Depok | Sketsa Online – Ketua Tim Penggerak PKK Kota Depok periode 2025 sekaligus istri Wali Kota Depok Supian Suri, Siti Barkah Hasanah, yang akrab disapa Cing Ikah, mengapresiasi meriahnya penyelenggaraan Lebaran Depok 2026 yang digelar di Alun-alun GDC, Kota Depok.
Kegiatan budaya tahunan tersebut tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga menjadi media kebersamaan, kekeluargaan, dan ruang edukasi budaya bagi generasi muda di tengah derasnya perkembangan teknologi digital.
Cing Ikah mengatakan tema “Depok Rumah Kita” yang diusung pada Lebaran Depok tahun ini memiliki makna mendalam bagi seluruh masyarakat Kota Depok tanpa memandang latar belakang.
“Artinya bahwa siapa pun warga Depok yang tinggal di Kota Depok berarti menjadi rumah untuk kita semua. Ini media kebersamaan, media kekeluargaan sebagai wujud harapan kita merasakan Depok adalah rumah kita,” ujarnya saat ditemui usai acara pada Sabtu (9/5/26).
Menurutnya, budaya yang diwariskan oleh para leluhur harus terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda sejak dini. Ia menjelaskan, orang tua zaman dahulu telah meninggalkan warisan sejarah dan kesenian yang harus terus hidup di tengah masyarakat modern saat ini.
“Kenapa orang tua kita dulu melestarikan budaya? Karena dulu belum ada gadget, belum ada YouTube, belum ada Facebook, belum ada media sosial seperti sekarang. Saya tadi berpikir orang tua kita dulu sudah menitipkan sejarah kepada kita bagaimana menikmati kesenian budaya untuk dinikmati generasi kita ke depan,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Cing Ikah mengaku terharu melihat antusiasme anak-anak yang menyaksikan berbagai pertunjukan budaya Nusantara selama pelaksanaan Lebaran Depok.
“Saya melihat banyak anak-anak sampai berkaca-kaca melihat kesenian berbagai budaya Indonesia ini. Artinya dengan adanya Lebaran Depok mudah-mudahan bisa menghentikan anak-anak muda, khususnya anak-anak kecil TK dan SD, bermain handphone terus,” katanya.
Ia berharap kegiatan budaya seperti Lebaran Depok dapat menjadi ruang alternatif bagi anak-anak untuk belajar mengenal budaya secara langsung, berinteraksi dengan lingkungan sekitar, serta membangun rasa cinta terhadap identitas bangsa.
Lebih lanjut, Cing Ikah mengungkapkan, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui pertunjukan seni, tetapi juga perlu dihadirkan melalui aktivitas yang melibatkan anak-anak secara langsung. Karena itu, ia mengusulkan agar pada penyelenggaraan Lebaran Depok tahun mendatang disediakan zona atau ruang khusus permainan tradisional.
“Kedepan saya mengusulkan nanti ada space atau tenda khusus. Anak-anak diberikan ruang bermain tradisional, sehingga ketika berkunjung ke wisata Lebaran Depok mereka bisa bermain ke arah yang kita butuhkan akan datang,” ungkapnya.
Ia menilai permainan tradisional memiliki nilai pendidikan yang penting karena mengajarkan kebersamaan, interaksi sosial, gotong royong, hingga membangun kreativitas anak di luar penggunaan gadget.
Selain itu, Cing Ikah juga menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Depok saat ini telah membentuk Gabungan Organisasi Anak (GOA) Depok yang terdiri dari berbagai komunitas dan duta anak muda seperti Duta Baca, Duta Genre, Duta Literasi, hingga Duta Pancasila.
“Nah kita gabungkan anak muda ini untuk menggalakkan bagaimana tradisi itu bisa digalakkan,” jelasnya.
Melalui wadah tersebut, Pemerintah Kota Depok ingin mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga tradisi, budaya, literasi, hingga nilai-nilai kebangsaan agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Menutup pernyataannya, Cing Ikah berharap Lebaran Depok dapat terus berkembang menjadi agenda budaya tahunan yang bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mampu membentuk karakter generasi muda Kota Depok agar tetap mencintai budaya Indonesia.
“Harapan saya, Lebaran Depok bukan hanya menjadi acara tahunan, tetapi benar-benar menjadi ruang anak-anak kita mengenal budaya, belajar kebersamaan, dan mencintai identitas bangsanya sendiri. Kalau budaya terus hidup di hati generasi muda, Insyaallah Depok akan semakin maju tanpa kehilangan jati dirinya,” tutupnya. (el’s)




