahwa kebijakan tersebut memberi keuntungan bagi Yaqut untuk merayakan hari raya di luar tahanan.

ICW Desak Dewas KPK Turun Tangan

Desakan transparansi juga disampaikan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW). Peneliti ICW, Wana Alamsyah, menyebut keputusan tersebut berpotensi menjadi preseden buruk dalam pemberantasan korupsi.

Baca juga:  Kejati Kalbar Selamatkan Rp55 Miliar dari Dugaan Korupsi Tambang Bauksit, Total Capai Rp170 Miliar

ICW menilai pengalihan penahanan biasanya dilakukan secara ketat, terutama dengan alasan kesehatan. Namun, dalam kasus Yaqut, KPK justru menyatakan bahwa keputusan tersebut bukan karena sakit.

ICW juga meminta Dewan Pengawas (Dewas) KPK untuk memeriksa pimpinan KPK yang diduga mengetahui dan menyetujui kebijakan tersebut.

Penjelasan KPK: Bukan karena Sakit

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menegaskan bahwa pengalihan status penahanan Yaqut bukan disebabkan kondisi kesehatan.

Menurutnya, keputusan tersebut diambil setelah adanya permohonan dari pihak keluarga yang kemudian diproses oleh KPK. Namun, ia tidak merinci alasan spesifik di balik permohonan tersebut.

Budi juga menyatakan bahwa setiap perkara memiliki strategi penanganan yang berbeda, sehingga perlakuan terhadap tersangka bisa saja tidak sama.

Latest

Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Natal, Camat Natal Bacakan Pidato Ketua BPIP

Mandailing Natal, | Sketsa Online.com - Peringatan Hari Lahir...

Belajar Melepas untuk Memberi: Hikmah Kurban ala Dandim 0508/Depok

Depok | Sketsa Online - Hari Raya Idul Adha...

Sembelih Ego Lewat Kurban, Iwan Setiawan Sebut Idul Adha Momentum Muhasabah di Era Modern

Depok | Sketsa Online – Hari Raya Idul Adha...

Newsletter

Don't miss

Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Natal, Camat Natal Bacakan Pidato Ketua BPIP

Mandailing Natal, | Sketsa Online.com - Peringatan Hari Lahir...

Belajar Melepas untuk Memberi: Hikmah Kurban ala Dandim 0508/Depok

Depok | Sketsa Online - Hari Raya Idul Adha...

Sembelih Ego Lewat Kurban, Iwan Setiawan Sebut Idul Adha Momentum Muhasabah di Era Modern

Depok | Sketsa Online – Hari Raya Idul Adha...

Hidupkan Spirit Pengorbanan Nabi Ibrahim, White House Premier Bagikan 4.000 Paket Daging Kurban

Depok | Sketsa Online - Momentum Idul Adha tidak...

Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Natal, Camat Natal Bacakan Pidato Ketua BPIP

Mandailing Natal, | Sketsa Online.com - Peringatan Hari Lahir Pancasila perdana dilaksanakan di Lapangan Merdeka Natal pada Senin (1/6/2026). Bertindak selaku Inspektur Upacara (Irup) Camat...

Belajar Melepas untuk Memberi: Hikmah Kurban ala Dandim 0508/Depok

Depok | Sketsa Online - Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah dimaknai Kodim 0508/Depok bukan sekadar momentum penyembelihan hewan kurban, tetapi juga sebagai sarana...

Sembelih Ego Lewat Kurban, Iwan Setiawan Sebut Idul Adha Momentum Muhasabah di Era Modern

Depok | Sketsa Online – Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah tidak hanya dimaknai sebagai ibadah penyembelihan hewan kurban semata, tetapi juga menjadi momentum...