Bukti Baru Mengalir! Dua Eks Anak Didik Pelatih Voli Depok Akhirnya Buka Suara

Depok | Sketsa Online – Dugaan kasus pelecehan terhadap anak di bawah umur yang melibatkan seorang pelatih voli berinisial A kembali mencuat ke publik. Perkembangan terbaru mengemuka setelah dua mantan anak didiknya, Zul (19) dan Ar (18), akhirnya berani buka suara dan mengungkap pengalaman yang mereka alami saat masih aktif berlatih di sebuah klub voli di Kota Depok.

Keberanian keduanya muncul setelah adanya laporan yang diajukan oleh orang tua seorang anak berinisial Bil (12) kepada aparat penegak hukum. Zul dan Ar menyebut, langkah hukum tersebut menjadi titik balik yang mendorong mereka untuk tidak lagi diam.

“Awalnya kami ragu untuk bicara, karena takut dan merasa tidak akan dipercaya. Tapi setelah ada laporan dari orang tua korban yang masih di bawah umur, kami merasa harus ikut bersuara,” ujar Zul pada Jumat (24/4/26).

Menurut pengakuan mereka, dugaan tindakan tidak pantas itu terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun lalu, saat keduanya masih aktif mengikuti latihan rutin. Mereka mengaku kerap mengalami perlakuan yang membuat tidak nyaman, baik saat sesi latihan berlangsung maupun setelahnya.

Baca juga:  Istighosah Pembuka 2026, PKB Depok Konsolidasi Total Kawal Pelayanan Publik

“Setiap selesai latihan atau di sela-sela kegiatan, dia sering mendekat dengan cara yang tidak wajar. Kami sudah berusaha menghindar dan menolak, tapi situasinya tidak mudah,” ungkap Zul.

Ar menambahkan bahwa situasi tersebut membuat mereka berada dalam tekanan, terlebih karena pelatih memiliki posisi otoritas di dalam tim.

“Waktu itu kami masih muda dan posisinya dia pelatih. Kami takut melawan, takut dikeluarkan dari tim, dan takut dianggap bermasalah,” kata Ar.

Selain terjadi di lingkungan latihan, keduanya juga mengaku pernah diajak ke kediaman pelatih dengan alasan membahas teknik permainan. Namun, menurut mereka, situasi di tempat tersebut justru membuat mereka merasa tidak aman.

“Dia pernah mengajak ke rumah dengan alasan latihan tambahan. Tapi di sana kami justru merasa tertekan karena tidak ada orang lain. Kami tidak berani berbuat banyak,” jelas Ar.

Tidak hanya dugaan tindakan fisik, Zul dan Ar juga mengungkap adanya tekanan psikologis yang mereka rasakan. Mereka menyebut aktivitas pergaulan mereka sempat dibatasi dan diawasi.

Baca juga:  Benchmark Baru! Realme C85 Series Jadi HP Pertama di Harga 2–3 Jutaan dengan Sertifikasi IP69 Pro

“Kalau kami dekat atau berbicara dengan orang lain, terutama sesama laki-laki, dia sering marah. Seolah-olah kami tidak boleh punya ruang sendiri,” kata Zul.

Keduanya juga mengaku pernah menerima ancaman, yang semakin membuat mereka memilih untuk diam selama bertahun-tahun.

“Ada ancaman yang membuat kami benar-benar takut. Itu yang bikin kami tidak berani cerita ke siapa pun, bahkan ke keluarga sendiri,” ujar Ar.

Lebih lanjut, Zul dan Ar mengungkapkan bahwa mereka sebenarnya pernah mencoba melaporkan kejadian tersebut kepada pihak internal klub dan Pengcab PBVSI pada tahun 2024. Saat itu, menurut mereka, sempat dilakukan forum klarifikasi yang juga melibatkan pengurus.

“Kami sudah pernah menyampaikan ini dalam forum internal. Waktu sidang itu ada perwakilan PBVSI juga yang hadir. Mereka bilang ini tindakan salah dan berjanji akan memberhentikan Acong sebagai pelatih. Tapi nyatanya sampai sekarang dia masih aktif melatih anak-anak lain. Rasanya keadilan kami tidak ada,” keluh Zul.

Baca juga:  Ketua IMAPALA Pekanbaru: Beasiswa Palas Mandek, Pemkab dan Perusahaan Jangan Main Petak Umpet

Namun demikian, mereka menilai belum ada langkah nyata yang dirasakan hingga saat ini. “Kami berharap ada tindakan tegas, tapi kenyataannya kami belum melihat perubahan yang berarti,” tambahnya.

Setelah sekian lama memilih diam, keduanya kini menyatakan siap menempuh jalur hukum dan memberikan keterangan secara terbuka kepada pihak kepolisian.

“Kami sudah cukup lama memendam ini. Sekarang kami ingin keadilan, dan yang paling penting kami tidak ingin ada korban berikutnya,” tegas Ar.

Menutup keterangannya, Zul juga menambahkan harapannya agar kasus ini menjadi perhatian serius semua pihak. “Kami ingin ini jadi pelajaran, terutama untuk melindungi adik-adik yang masih aktif di dunia olahraga,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, aparat kepolisian masih melakukan pendalaman terhadap laporan yang masuk. Sementara itu, pihak klub maupun pengurus cabang (Pengcab) PBVSI Kota Depok belum memberikan pernyataan resmi.

Kasus ini kembali menjadi perhatian publik dan menegaskan pentingnya pengawasan, transparansi, serta perlindungan terhadap anak dalam lingkungan pendidikan dan olahraga. (L1n)

Latest

Newsletter

Don't miss

Kabar Baik! Warga Depok Dapat Kado Spesial di HUT ke-27: Bantuan Hukum Gratis dari Andi Tatang Supriyadi

Depok | Sketsa Online - Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kota Depok tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga diisi dengan program yang...

Aliansi Pendidikan Dorong Penguatan RSSG, Kejar Wajib Belajar 9 Tahun di Tengah Krisis Daya Tampung

Depok | Sketsa Online - Keterbatasan daya tampung sekolah negeri di Kota Depok yang terus berulang setiap tahun mendorong Aliansi LSM Pendidikan Kota Depok...

HUT Depok ke-27, Satu Suara untuk Lingkungan! Binton Nadapdap Kawal PSEL Depok-Bogor Menuju Kemandirian Energi Daerah

Depok | Sketsa Online - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kota Depok menjadi momentum penting untuk menegaskan arah kebijakan pembangunan yang lebih adaptif...