Depok | Sketsa Online – Rangkaian acara Lebaran Depok 2026 tidak hanya menjadi ajang hiburan dan perayaan budaya, tetapi juga ruang edukasi sejarah bagi masyarakat. Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian datang dari Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Depok yang berhasil meraih Juara 1 dalam lomba fashion show bertema retro, Kamis (7/5/2026).
Mengangkat konsep perpaduan budaya Nusantara dan Belanda tempo dulu, tim Imigrasi Depok menghadirkan pertunjukan yang tidak sekadar menampilkan kostum unik, tetapi juga membawa pesan tentang perjalanan sejarah dan identitas Kota Depok yang multikultural.
Dalam penampilannya, salah satu peserta tampil mengenakan kebaya klasik ala Kartini yang merepresentasikan sosok perempuan Nusantara pada masa lampau.
Sementara peserta lainnya menggunakan kostum noni Belanda lengkap dengan gaun pesta khas era 1940-an yang menggambarkan kehidupan masyarakat kolonial di masa tersebut.
Perpaduan dua karakter itu dinilai mampu menghadirkan nuansa nostalgia sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa perkembangan budaya di Depok tidak terlepas dari perjalanan sejarah panjang yang membentuk kota ini hingga sekarang.
Ketua Dharma Wanita Kantor Imigrasi Depok, Nesha Maharani Ayub, mengatakan konsep tersebut terinspirasi dari momentum Hari Kartini dan sejarah Belanda Depok yang menjadi bagian dari identitas budaya Kota Depok.
“Yang satu membawa tema ibu-ibu Kartini zaman dahulu. Saya mendapat ide karena belum lama ini kita masih merayakan Hari Kartini, jadi saya berpikir memakai baju kebaya Kartini. Satunya lagi karena Depok juga pernah dikenal sebagai Belanda Depok, jadi menggunakan kostum noni Belanda dan gaun pesta tahun 40-an,” ujarnya.
Menurut Nesha, fashion show bertema jadul seperti ini dapat menjadi media pembelajaran budaya yang lebih ringan dan mudah diterima masyarakat, khususnya generasi muda.
Sebab, melalui pakaian dan penampilan, masyarakat dapat mengenal kembali nilai-nilai sejarah yang mulai jarang diperkenalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengungkapkan bahwa seluruh konsep dan kostum disiapkan dalam waktu singkat, bahkan hanya dalam satu malam sebelum perlombaan digelar.
Meski demikian, kerja sama dan kreativitas tim mampu menghasilkan penampilan yang maksimal hingga akhirnya meraih Juara 1.
“Alhamdulillah Kantor Imigrasi Depok menjadi Juara 1 dalam lomba fashion show Lebaran Depok. Kami menyiapkan kostum hanya dalam satu malam,” katanya.
Lebih lanjut, Nesha berharap generasi muda tidak melupakan gaya berpakaian dan budaya masa lalu, karena menurutnya setiap era memiliki nilai estetika dan filosofi tersendiri.
“Untuk generasi muda zaman sekarang menurut saya jangan melupakan fashion zaman dahulu, karena fashion zaman dahulu juga tidak kalah keren dengan zaman sekarang,” tuturnya.
Penampilan Imigrasi Depok pun mendapat apresiasi dari masyarakat yang hadir. Selain dinilai kreatif dan elegan, konsep yang diusung juga dianggap berhasil menghadirkan edukasi sejarah melalui pendekatan seni dan budaya yang lebih menarik.
Lebaran Depok 2026 sendiri tampil berbeda dengan mengusung nuansa retro era 1970-an. Kegiatan tersebut turut diramaikan bazar UMKM, kuliner tradisional, pertunjukan seni budaya, hingga berbagai aktivitas yang mengangkat kearifan lokal masyarakat Depok.
Menutup keterangannya, Nesha berharap Lebaran Depok dapat terus berkembang menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.
“Semoga Lebaran Depok ke depan menjadi ruang untuk mengenalkan budaya, sejarah, dan kebersamaan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Karena dari kegiatan seperti inilah kita bisa belajar untuk tetap mencintai budaya dan identitas Kota Depok. Sukses untuk semua instansi di Kota Depok,” tutupnya. (el’s)




