Depok | Sketsa Online – Rutan Kelas I Depok menjadi lokasi pembelajaran observasi lapangan bagi mahasiswa Universitas Indonesia pada Jumat (05/12).
Kegiatan akademik ini menghadirkan mahasiswa S-2 Kriminologi FISIP UI dan mahasiswa S-1 Psikologi dari Fakultas Psikologi UI sebagai bagian dari upaya penguatan kompetensi melalui pengalaman pembelajaran berbasis praktik langsung di lapangan.
Rombongan mahasiswa disambut oleh Kepala Rutan Kelas I Depok, Agus Imam Taufik, yang didampingi para pejabat struktural Rutan. Hadir pula para dosen pembimbing yang mengawal langsung proses akademik di lapangan, di antaranya Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Drs. Adrianus Eliasta Meliala, serta Dosen Psikologi Forensik, Nathanael Elnadus Johanes Sumampouw.

Kehadiran para akademisi tersebut mempertegas komitmen UI dalam menghadirkan pengalaman belajar aplikatif, tidak hanya berbasis teori.
Sebanyak 62 mahasiswa terlibat dalam kegiatan ini dengan tujuan memperluas pemahaman mengenai sistem pemasyarakatan modern serta dinamika perilaku warga binaan. Pihak rutan menyambut baik kolaborasi ini.
Dalam sambutannya, Kepala Rutan, Agus Imam Taufik menyampaikan apresiasinya dan menegaskan bahwa kunjungan akademik semacam ini penting untuk membuka pemahaman publik mengenai pembinaan di lembaga pemasyarakatan.
“Sinergi antara lembaga pemasyarakatan dan institusi pendidikan harus terus diperkuat agar masyarakat, khususnya akademisi, memahami bagaimana pembinaan modern dijalankan dan bagaimana proses reintegrasi sosial dipersiapkan,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Adrianus turut mengapresiasi kesempatan kolaborasi tersebut. Ia menegaskan pentingnya mahasiswa melihat realitas pemasyarakatan secara langsung.
“Bagi mahasiswa kriminologi dan psikologi, pengalaman lapangan seperti ini tidak tergantikan. Mereka tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga memahami dinamika manusia di tempat seperti ini,” ungkapnya.

Setelah sesi pembukaan di Aula Gedung 3, rombongan diarahkan mengelilingi sejumlah area pembinaan, termasuk produksi kopi, kerajinan siluet, fasilitas pangkas rambut, dapur rutan, serta ruang pendidikan PKBM.
Program-program ini menunjukkan bagaimana warga binaan diberdayakan melalui aktivitas produktif yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan, kepercayaan diri, sekaligus mempersiapkan mereka kembali ke masyarakat.
Perjalanan akademik kemudian dilanjutkan dengan sesi wawancara terstruktur. Mahasiswa dibagi ke dalam kelompok kecil dan melakukan diskusi langsung dengan para warga binaan.
Sebanyak 39 warga binaan ikut serta, seluruh proses berlangsung dengan pendampingan penuh dari petugas rutan guna memastikan keamanan dan kenyamanan kedua belah pihak.
Sementara itu, salah satu mahasiswa UI mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan pandangan baru tentang kehidupan di balik tembok rutan.
“Kami bisa melihat bagaimana pembinaan dilakukan secara nyata, bukan hanya sebatas teori. Interaksi langsung dengan warga binaan membantu kami memahami motif, perilaku, dan konteks hidup mereka,” ucapnya.
Pengalaman ini juga memperkaya wawasan bagi mahasiswa psikologi forensik dan kriminologi, yang selama ini banyak bersentuhan dengan teori. Melihat langsung dinamika relasi, proses pembinaan, hingga lingkungan pemasyarakatan memberikan pemahaman komprehensif yang tidak didapatkan di ruang kelas.
Kegiatan kunjungan akademik ini berjalan lancar dan berhasil memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pengetahuan mahasiswa.
Selain memperluas wawasan dan pemahaman akademik, kegiatan ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara dunia pendidikan dan lembaga pemasyarakatan dalam membangun perspektif yang lebih lengkap mengenai proses pembinaan serta upaya reintegrasi sosial bagi warga binaan. (el’s)




