Depok | Sketsa Online – Polemik dugaan plesiran pejabat RSUD Anugerah Sehat Afiat (ASA) Kota Depok memasuki babak baru setelah pesan berantai berisi daftar nama pejabat serta tangkapan layar jadwal penerbangan mereka viral di berbagai grup WhatsApp pada Jumat (21/11).
Pesan tersebut mencantumkan data yang diklaim sebagai itinerary perjalanan luar negeri sejumlah pejabat rumah sakit pada hari kerja.
Dalam pesan yang beredar, tercantum bahwa 14 aparatur sipil negara (ASN) dari jajaran manajemen RSUD ASA, mulai dari direktur, kepala bidang, hingga kepala seksi, melakukan perjalanan ke Singapura pada Kamis (20/11) dan melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada 21 November 2025. Rombongan itu disebut akan kembali ke Indonesia pada 23 November.

Pesan tersebut juga mencantumkan beberapa nama pejabat secara spesifik, disertai dugaan bahwa perjalanan dilakukan tanpa izin resmi dari Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK), padahal aturan mewajibkan setiap ASN yang keluar negeri untuk tujuan pribadi maupun dinas harus memperoleh izin tertulis.
Kekhawatiran publik semakin menguat setelah beredar tangkapan layar yang diduga sebagai rekam jadwal penerbangan Direktur Utama RSUD ASA, mencantumkan penerbangan Jakarta–Singapura pada 20 November, serta Kuala Lumpur–Jakarta pada 21 dan 23 November 2025.
Tangkapan layar tersebut juga menampilkan kode booking dan detail waktu keberangkatan yang tampak autentik, meski belum dapat diverifikasi kebenarannya.
Seorang sumber internal RSUD ASA yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa memang ada rencana perjalanan luar negeri yang melibatkan sejumlah pejabat. Ia menyebut agenda tersebut dijadwalkan sejak jauh hari, dengan rencana kepulangan pada 23 November 2025.
Namun, menurutnya, agenda itu berubah mendadak setelah informasi perjalanan para pejabat tersebut bocor ke publik. Meski demikian, sumber tersebut tidak dapat memastikan siapa yang benar-benar jadi berangkat dan siapa yang batal.
Di tengah derasnya spekulasi, Direktur Utama RSUD ASA, dr. Enny Ekasari, membantah bahwa pejabat manajemen melakukan plesiran pada hari kerja. Ia mengatakan, “Saya dan jajaran pejabat hadir di kantor pada tanggal yang disebutkan dalam pesan berantai tersebut,” ujarnya.
Dr. Enny menambahkan bahwa memang ada pegawai yang tidak hadir penuh, tetapi disebabkan oleh alasan lain.
“Ada pegawai yang datang terlambat dan beberapa yang sedang menjalani cuti tahunan, tetapi semuanya sudah mengajukan permohonan sesuai prosedur,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ia juga menegaskan bahwa manajemen tidak mencampuri urusan pribadi pegawai. “Kami tidak menelusuri pegawai cuti ke mana, karena itu hak dan privasi masing-masing,” katanya.
Namun, pernyataan tersebut dipandang sebagian publik belum menjawab inti persoalan. Pertanyaan mengenai siapa saja pejabat yang benar-benar hadir penuh di kantor pada 20–21 November, apakah izin bepergian ke luar negeri memang tidak ada, serta kecocokan data penerbangan yang beredar, masih belum terjawab secara eksplisit.
Selain itu, publik juga menyoroti perbedaan antara kronologi yang disebut sumber internal dan bantahan resmi manajemen. Ketidaksinkronan itu menimbulkan spekulasi bahwa ada informasi yang belum dibuka secara utuh oleh pihak rumah sakit.
Pihak RSUD ASA hingga kini belum menyampaikan rilis resmi dalam bentuk dokumen atau konferensi pers. Publik pun mendesak adanya klarifikasi menyeluruh, termasuk penjelasan detail mengenai status kehadiran setiap pejabat yang disebutkan, verifikasi atas tangkapan layar yang beredar, serta kejelasan apakah izin perjalanan luar negeri pernah diajukan.
Hingga berita ini diturunkan, manajemen RSUD ASA masih dinantikan untuk menampilkan bukti konkret yang dapat memastikan fakta sebenarnya terkait dugaan perjalanan luar negeri para pejabatnya. (el’s)




