Depok | Sketsa Online – ID Festival 2025 yang berlangsung di kawasan Premiere Sukatani, Depok, menghadirkan kemeriahan sejak pagi melalui rangkaian kegiatan yang menggabungkan seni, kreativitas, edukasi sosial, nostalgia, serta pemberdayaan masyarakat.
Ajang yang digelar dalam rangka HUT Info Depok ke-14 ini mendapat dukungan penuh dari PT Akhtar Farzan Wijaya dan White House Premiere.
Ratusan warga, komunitas kreatif, pelaku UMKM, hingga penyandang disabilitas turut memadati area festival. Sejak pagi, pengunjung disuguhi berbagai aktivitas kreatif dan stan UMKM yang menawarkan produk kuliner, fesyen, hingga kerajinan tangan.
Panitia juga menyediakan fasilitas Wi-Fi gratis untuk membantu para pelaku usaha memasarkan produk mereka secara digital, sejalan dengan upaya pemberdayaan UMKM lokal.
Salah satu agenda yang paling mendapat sorotan adalah peresmian komunitas UBI (Unik Berkarya Indonesia), sebuah wadah yang dihadirkan untuk membuka ruang baru bagi penyandang disabilitas dan warga berkebutuhan khusus agar dapat berkarya lebih luas.
Peresmian ini disambut antusias oleh pengunjung sebagai langkah nyata menghadirkan ruang publik yang inklusif.
Owner White House Premiere, H. Rudiman, menegaskan komitmennya untuk memberikan kesempatan yang setara bagi siapa pun yang ingin mengembangkan kreativitas.
“Kami ingin menciptakan ruang yang memberi mereka keberanian untuk tampil dan berkarya. Kreativitas adalah hak semua orang, dan tugas kita memastikan mereka mendapat tempat untuk berkembang,” ujarnya pada Minggu (23/11).
Lebih lanjut, Ia menambahkan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan luar biasa yang selama ini kerap kurang terekspos.
“Ketika mereka diberi kesempatan, hasilnya luar biasa. Mereka mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah batas untuk berkarya, tetapi justru menjadi kekuatan yang menginspirasi,” katanya.
Senada dengan itu, Sang istri, Santi Adriani, turut mengapresiasi semangat para anggota UBI. Ia berharap kampanye anti-bullying yang digaungkan festival ini dapat menggerakkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa bullying harus dilawan. Mereka yang memiliki keterbatasan saja mampu tampil berani. Maka generasi muda harus lebih kuat, lebih percaya diri, dan saling menghargai,” tuturnya.
Festival juga memperkuat pesan anti-bullying melalui penayangan karya kreatif dan penyampaian pesan moral dari sejumlah tokoh yang hadir. Kampanye tersebut menjadi ciri khas festival tahun ini, sekaligus mengajak masyarakat menjunjung nilai saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
Menjelang malam, atmosfer festival semakin hidup dengan persiapan Lomba Busana Jadul yang digadang menjadi acara puncak. Mengusung gaya khas era 70-an hingga 90-an, lomba ini menarik perhatian besar karena hadiah utamanya yang unik: seekor kambing.
Sejak sore, peserta mulai berdatangan dengan membawa kostum terbaik mereka, sementara pengunjung menantikan suasana nostalgia yang diprediksi memeriahkan area festival.
Di sela kegiatan, H. Rudiman kembali menegaskan bahwa setiap program yang didukung pihaknya harus memberi dampak positif bagi masyarakat.
“Kami selalu berusaha meninggalkan sesuatu yang bermanfaat dalam setiap kegiatan. Bahkan dalam proyek-proyek kami, kami berupaya membantu pembangunan fasilitas ibadah atau ruang publik yang bisa digunakan bersama,” ungkapnya.
Dengan perpaduan kreativitas, pesan sosial, dan dukungan komunitas, ID Festival 2025 menjadi momentum penting bagi masyarakat Depok dalam merayakan kebersamaan dan nilai inklusivitas.
Festival ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga gerakan yang membuka ruang bagi siapa pun untuk berkarya tanpa batas. (el’s)




