Depok | Sketsa Online – Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, menegaskan pentingnya revitalisasi menyeluruh koperasi serta percepatan regenerasi anak muda sebagai kunci kebangkitan koperasi di Kota Depok.
Penegasan itu disampaikan saat menghadiri Musyawarah Daerah (MUSDA) Pemilihan Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kota Depok masa bakti 2025–2030 yang digelar di Aula Bank BJB Kantor Cabang Depok, pada Kamis (22/1/2026).
Dalam sambutannya, Chandra menyampaikan bahwa koperasi masih memiliki peran strategis sebagai pilar ekonomi kerakyatan, terutama di tengah tantangan sosial dan ekonomi perkotaan. Namun, ia tidak menampik bahwa koperasi di Kota Depok masih menghadapi persoalan klasik, seperti rendahnya tingkat keaktifan serta minimnya keterlibatan generasi muda.
“Koperasi harus direvitalisasi secara menyeluruh. Bukan hanya jumlahnya yang bertambah, tetapi kualitasnya juga harus meningkat. Tata kelola perlu dibenahi, RAT harus tertib, dan manfaat usaha koperasi harus benar-benar dirasakan oleh anggota,” ujar Chandra.
Ia menilai, MUSDA Dekopinda menjadi momentum penting untuk mengevaluasi kinerja lima tahunan sekaligus merumuskan arah kebijakan koperasi yang lebih relevan dengan perkembangan ekonomi saat ini. Kepengurusan Dekopinda yang baru diharapkan mampu mengonsolidasikan koperasi yang aktif, sekaligus menghidupkan kembali koperasi yang belum berjalan optimal agar lebih produktif.
Chandra juga menekankan pentingnya sinergi antara Dekopinda dan Pemerintah Kota Depok dalam memperkuat peran koperasi. Menurutnya, kebijakan daerah harus berjalan seiring dengan gerakan koperasi agar dampaknya benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Dalam konteks ini, ia menegaskan bahwa seluruh elemen koperasi harus saling merangkul, termasuk koperasi Merah Putih.
“Koperasi harus dibangun dengan semangat kolaborasi. Koperasi Merah Putih harus dirangkul dan menjadi bagian dari ekosistem bersama, bukan dipandang sebagai saingan. Jika saling menguatkan, maka koperasi akan semakin besar dan berdaya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Chandra menyoroti regenerasi sebagai tantangan paling krusial bagi keberlanjutan koperasi. Dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar, Kota Depok dinilai memiliki potensi kuat untuk memperluas basis keanggotaan koperasi. Namun, potensi tersebut harus diiringi pendekatan yang sesuai dengan karakter generasi milenial dan Gen Z.
“Jika koperasi tidak mampu menarik minat anak muda, maka koperasi akan ditinggalkan. Anak muda harus dikenalkan sejak dini, diberi ruang untuk berinovasi, dan dilibatkan secara aktif, baik sebagai anggota maupun pengelola,” jelasnya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa koperasi di wilayah perkotaan seperti Depok harus lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat. Digitalisasi, transparansi, serta model usaha yang fleksibel dinilai menjadi kunci agar koperasi tetap kompetitif di tengah pesatnya pertumbuhan sektor usaha modern.
“Koperasi tidak boleh terus berjalan dengan pola lama. Harus adaptif, inovatif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat urban yang serba cepat dan praktis,” tambahnya.
Chandra juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Depok untuk terus mendukung penguatan koperasi melalui berbagai program pembinaan dan pendampingan. Dukungan tersebut diarahkan agar koperasi dapat berkontribusi nyata dalam pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan ekonomi lokal.
MUSDA Dekopinda Kota Depok 2025–2030 diharapkan mampu melahirkan kepengurusan baru yang solid, berintegritas, dan visioner, sekaligus memperkuat peran Dekopinda sebagai penggerak, pengarah, dan pengawal kualitas koperasi di daerah.
Melalui forum MUSDA ini, Pemerintah Kota Depok berharap koperasi tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh sebagai koperasi perkotaan yang modern, sehat, inklusif, dan kolaboratif, serta menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah berbasis kerakyatan. (el’s)




