Depok | Sketsa Online — Aktivitas proyek pembangunan yang beroperasi hingga larut malam memicu keresahan warga di RW 06, 09, dan 10 wilayah Kelurahan Tapos, Kecamatan Tapos. Proyek milik pengembang Kharaba tersebut dilaporkan menimbulkan kebisingan dan dampak lingkungan yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar lokasi.
Pekerjaan yang berlokasi di sekitar Jalan Raya Mayor Idrus, Depok itu disebut telah berlangsung kurang lebih lima bulan. Warga menilai aktivitas pembangunan tidak hanya berjalan pada siang hari, tetapi juga kembali beroperasi pada malam hari hingga mendekati tengah malam.
Seorang warga RW 06 yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan suara mesin proyek kerap terdengar jelas hingga ke dalam rumah sehingga mengganggu waktu istirahat.
“Kerjanya mulai lagi jam 8 atau jam 9 malam sampai jam 11. Saya tidak dilibatkan soal izin lingkungannya. Tidak tahu juga yang lainnya. Bukan sekali dua kali, melainkan sudah berulang dalam beberapa waktu terakhir,” ujarnya pada Sabtu (21/2/2026).
Ia menambahkan kebisingan terasa lebih mengganggu pada malam hari karena kondisi lingkungan biasanya sudah tenang. Saat pekerjaan sedang intens, suara mesin disebut terdengar konsisten dan sulit diabaikan, bahkan ketika pintu dan jendela rumah telah ditutup. Warga berharap ada penyesuaian jam kerja agar aktivitas pembangunan tidak berlangsung pada waktu istirahat masyarakat.
Keluhan serupa disampaikan warga RW 09 yang juga merasakan dampak langsung dari aktivitas proyek. Ia mengatakan suara mesin kerap muncul pada malam hari dan terdengar jelas dari dalam rumah.
“Iya, kalau malam ada suara, tidak tahu mesin apa, tapi bising sekali. Bahkan sampai ada warga yang mendatangi area proyek karena pekerjaannya tepat berada di belakang rumahnya. Suaranya terdengar sangat jelas, jadi bikin susah tidur dan tidak nyaman,” ucapnya.
Selain kebisingan, warga turut menyoroti persoalan debu yang berasal dari area pembangunan. Debu disebut beterbangan terutama saat pekerjaan siang hari berlangsung padat dan terbawa angin ke permukiman.
Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada kesehatan apabila terus terjadi tanpa penanganan, khususnya bagi anak-anak dan lansia yang tinggal di sekitar lokasi.
Lebih lanjut, sebagian warga menegaskan tidak menolak pembangunan, namun mereka berharap pelaksanaannya tetap memperhatikan kenyamanan lingkungan.
Mereka meminta pihak pengembang serta instansi terkait memberikan penjelasan mengenai izin lingkungan, jadwal operasional kerja, dan langkah pengendalian dampak seperti kebisingan serta debu.
“Semoga ada solusi nyata agar proyek tetap berjalan tanpa mengganggu ketenangan masyarakat di sekitarnya,” tutup warga. (el’s)




