Depok | Sketsa Online – Hitung mundur perhelatan budaya Lebaran Depok 2026 kian dekat. Tiga hari lagi, tepatnya Selasa, 5 Mei 2026, masyarakat akan disuguhkan rangkaian kegiatan tradisional sarat makna yang berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 17.00 WIB di Kecamatan Tapos, Kecamatan Cipayung, dan Kecamatan Sawangan.
Salah satu agenda utama yang paling dinanti adalah tradisi ngubek empang. Kegiatan khas ini mengajak warga turun langsung ke empang untuk menangkap ikan secara bersama-sama, sebuah pengalaman yang menghadirkan keseruan sekaligus mempererat kebersamaan.
Lebih dari sekadar hiburan, ngubek empang menjadi sarana edukasi budaya yang menanamkan nilai kesederhanaan, kesetaraan, serta kedekatan manusia dengan alam. Tradisi ini juga merefleksikan pentingnya menjaga lingkungan sebagai sumber kehidupan, sekaligus membuka peluang perputaran ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Ketua Panitia Lebaran Depok, H. Hamzah S.E., M.M, menegaskan bahwa Lebaran Depok merupakan ruang kolektif untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang mulai tergerus oleh perkembangan zaman.
“Ini adalah rumah kita bersama. Mari kita tumpah ruah, meramaikan, dan merawat tradisi yang sudah menjadi bagian dari jati diri masyarakat Depok,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).
Menurutnya, setiap rangkaian kegiatan dalam Lebaran Depok memiliki filosofi yang mendalam. Dalam tradisi ngubek empang, misalnya, tercermin nilai kesetaraan sosial, di mana seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang, berbaur dalam satu ruang kebersamaan dan kegembiraan.
Selain itu, tradisi ngaduk dodol juga menjadi simbol kuat gotong royong. Proses memasak yang membutuhkan waktu panjang, tenaga, dan kekompakan mencerminkan bahwa hasil yang baik hanya dapat dicapai melalui kerja sama dan kesabaran.
“Di situ ada nilai kebersamaan, ketekunan, dan saling percaya. Ini yang ingin kita wariskan, bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga prosesnya,” jelas H. Hamzah.
Lebaran Depok 2026 juga dirancang sebagai ruang edukasi lintas sektor. Kehadiran bazar UMKM menjadi bagian penting dalam memperkenalkan ekonomi berbasis budaya. Produk-produk lokal yang ditampilkan tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga merepresentasikan identitas serta kreativitas masyarakat.
“Budaya dan ekonomi tidak bisa dipisahkan. Ketika tradisi hidup, maka ekonomi masyarakat juga ikut bergerak,” tambahnya.
Tak hanya itu, untuk memperluas partisipasi masyarakat, panitia turut menghadirkan berbagai kegiatan pendukung, seperti senam massal yang mendorong gaya hidup sehat, pertunjukan palang pintu sebagai ekspresi seni bela diri dan sastra Betawi, hingga hiburan dangdut keluarga yang menjadi ruang rekreasi rakyat. Seluruh rangkaian ini dirancang inklusif, menjangkau semua kalangan dari anak-anak hingga orang tua.
Lebaran Depok 2026 juga diharapkan menjadi ruang pembelajaran terbuka bagi generasi muda. Di tengah arus modernisasi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa identitas budaya merupakan fondasi penting dalam membangun karakter masyarakat.
“Kami ingin anak-anak muda tidak hanya mengenal budaya dari cerita, tetapi mengalaminya langsung. Dari situ akan tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menjaga,” tutur H. Hamzah.
Pelaksanaan kegiatan di tiga kecamatan sekaligus juga menjadi upaya pemerataan akses budaya, sehingga seluruh warga dapat merasakan manfaatnya tanpa harus terpusat di satu lokasi. Hal ini sekaligus memperkuat jejaring sosial antarwilayah di Kota Depok.
Menutup pernyataannya, H. Hamzah kembali mengajak masyarakat untuk hadir dan berpartisipasi aktif dalam perhelatan tersebut.
“Kami ingin Lebaran Depok menjadi milik bersama. Buat warga Depok, Ayo, ajak keluarga, rasakan kebersamaan, dan jadilah bagian dari tradisi. Karena ketika kita tumpah ruah di ‘rumah kita’, di situlah budaya hidup, tumbuh, dan diwariskan,” tutupnya. (el’s)




