Depok | Sketsa Online – Penampilan total Legislator Gerindra Kota Depok, Edi Masturo, berhasil mencuri perhatian masyarakat dalam ajang fashion show jadulan pada hari ketiga perhelatan Lebaran Depok 2026 yang digelar di Alun-Alun Kota Depok, Kamis (7/5/2026).
Dengan balutan busana retro khas era 1970-an lengkap dengan penghayatan karakter dan gaya khas tempo dulu, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Depok tersebut sukses meraih gelar juara dua (2) dalam ajang fashion show jadulan tersebut.
Penampilannya dinilai mampu menghadirkan nuansa retro secara utuh, mulai dari detail kostum, ekspresi, penguasaan panggung, hingga interaksi aktif bersama masyarakat yang memenuhi area acara.
Menurut Edi, konsep retro yang diusung dalam Lebaran Depok 2026 bukan sekadar hiburan atau ajang bergaya, melainkan bagian dari upaya mengenalkan kembali budaya dan kehidupan masyarakat tempo dulu kepada generasi muda.
“Konsep retro ini mengingatkan kita bahwa masyarakat zaman dulu hidup lebih sederhana, tetapi memiliki rasa kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong yang sangat kuat. Jadi yang ditampilkan bukan hanya pakaian lama, tetapi juga nilai kehidupan yang pernah menjadi identitas masyarakat kita,” ujar Edi.
Ia menilai kegiatan budaya seperti Lebaran Depok memiliki peran penting dalam menjaga identitas lokal di tengah perkembangan zaman dan derasnya pengaruh budaya modern.
“Anak-anak muda perlu dikenalkan kembali dengan budaya daerahnya sendiri. Lewat kegiatan seperti ini mereka bisa belajar bahwa budaya lokal itu menarik, punya sejarah, dan mengandung banyak nilai positif yang harus dijaga bersama,” katanya.
Tak hanya itu, Edi mengungkapkan pendekatan budaya melalui fashion jadul dinilai efektif sebagai media edukasi masyarakat karena dikemas dengan cara yang ringan, dekat, dan menyenangkan.
“Kadang masyarakat lebih mudah memahami budaya lewat hal-hal yang sederhana dan menghibur. Dari pakaian saja kita bisa belajar tentang karakter masyarakat zaman dulu, mulai dari kesederhanaan, kesopanan, hingga cara mereka menghargai tradisi,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ia juga menambahkan bahwa gaya berpakaian era terdahulu mengandung filosofi kesederhanaan dan penghormatan dalam berpenampilan yang masih relevan diterapkan hingga saat ini.
“Dulu orang berpakaian sederhana, rapi, dan punya ciri khas budaya yang kuat. Itu yang perlu dipahami generasi sekarang, bahwa budaya bukan sesuatu yang kuno, tetapi bagian dari identitas dan jati diri masyarakat,” ucapnya.
Tema retro 70-an yang diangkat dalam Lebaran Depok 2026 pun dinilai sukses membangun suasana nostalgia dan kebersamaan. Banyak warga mengaku teringat pada kehidupan kampung tempo dulu yang penuh keakraban, tradisi saling membantu, dan hubungan sosial yang erat antarwarga.
Selain fashion jadulan, kegiatan juga diramaikan bazar UMKM, kuliner tradisional, pertunjukan seni budaya, musik lawas, hingga permainan rakyat yang semakin memperkuat semangat “Depok Rumah Kita”.
Berbagai unsur budaya lokal dipadukan dalam satu ruang kebersamaan yang tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya lintas generasi.
“Saya berharap Lebaran Depok tidak hanya menjadi ajang hiburan tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal sekaligus menghidupkan kembali nilai gotong royong, kekeluargaan, dan identitas khas masyarakat Depok,” tutup Edi. (el’s)




