Depok | Sketsa Online – Kegiatan reses sekretaris komisi D DPRD Kota Depok, Siswanto, di lingkungan Pesantren Al Falah, Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, berlangsung penuh antusias.
Berbagai aspirasi masyarakat mengalir dalam dialog bersama warga, mulai dari persoalan retribusi sampah hingga kondisi drainase lingkungan yang dinilai masih membutuhkan perhatian serius dari Pemerintah Kota Depok.
Menariknya, kalangan ibu-ibu menjadi kelompok yang paling aktif menyampaikan aspirasi. Persoalan pengelolaan sampah pun menjadi isu yang paling banyak mendapat sorotan dalam kegiatan tersebut.
Warga menilai besaran retribusi sampah saat ini cukup memberatkan, sementara pengelolaan sampah di Kota Depok dinilai belum berjalan maksimal.
Masyarakat berharap adanya perbaikan nyata dalam sistem pengelolaan sampah agar pelayanan yang diterima sebanding dengan biaya yang dibayarkan.
Menanggapi hal itu, Siswanto mengatakan aspirasi masyarakat terkait retribusi sampah merupakan masukan penting yang harus menjadi perhatian Pemerintah Kota Depok. Menurutnya, masyarakat mulai menunjukkan rasa kecewa terhadap pengelolaan sampah yang hingga kini belum optimal.
“Ini aspirasi yang sangat baik dan penting untuk disampaikan kepada pemerintah kota. Masyarakat mulai merasa kecewa dengan pengelolaan sampah di Kota Depok yang dinilai belum maksimal,” ujar Siswanto pada Jumat (8/5/26).
Meski demikian, politisi PKB itu juga mengajak masyarakat melihat persoalan sampah secara menyeluruh. Ia menilai penanganan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.
Retribusi sampah sebesar Rp25 ribu hingga Rp40 ribu sebenarnya masih tergolong kecil apabila dibandingkan dengan kompleksitas pengelolaan sampah saat ini. Namun di sisi lain, masih banyak masyarakat yang belum disiplin memilah sampah dari rumah.
“Kalau masyarakat ingin retribusi sampah diturunkan, maka kedisiplinan dalam memilah sampah juga harus meningkat. Harus ada keseimbangan antara tuntutan masyarakat dengan kewajiban masyarakat,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pemilahan sampah rumah tangga menjadi salah satu kunci utama dalam menyelesaikan persoalan sampah di Kota Depok. Karena itu, masyarakat diimbau mulai lebih aktif memilah sampah organik maupun sampah yang memiliki nilai ekonomis.
Siswanto juga mendorong agar keberadaan bank sampah kembali diperkuat di lingkungan masyarakat. Sampah yang memiliki nilai ekonomis dapat dikonversi menjadi bentuk insentif bagi warga yang disiplin memilah sampah.
“Bukan tidak mungkin nanti masyarakat yang rajin menyetorkan sampah terpilah bisa mendapatkan keringanan bahkan dibebaskan dari retribusi sampah. Sebaliknya, masyarakat yang masih tidak disiplin bisa dikenakan retribusi lebih tinggi. Ini bisa menjadi bagian dari upaya mendidik masyarakat agar lebih peduli terhadap pengelolaan sampah,” katanya.
Lebih lanjut, selain persoalan sampah, aspirasi lain yang disampaikan warga berasal dari para Ketua RT dan RW di Kelurahan Ratu Jaya terkait kondisi drainase lingkungan yang membutuhkan perbaikan.
Warga mengaku khawatir buruknya saluran air dapat memicu banjir di kemudian hari, meski saat ini wilayah mereka belum mengalami banjir besar seperti di beberapa kawasan lain di Kota Depok.
“Aspirasi soal drainase ini juga menjadi catatan penting bagi saya. Perbaikan saluran air masih membutuhkan perhatian lebih besar agar masyarakat merasa aman dan wilayahnya terbebas dari banjir,” tutur Siswanto.
Menutup pernyataannya, Ia menambahkan, persoalan sampah dan drainase merupakan dua isu lingkungan yang saling berkaitan dan harus diselesaikan melalui kerja sama antara pemerintah dan masyarakat.
“Masalah sampah ini persoalan serius dan harus ditemukan solusi konkretnya. Begitu juga drainase lingkungan. Kalau masyarakat dan pemerintah bisa sama-sama disiplin dan peduli, saya yakin persoalan ini bisa perlahan diselesaikan,” tutupnya. (el’s)




