Depok | Sketsa Online – Tahun 2026 hadir bukan sekadar sebagai penanda pergantian kalender, melainkan sebagai titik krusial perjalanan Kota Depok. Di tengah harapan publik yang kian tinggi, refleksi tidak lagi cukup menjadi agenda seremonial awal tahun. Refleksi kini menjelma menjadi kewajiban moral sebuah ruang evaluasi jujur untuk memastikan bahwa semangat Depok Maju benar-benar bergerak menuju pembuktian nyata.
Ketua Barisan Relawan Supian Suri (BARESS), Haji Acep Azhari, menegaskan bahwa 2026 merupakan fase penentuan dalam kepemimpinan Wali Kota Supian Suri dan Wakil Wali Kota Chandra Rahmansyah. Menurutnya, masyarakat tidak lagi menunggu janji, melainkan menagih hasil dan keberpihakan.
“Refleksi bukan sekadar mengenang apa yang telah dilakukan, tetapi mengukur keberanian kita menepati janji. Tahun 2026 adalah masa pembuktian, apakah Depok Maju benar-benar hadir dalam kebijakan dan pelayanan publik, atau hanya berhenti sebagai slogan politik,” ujar H. Acep Azhari, pada Kamis (1/1/2026).
Ia menekankan bahwa terpilihnya Supian Suri – Chandra Rahmansyah bukanlah akhir dari sebuah perjuangan politik, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk mengelola kota dengan dinamika yang semakin kompleks. Pertumbuhan penduduk, tekanan ekonomi keluarga, persoalan sosial perkotaan, hingga tuntutan kualitas pelayanan publik menuntut kepemimpinan yang tidak hanya cepat, tetapi juga tepat, adil, dan berkelanjutan.
Dalam catatan BARESS, sejumlah perubahan positif mulai dirasakan masyarakat sejak awal masa kepemimpinan tersebut. Upaya pembenahan pelayanan publik terus dilakukan, komunikasi pemerintah dengan warga dinilai semakin terbuka, serta ruang dialog dan partisipasi masyarakat mulai diperluas. Perhatian terhadap sektor pendidikan, sosial, kepemudaan, dan penguatan ekonomi kerakyatan, khususnya UMKM, juga menunjukkan arah kepemimpinan yang lebih membumi.
Namun demikian, Jiacep mengingatkan bahwa capaian awal tersebut belum cukup untuk menjawab tantangan besar ke depan. Konsistensi kebijakan dan keberlanjutan program menjadi kunci agar perubahan tidak berhenti di tengah jalan.
“Pembangunan sejati tidak boleh diukur semata dari beton dan aspal. Ukurannya adalah manusia. Anak-anak harus memperoleh pendidikan yang lebih baik, pelaku UMKM diberi ruang tumbuh yang adil, dan masyarakat harus merasa dilibatkan dalam menentukan arah kota,” tegasnya.
Lebih lanjut, Jiacep menekankan pentingnya kolaborasi sebagai fondasi utama pembangunan Depok. Pemerintah, relawan, dan masyarakat harus berjalan seiring dalam satu visi besar. Dalam konteks itu, BARESS menegaskan posisinya sebagai mitra kritis pemerintah kota.
“Kami mendukung dengan tulus, tetapi juga mengawal dengan keberanian. Kami mengingatkan dengan etika. Loyalitas relawan bukan pada kekuasaan, melainkan pada harapan dan kepentingan rakyat,” katanya.
Memasuki 2026, BARESS mendorong agar pembangunan fisik di Kota Depok berjalan seiring dengan pembangunan karakter, budaya, dan nilai kebersamaan. Tanpa keseimbangan tersebut, kemajuan justru berpotensi melahirkan kesenjangan sosial dan menjauhkan pemerintah dari warganya.
Menatap ke depan, H. Acep Azhari menegaskan bahwa tahun 2026 harus dijadikan sebagai momentum konsolidasi arah pembangunan jangka panjang. Depok tidak boleh dibangun dengan logika jangka pendek, tetapi harus disiapkan sebagai kota yang berdaya saing, berkarakter, dan manusiawi bagi generasi mendatang.
“Depok Maju harus dimaknai sebagai komitmen bersama untuk membangun kota yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. Kepemimpinan kolaboratif diuji di sini mampu menyatukan pemerintah, relawan, dan masyarakat dalam satu tujuan besar,” ujarnya.
Tak hanya itu, Ia menambahkan, BARESS akan terus memastikan semangat Depok Maju tetap berada di rel yang benar. Tidak sekadar mengiringi kekuasaan, tetapi menjaga agar arah pembangunan tetap sejalan dengan aspirasi rakyat.
“Jika hari ini kita jujur dalam refleksi, kuat dalam kolaborasi, dan konsisten dalam kerja nyata, maka Depok tidak hanya akan maju secara fisik, tetapi juga matang sebagai kota yang membanggakan, berkeadilan, dan layak diwariskan kepada generasi masa depan,” tutupnya.
Dengan demikian, tahun 2026 menjadi tahun penentuan. Apakah refleksi benar-benar melahirkan perubahan nyata, atau sekadar menjadi catatan yang kembali dilupakan. Di titik inilah Depok Maju berdiri di ambang pembuktian. (el’s)




