Depok | Sketsa Online – Di tengah krisis keteladanan dan meningkatnya tuntutan etika di ruang publik, peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW kembali menjadi rujukan nilai yang relevan. Bagi Hj. Qonita Luthfiyah, Isra Mi’raj bukan sekadar peringatan keagamaan, melainkan fondasi moral yang membentuk sikap hidup, pilihan pengabdian, serta komitmennya kepada masyarakat dan bangsa.
Tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama, Qonita sejak dini dibesarkan dengan keyakinan bahwa agama harus hadir secara nyata dalam kehidupan sosial. Ibadah tidak hanya memperkuat hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga menumbuhkan tanggung jawab moral terhadap sesama.
“Isra Mi’raj mengajarkan keseimbangan antara ketaatan kepada Allah dan kepedulian kepada manusia. Dua hal ini harus berjalan seiring,” ujar Qonita pada Jumat (16/1/26).
Ia memaknai perintah salat lima waktu yang diterima Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra Mi’raj sebagai pendidikan karakter yang lintas zaman. Salat, kata dia, menjadi sarana pembentukan disiplin, kejujuran, serta kesadaran akan amanah nilai yang mutlak dibutuhkan dalam kepemimpinan.
“Salat melatih kita untuk tertib, jujur, dan bertanggung jawab. Jika nilai-nilai itu dijalankan dengan sungguh-sungguh, maka keadilan akan menjadi sikap hidup,” tuturnya.
Dalam menentukan jalan pengabdian, termasuk keputusannya terjun ke dunia politik, Qonita menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai sumber inspirasi utama. Ia memandang Rasulullah sebagai sosok pemimpin paripurna yang memadukan kepemimpinan spiritual dan sosial dengan akhlak mulia serta kebijaksanaan.
“Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin agama sekaligus pemimpin bangsa yang disegani karena akhlaknya. Keteladanan itulah yang menginspirasi saya untuk mengambil peran dalam politik,” ungkapnya.
Selain keteladanan Rasulullah SAW, peran orang tua juga menjadi fondasi penting dalam membentuk etika dan pandangan politiknya. Qonita menuturkan bahwa ayahnya secara konsisten menanamkan nilai kesantunan, kejujuran, dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah publik.
“Orang tua saya selalu mengingatkan agar politik dijalani dengan adab dan niat pengabdian,” katanya.
Sebagai putri tokoh nasional Prof. KH. Syukron Ma’mun, Qonita menjadikan teladan sang ayah sebagai motivasi untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara. Namun demikian, ia menegaskan tidak pernah menjadikan nama besar keluarga sebagai sandaran, apalagi alat dalam kontestasi politik.
Lebih lanjut, Ia memilih membangun kepercayaan masyarakat melalui kerja nyata dan kedekatan sosial. Menurutnya, legitimasi politik hanya akan kuat jika lahir dari integritas dan rekam jejak pengabdian yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Saya diajarkan untuk tidak membawa nama orang tua dalam politik. Jika dipercaya, itu harus karena kerja dan komitmen kepada masyarakat,” tegasnya.
Kesadaran akan amanah menjadi prinsip utama yang terus ia jaga dalam setiap peran yang dijalani. Qonita meyakini bahwa setiap tanggung jawab publik tidak hanya dipertanggungjawabkan di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT.
Melalui momentum Isra Mi’raj, ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, menjadikan peristiwa ini sebagai ruang refleksi nilai. Ia berharap semangat ibadah, kedisiplinan, kejujuran, dan kepedulian sosial dapat terus hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Jika nilai-nilai Isra Mi’raj benar-benar dijadikan pedoman, maka akan lahir generasi yang beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab. Inilah fondasi kepemimpinan yang dibutuhkan bangsa,” ungkap politisi perempuan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut. (el’s)




