Depok | Sketsa Online – Bagi Legislator PPP Depok, Hj. Qonita Lutfiyah, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan momentum refleksi untuk menjaga dan menunaikan amanah rakyat.
Di bulan penuh berkah ini, ia memaknai puasa sebagai ruang penyucian niat, penguatan integritas, serta peneguhan komitmen pengabdian kepada masyarakat. Ramadan juga menjadi titik keseimbangan antara perannya sebagai perempuan, santri, dan wakil rakyat.
Menurut Qonita, puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri secara menyeluruh menahan amarah, menjaga lisan, serta membersihkan hati dari prasangka dan kepentingan pribadi. Nilai-nilai tersebut, kata dia, sangat relevan dalam dunia politik yang sarat dinamika dan godaan kepentingan.
“Ramadan adalah madrasah kehidupan. Kita belajar menahan diri, menjaga lisan, dan meluruskan niat. Sebagai wakil rakyat, itu sangat penting agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar berangkat dari kepentingan masyarakat,” ujarnya pada Kamis (20/2/26).
Ia menambahkan, hikmah puasa juga menumbuhkan empati sosial yang lebih dalam. Saat merasakan lapar dan dahaga, seorang pemimpin diingatkan untuk peka terhadap kesulitan masyarakat kecil. Dari sanalah lahir kepekaan dalam merumuskan kebijakan yang adil dan berpihak.
“Ramadan mengajarkan kita untuk lebih peduli. Ketika kita merasakan keterbatasan, kita belajar memahami perjuangan masyarakat yang setiap hari menghadapi tantangan ekonomi dan sosial. Empati itu harus tercermin dalam setiap keputusan,” katanya.
Latar belakang pendidikan pesantren, lanjutnya, memberikan bekal moral yang kuat dalam menghadapi dinamika politik. Tradisi santri membentuk keteguhan nilai, kesederhanaan, kedisiplinan ibadah, serta kepekaan sosial yang terus ia pegang, terlebih saat Ramadan yang menjadi momentum memperkuat nilai-nilai tersebut.
“Nilai keikhlasan dan amanah yang diajarkan di pesantren selalu saya ingat. Jabatan bukan soal kedudukan, melainkan tanggung jawab. Ramadan mengingatkan saya untuk tetap rendah hati dan dekat dengan rakyat,” tuturnya.
Nilai-nilai tersebut juga diperkuat oleh pesan orang tuanya sejak dini. Ia mengungkapkan, orang tuanya selalu menegaskan bahwa jabatan adalah amanah yang di dalamnya melekat hak-hak masyarakat yang wajib ditunaikan.
“Orang tua saya berpesan, ketika diberi jabatan, di situ ada hak rakyat yang harus dipenuhi dengan sungguh-sungguh. Pesan itu yang selalu saya pegang hingga hari ini,” ujarnya.
Hj. Qonita mengungkapkan, kesucian Ramadan juga mengandung nilai muhasabah atau evaluasi diri. Bulan suci ini menjadi ruang untuk menata kembali orientasi pengabdian, memastikan bahwa setiap langkah dan kebijakan tetap berada di jalur keadilan dan kemaslahatan.
Spirit tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) menjadi pengingat agar kekuasaan tidak menjauhkan diri dari nilai moral dan tanggung jawab spiritual.
Tak hanya itu, sebagai perempuan di dunia politik, Qonita mengakui tantangan yang dihadapi tidak ringan. Namun, Ramadan menjadi momentum evaluasi diri untuk memastikan integritas dan keberpihakan tetap terjaga.
“Perempuan harus berani hadir dan mengambil peran, tetapi tetap menjaga nilai. Ramadan menjadi momen untuk bertanya, apakah kita sudah adil, sudah berpihak kepada yang lemah, dan sudah menjaga kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengajak perempuan, santri, generasi muda, serta seluruh lapisan masyarakat menjadikan Ramadan sebagai titik penguatan karakter dan kepedulian sosial. Bulan suci ini merupakan momentum kolektif untuk memperbaiki diri dan memperkuat ketaatan kepada Allah SWT.
Qonita menegaskan bahwa hikmah Ramadan harus diimplementasikan dalam kehidupan nyata, tidak berhenti pada ibadah personal semata. Nilai sabar, syukur, kejujuran, disiplin, dan solidaritas sosial yang dilatih selama berpuasa perlu diwujudkan dalam sikap sehari-hari baik dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
“Ramadan adalah waktu terbaik untuk refleksi. Kita diajak melihat kembali diri kita, sudah sejauh mana ketaatan kita, sudah seberapa besar kepedulian kita terhadap sesama. Jangan sampai Ramadan berlalu tanpa meninggalkan perubahan,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai titik balik untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Swt. sekaligus mempererat hubungan sosial. Ibadah puasa mengajarkan keseimbangan antara habluminallah (hubungan dengan Allah) dan habluminannas (hubungan dengan sesama manusia).
“Kalau selama Ramadan kita bisa lebih sabar, lebih jujur, lebih disiplin, maka setelah Ramadan pun harus tetap seperti itu. Justru di situlah keberhasilan Ramadan, ketika nilainya terus hidup dalam keseharian kita,” katanya.
Hj. Qonita juga menekankan pentingnya membangun budaya introspeksi dan taubat yang sungguh-sungguh. Ramadan adalah bulan pengampunan dan perbaikan diri. Setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan memperkuat komitmen menjadi pribadi yang lebih taat, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab.
“Ramadan mengajarkan kita untuk tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan ego, menahan amarah, serta menjauhkan diri dari perbuatan yang merugikan orang lain. Jika itu kita lakukan bersama, saya yakin masyarakat kita akan semakin kuat dan harmonis,” tegasnya.
Ia pun berharap semangat Ramadan mampu melahirkan perubahan yang nyata, baik dalam skala pribadi maupun sosial. Menurutnya, perubahan besar selalu dimulai dari perubahan diri.
“Perkuat integritas, jaga kejujuran, dan tingkatkan empati. Dengan karakter yang kokoh, generasi muda harus percaya diri mengambil peran sebagai bagian dari solusi bagi bangsa. Jika nilai-nilai itu terus dijaga dengan semangat kebangsaan, saya yakin Depok bisa semakin maju dan lebih baik,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Qonita menegaskan bahwa amanah rakyat bukan sekadar mandat politik, melainkan ibadah yang harus dijaga dengan hati, integritas, dan ketulusan dalam menunaikan hak-hak masyarakat.
Baginya, Ramadan adalah pengingat bahwa setiap jabatan akan dimintai pertanggungjawaban, tidak hanya di hadapan masyarakat, tetapi juga di hadapan Allah Swt. (el’s)




