Depok | Sketsa Online – Tradisi ngubek empang dalam rangkaian Lebaran Depok 2026 tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya yang kaya makna.
Di tengah antusiasme warga yang turun langsung ke empang untuk menangkap ikan, tersimpan proses pembelajaran sosial yang berlangsung secara alami tentang kebersamaan, gotong royong, hingga cara manusia berinteraksi dengan lingkungan.
Sebagai bagian dari tradisi yang berakar pada kehidupan masyarakat Betawi-Depok, ngubek empang mencerminkan pola hidup kolektif yang menjunjung tinggi nilai solidaritas.
Dalam praktiknya, masyarakat diajak untuk terlibat langsung, bekerja sama, dan memahami bahwa hasil yang diperoleh tidak lepas dari usaha bersama.
Wakil Ketua DPRD Kota Depok sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Depok, Hj. Yuni Indriany, menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut menjadikan ngubek empang sebagai media edukasi budaya yang relevan di tengah perkembangan zaman.
“Ngubek empang adalah bentuk pembelajaran yang nyata. Di dalamnya, masyarakat terutama generasi muda belajar tentang gotong royong, kerja keras, kesabaran, dan rasa syukur. Nilai-nilai ini tidak diajarkan secara teoritis, tetapi dialami langsung,” ujar Hj. Yuni usai mengikuti ngubek empang di Setu Pengasinan, Sawangan, Depok pada Selasa (5/5/26).
Ia menjelaskan bahwa dalam konteks budaya lokal, tradisi ini juga mengajarkan hubungan yang seimbang antara manusia dan alam. Empang sebagai ruang aktivitas bukan hanya dimaknai sebagai tempat mencari hasil, tetapi juga sebagai simbol keberlanjutan yang harus dijaga bersama.
“Ada nilai ekologis yang bisa dipetik. Masyarakat diajak untuk memahami bahwa sumber daya alam harus dimanfaatkan secara bijak dan dijaga keberlangsungannya,” jelasnya.
Lebaran Depok 2026, menurut Hj. Yuni, menjadi momentum penting dalam mengemas tradisi sebagai sarana pembelajaran yang inklusif. Kegiatan seperti ngubek empang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga partisipatif, sehingga masyarakat dapat mengalami langsung proses budaya tersebut.
“Edukasi budaya yang efektif adalah yang melibatkan pengalaman. Ketika masyarakat terlibat langsung, maka nilai-nilai itu akan lebih mudah dipahami dan diingat,” tambahnya.
Antusiasme warga yang tinggi menunjukkan bahwa pendekatan edukatif melalui tradisi masih sangat relevan. Ribuan masyarakat yang hadir tidak hanya menikmati suasana, tetapi juga terlibat dalam praktik budaya yang memperkuat rasa kebersamaan.
Tak hanya itu, di sisi lain, kegiatan ini juga memberikan dampak nyata terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Kehadiran pelaku UMKM di sekitar lokasi menjadi bagian dari ekosistem budaya yang saling mendukung, di mana tradisi tidak hanya dilestarikan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi.
Menutup pernyataannya, Hj. Yuni menekankan bahwa pelestarian budaya harus dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak, agar tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata.
“Budaya akan tetap hidup jika diwariskan melalui pengalaman. Ngubek empang adalah contoh bagaimana tradisi bisa menjadi ruang belajar yang membentuk karakter masyarakat,” tegasnya.
Dengan pendekatan edukatif yang kuat, tradisi ngubek empang diharapkan terus menjadi bagian dari identitas Kota Depok bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi mendatang. (el’s)




