Depok | Sketsa Online – Dalam suasana bulan Syawal yang penuh keberkahan dan kehangatan ukhuwah Islamiah, Ketua DPC PPP Kota Depok, Mazhab HM, menggelar tradisi Lebaran Ketupat yang dirangkaikan dengan peringatan hari ulang tahunnya ke-63 pada 15 Syawal 1447 Hijriah, Sabtu (4/4/2026).
Kegiatan ini sekaligus menjadi penutup rangkaian open house yang telah berlangsung selama 15 hari, sejak 1 hingga 15 Syawal.
Selama dua pekan, kediaman Mazhab terbuka bagi masyarakat sebagai ruang silaturahmi lintas kalangan. Sejumlah tokoh masyarakat, jajaran pengurus dan kader PPP, hingga warga sekitar hadir untuk mempererat hubungan sosial dalam nuansa Idulfitri yang penuh kehangatan.

Secara tradisi, Lebaran Ketupat umumnya dilaksanakan pada 8 Syawal setelah umat Muslim menunaikan puasa sunah selama enam hari. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari kearifan lokal, tetapi juga sarat makna spiritual.
Ketupat melambangkan pengakuan atas kesalahan, keikhlasan untuk saling memaafkan, serta harapan untuk kembali pada fitrah dengan hati yang bersih.
Namun, pelaksanaan tahun ini diselenggarakan pada 15 Syawal sebagai penutup rangkaian kegiatan yang telah berjalan sejak awal bulan. Penyesuaian tersebut dilakukan agar momentum silaturahmi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Lebaran Ketupat biasanya dilaksanakan pada 8 Syawal setelah puasa sunah enam hari. Namun, kami laksanakan pada 15 Syawal sebagai penutup rangkaian open house sejak 1 Syawal,” ujar Mazhab.

Suasana acara berlangsung hangat, sederhana, dan sarat makna, mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan, persaudaraan, serta semangat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Kader PPP turut hadir dan berbaur bersama warga, menambah semarak sekaligus memperkuat soliditas internal partai.
Tidak hanya menjadi ajang temu warga, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai momentum pemberdayaan ekonomi umat.
Mazhab melibatkan pelaku UMKM lokal, seperti pedagang bakso keliling dan penjual minuman di sekitar lingkungan kediamannya.
Kehadiran para pelaku usaha kecil tersebut tidak hanya menambah semarak acara, tetapi juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap penguatan ekonomi kerakyatan di tingkat lokal.
Mereka diberi ruang untuk berjualan sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat yang hadir.
Di tengah dinamika ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, langkah ini menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan keberkahan yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga berdampak secara sosial dan ekonomi.
“Keberkahan Syawal tidak hanya dimaknai sebagai ibadah personal, tetapi juga harus diwujudkan dalam kepedulian sosial. Memberdayakan UMKM adalah bagian dari upaya menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” kata Mazhab.
Lebih lanjut, momentum ini juga bertepatan dengan usia ke-63 Mazhab HM, yang dimaknainya sebagai refleksi perjalanan hidup dan pengabdian kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa setiap fase kehidupan adalah amanah yang harus dijalankan dengan keikhlasan, tanggung jawab, serta komitmen untuk terus memberi manfaat.
Baginya, kepemimpinan bukan semata soal jabatan, melainkan tentang kehadiran nyata di tengah masyarakat, termasuk merangkul kader dan warga dalam satu ruang kebersamaan, terutama pada momentum Syawal yang sarat nilai pengampunan dan persatuan.
“Syawal mengajarkan kita untuk kembali kepada fitrah, mempererat silaturahmi, dan memperluas manfaat bagi sesama. Di situlah makna sejati kebersamaan dan pengabdian,” tutup Mazhab. (el’s)




