Depok | Sketsa Online – Sejumlah aktivis senior di Kota Depok menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan Flyover Margonda. Mereka menegaskan bahwa proyek strategis tersebut harus dipandang sebagai kebutuhan masyarakat luas, bukan sebagai alat politisasi. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah deklarasi di kediaman Wali Kota Depok, pada Jumat (21/11).
Kasno, salah satu aktivis yang dikenal vokal, menyebut flyover Margonda sebagai terobosan yang telah lama ditunggu. Ia menilai kemacetan di Margonda sudah berlangsung bertahun-tahun, sehingga menghadirkan solusi konkret merupakan langkah mendesak.
“Flyover ini bukan proyek biasa. Ini solusi nyata bagi kemacetan Depok. Warga sudah menunggu langkah seperti ini sejak lama,” ujarnya.
Ia juga menyoroti munculnya sejumlah penolakan terhadap proyek tersebut. Menurutnya, kritik adalah hal wajar sepanjang disampaikan secara objektif.
“Silakan kritik, tapi yang objektif. Jangan didasarkan pada rasa suka atau tidak suka. Depok ini butuh solusi, bukan drama politik,” katanya.
Lebih lanjut, terkait pembiayaan proyek melalui skema pinjaman, Kasno menyebut Pemkot Depok telah melakukan kajian yang matang. Menurutnya, keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi fiskal daerah.
“Pemkot punya tim ahli. Kajian sudah dilakukan, dan pinjaman ini disebut tidak membebani APBD. Jadi, informasi harus diluruskan agar tidak menimbulkan bias,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Partai Buruh, Wido Praktino, menilai proyek flyover ini seharusnya menjadi pintu masuk untuk penataan transportasi yang lebih luas di Depok. Ia menyoroti sejumlah titik kemacetan lain seperti Cisalak yang memerlukan perhatian serupa.
“Depok ini penyumbang pajak kendaraan motor yang cukup besar di Jawa Barat. Wajar kalau warga meminta peningkatan infrastruktur. Cisalak, misalnya, sudah sangat padat. Ini perlu jadi perhatian provinsi untuk rencana penataan berikutnya,” ujarnya.
Kemudian, Wido mengajak masyarakat untuk melihat proyek infrastruktur secara jernih, tanpa terjebak pada polarisasi politik.
“Cukup dengan pembelahan 01-02. Ini bukan soal kubu, ini soal kebutuhan warga. Kalau programnya baik, kita dukung. Kalau kurang, kita beri masukan. Yang penting Depok maju dan macet berkurang,” tegasnya.
Selain dukungan terhadap pembangunan flyover, para aktivis juga meminta proses komunikasi publik dari pemerintah dilakukan secara terbuka agar tidak memunculkan kesalahpahaman di masyarakat. Mereka menilai transparansi menjadi kunci untuk menghindari persepsi politisasi dan memperkuat kepercayaan publik.
Dengan deklarasi ini, para aktivis menegaskan bahwa pembangunan Flyover Margonda harus menjadi langkah awal dari transformasi besar transportasi perkotaan di Depok.
Mereka berharap proyek tersebut tidak hanya mengurai kemacetan, tetapi juga membuka jalan bagi sistem mobilitas yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan mewujudkan Depok sebagai kota yang lebih nyaman, teratur, dan layak huni bagi generasi mendatang. (el’s)




