Depok | Sketsa Online – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Pradi Supriatna, menegaskan bahwa Ngaji Hikam perlu diposisikan sebagai gerakan sosial yang strategis, bukan sekadar kegiatan keagamaan rutin.
Pengajian tersebut dinilai memiliki peran penting dalam menciptakan ruang kebersamaan, memperkuat kohesi sosial, serta menjawab kebutuhan masyarakat akan ruang publik yang inklusif di Kota Depok.
Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri kegiatan Ngaji Hikam yang digelar terbuka di kediaman Wali Kota Depok, Supian Suri, di kawasan Jatimulya, Kecamatan Cilodong, Jumat (26/12).
Tak hanya itu, ia mengungkapkan, keterbukaan kegiatan tersebut mencerminkan pendekatan keagamaan yang merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa sekat formalitas. Pola ini dinilai mampu membangun interaksi sosial yang sehat di tengah dinamika kehidupan perkotaan.
“Ngaji Hikam tidak boleh dipersempit hanya sebagai agenda seremonial. Di dalamnya terdapat ruang pertemuan sosial, dialog, dan refleksi bersama yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini,” ujar Pradi.
Kegiatan pengajian dipimpin oleh Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia sekaligus mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf Amin. Materi yang disampaikan mengaitkan nilai-nilai keislaman dengan realitas sosial, kebangsaan, dan kehidupan bermasyarakat.
Tingginya partisipasi generasi muda menjadi sorotan dalam kegiatan tersebut. Kehadiran anak muda menunjukkan bahwa pendekatan keagamaan yang terbuka dan relevan masih memiliki daya tarik kuat di tengah tantangan perubahan sosial dan pengaruh budaya digital.
“Anak-anak muda hadir, mendengarkan, dan berdialog. Ini menandakan bahwa ruang-ruang keagamaan yang inklusif masih sangat dibutuhkan dan harus terus diperluas,” katanya.
Pengembangan Ngaji Hikam juga didorong agar tidak hanya terpusat di tingkat kota, tetapi menjangkau kecamatan. Sinergi antara pemerintah daerah, tokoh agama, dan komunitas masyarakat dipandang penting untuk menjaga keberlanjutan kegiatan serta memperluas jangkauan manfaatnya.
Gerakan sosial berbasis keagamaan seperti Ngaji Hikam memiliki relevansi strategis dalam menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat Depok. Pendekatan keagamaan yang menekankan kebersamaan dinilai mampu menjadi penyeimbang di tengah potensi polarisasi sosial.
“Depok adalah kota yang majemuk. Ruang kebersamaan seperti ini penting untuk menjaga persatuan, memperkuat toleransi, dan membangun kesadaran sosial secara kolektif,” jelasnya.
Ke depan, Ngaji Hikam diharapkan dapat menjadi model pembinaan sosial-keagamaan yang berkelanjutan, tidak hanya berorientasi pada ritual, tetapi juga berdampak nyata terhadap kualitas hubungan sosial masyarakat.
Penguatan nilai keagamaan yang berjalan seiring dengan pembangunan sosial disebut sebagai fondasi penting dalam menciptakan kehidupan kota yang harmonis, inklusif, dan berkarakter. (el’s)




