Depok | Sketsa Online – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Depok terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya pelaksanaan kurban ramah lingkungan melalui gerakan eco-qurban.
Konsep eco-qurban dinilai menjadi langkah strategis untuk menekan timbulan limbah plastik, menjaga kebersihan lingkungan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya higiene dan sanitasi dalam proses pemotongan hewan kurban di kawasan perkotaan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Depok, H. Dadan Rustandi, ST., M.Si., mengatakan Pemerintah Kota Depok terus mendorong masyarakat agar pelaksanaan kurban tidak hanya memenuhi aspek syariat, tetapi juga memperhatikan kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
“Pemerintah Kota Depok terus mendorong masyarakat agar menerapkan penyelenggaraan kurban yang memperhatikan aspek kesehatan masyarakat dan lingkungan melalui berbagai imbauan dan Surat Edaran, yang kemudian diperkuat dengan diterbitkannya Peraturan Wali Kota Depok Nomor 41 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pemotongan Hewan Kurban,” ujarnya pada Selasa (19/5/26).
Menurut Dadan, penerapan eco-qurban menjadi bagian penting dalam membangun budaya kurban yang lebih tertib, sehat, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Meski hingga saat ini belum terdapat data survei kuantitatif khusus terkait tingkat kesadaran masyarakat terhadap konsep kurban ramah lingkungan, hasil monitoring lapangan menunjukkan adanya peningkatan perhatian dari panitia kurban maupun masyarakat.
“Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat, pelaksanaan kurban kini mulai diarahkan menjadi lebih tertib, bersih, dan ramah lingkungan. Hal itu terlihat dari semakin banyak panitia kurban yang mulai memperhatikan pengelolaan limbah serta penggunaan wadah distribusi daging yang lebih ramah lingkungan,” kata Dadan Rustandi.
Ia menjelaskan, perubahan tersebut mulai terlihat dari penggunaan wadah distribusi daging non-plastik sekali pakai di sejumlah lokasi pemotongan hewan kurban.
Tak hanya itu, panitia kurban juga mulai meningkatkan perhatian terhadap kebersihan area pemotongan, termasuk penyediaan septic tank maupun lubang penampungan limbah sementara guna mengurangi dampak pencemaran lingkungan.
Namun demikian, DKP3 menilai masih terdapat sejumlah tantangan dalam membangun budaya kurban ramah lingkungan di kawasan perkotaan seperti Kota Depok.
Salah satu tantangan terbesar adalah perbedaan tingkat pemahaman dan kesiapan masing-masing panitia kurban dalam menerapkan pengelolaan lingkungan yang baik.
“Di wilayah perkotaan, pelaksanaan pemotongan hewan kurban umumnya dilakukan di area terbatas dan berdekatan dengan permukiman warga. Kondisi tersebut membuat pengelolaan limbah, kebersihan lokasi, saluran pembuangan, hingga pengurangan penggunaan plastik menjadi tantangan tersendiri,” jelasnya.
Selain persoalan teknis, perubahan kebiasaan masyarakat juga dinilai membutuhkan proses edukasi yang berkelanjutan.
Karena itu, DKP3 terus melakukan pembinaan dan pendampingan teknis kepada panitia kurban agar pelaksanaan kurban tidak hanya sesuai syariat, tetapi juga memperhatikan higiene sanitasi, kesehatan masyarakat, kesejahteraan hewan, serta kelestarian lingkungan.
Secara umum, antusiasme panitia kurban, DKM masjid, dan komunitas masyarakat dalam mendukung gerakan pengurangan sampah plastik dinilai cukup baik.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah panitia mulai mencari alternatif wadah distribusi daging yang lebih ramah lingkungan, seperti penggunaan besek bambu maupun plastik yang lebih mudah terurai.
“Peningkatan perhatian terhadap kebersihan lokasi pemotongan, termasuk penyediaan septic tank dan lubang penampungan limbah sementara, menjadi indikator meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan dalam pelaksanaan kurban,” tambah Dadan Rustandi.
Lebih lanjut, untuk mengukur keberhasilan edukasi eco-qurban, DKP3 melakukan evaluasi melalui kegiatan monitoring dan pengawasan lapangan oleh petugas.
Pengawasan tersebut mencakup penerapan higiene sanitasi, kebersihan lokasi pemotongan, pengelolaan limbah, hingga penggunaan wadah distribusi daging yang lebih ramah lingkungan.
Menutup pernyataannya, Dadan berharap gerakan eco-qurban dapat menjadi budaya baru di tengah masyarakat Kota Depok, sehingga pelaksanaan kurban tidak hanya membawa nilai ibadah, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
“Ke depan, DKP3 berharap gerakan eco-qurban dapat menjadi budaya baru di tengah masyarakat Kota Depok, sehingga pelaksanaan kurban tidak hanya membawa nilai ibadah, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan,” tutupnya. (el’s)




