Depok | Sketsa Online – Kota Depok kembali menghadirkan magnet kuliner terbaru dengan dibukanya Durian Seeker di kawasan Godong Ijo, Cinangka Raya Km. 10 No. 60, Bojongsari, Depok.
Hadir sebagai destinasi premium bagi para penikmat durian dan buah eksotis, tempat ini langsung menyita perhatian publik sejak hari pertama beroperasi.
Dalam grand opening yang berlangsung meriah, para pendiri Durian Seeker memaparkan visi besar mereka mengangkat derajat durian Indonesia ke level tertinggi, memperkuat ekosistem petani, dan menghadirkan edukasi yang selama ini sulit ditemukan di industri buah eksotis.
CEO Godong Ijo, Chandra Gunawan Hendarto, membuka acara dengan penuh optimisme.
“Sekarang ini teman-teman banyak yang jadi perwira swasta, mudah-mudahan semuanya bisa mendukung tempat ini,” ujarnya saat menyapa para tamu pada Jumat (12/12).
Chandra menegaskan bahwa Durian Seeker akan menjadi pusat buah eksotis yang lengkap dan berkelanjutan.

“Kita mimpinya bukan cuma durian aja, tapi akan ada buah-buah eksotis lainnya. Jadi teman-teman bisa supply dan kita bantu menjualkan di sini,” jelasnya.
Meski masih dalam tahap penyempurnaan karena baru beroperasi satu minggu, ia memastikan pengunjung akan mendapat pengalaman yang berbeda dari tempat lain.
“Ada yang istimewa nanti, pizza durian. Semua orang bisa mencoba karena durian yang kita sajikan benar-benar oke,” tegasnya, menegaskan kualitas premium yang ingin dihadirkan Durian Seeker.
Tokoh komunitas durian, Sigit Purwanto, turut memperkuat nilai Durian Seeker melalui pengalamannya selama delapan tahun berkecimpung dalam industri durian dari tingkat petani hingga pasar internasional.

“Durian Sumatera sudah menjadi komoditas internasional, nilai ekspornya paling tinggi di dunia sama dengan montong dan lainnya,” ungkapnya.
Sigit memaparkan besarnya potensi pendapatan bagi petani jika industri durian dikelola dengan baik.
“Harga di petani berkisar 120 – 200 ribu per kilo. Satu pohon bisa menghasilkan 10 buah sekitar dua kiloan sehingga mencapai 3 juta, dan kalau umur sudah 7 tahun bisa sampai 30 – 40 buah, itu 30 juta per pohon! Sangat membantu petani, terutama para orang tegalan,” katanya.
Ia menyayangkan minimnya perhatian pemerintah terhadap ekosistem durian yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih besar dibanding komoditas sawah.
Sigit juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki potensi varietas durian yang sangat kaya.
“Sebenarnya, Indonesia punya 120 varietas durian unggul di seluruh negeri. Meskipun sekarang pasar lebih mengenal Musang King atau montong dari Thailand, kita sudah membudidayakan beberapa varietas unggul seperti tangking, duri hitam, bawork, dan candi dari Thailand,” jelasnya.
Keunggulan Durian Seeker terletak pada jaringannya yang luas, memungkinkan tempat ini menyajikan durian terbaik dari seluruh Nusantara sesuai musimnya mulai dari Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi.
“Inovasi kita berbeda dengan platform lain, kita lebih memberikan edukasi. Kita punya jaringan luas di seluruh Indonesia, jadi bisa bawa durian unggul apa saja ke sini,” ujar Sigit.
Kolaborasi unik seperti pizza durian turut dihadirkan sebagai bentuk inovasi untuk memperluas kreativitas kuliner durian.
“Kita mau buka wawasan bahwa durian bisa diolah jadi hal yang baru dan menarik,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ia juga menegaskan pentingnya mencintai produk pertanian lokal agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor.
“Kita harus apresiasi karya pertanian kita sendiri. Tujuan kita agar petani senang, pedagang senang, dan yang beli juga puas,” katanya.

Menurut Sigit, durian Indonesia tidak mengenal musim tunggal.
“Durian ada sepanjang tahun, hanya musimnya bergeser dari Aceh sampai Jayapura,” jelasnya.
Di penghujung acara, salah satu penggagas Durian Seeker mengungkap perjalanan panjang membangun brand komunitas bernama Durian Traveller.
“Saya sudah cukup lama membuat brand ‘Durian Traveller’ yang berbasis komunitas. Kita bareng-bareng berusaha, dan sekarang sudah berjalan dengan cukup berhasil,” tuturnya.
Tak hanya itu, Ia juga menceritakan betapa cepatnya persetujuan kerja sama terwujud hanya dalam dua jam dan proses pembangunan tempat yang selesai dalam tiga hari sesuatu yang biasanya memakan waktu dua bulan.
“Saya kayak ikan mas kehilangan oksigen, tapi berkat dukungan teman-teman komunitas, kita bisa selesai bikin tempat ini cuma dalam tiga hari padahal rata-rata butuh dua bulan! Luar biasa,” ujarnya.
Didukung fasilitas lahan parkir luas yang mampu menampung hingga 150 kendaraan, Durian Seeker dirancang bukan hanya sebagai pusat penjualan durian, tetapi juga ruang berkumpul, pusat edukasi, hingga laboratorium komunitas durian nasional.
“Ada banyak ruangan untuk ngumpul, dan nanti akan ada banyak ahli yang datang berbicara. Semoga setiap minggu kita bisa berkumpul di sini untuk membahas masa depan durian di Indonesia,” tutupnya.
Durian Seeker hadir membawa standar baru dalam menikmati durian. Dengan durian premium dari berbagai daerah, inovasi kuliner yang menggugah rasa, jaringan komunitas yang kuat, dan kenyamanan lokasi yang luas, tempat ini siap menjadi destinasi utama bagi siapa pun yang ingin merasakan kualitas terbaik durian Nusantara.
Durian Seeker bukan sekadar tempat membeli durian ini adalah pusat pergerakan ekonomi durian Indonesia. Tempat di mana edukasi, bisnis, pengalaman, dan cita rasa premium bertemu dalam satu destinasi unggulan, mengukuhkan Depok sebagai rumah baru bagi durian terbaik dari seluruh negeri. (el’s)




