Depok | Sketsa Online – Rumah Tahanan Negara Kelas I Depok kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun sistem pembinaan yang humanis melalui kegiatan penguatan kapasitas Hak Asasi Manusia (HAM) bagi warga binaan, pada Selasa (18/2/2026).
Kegiatan ini menghadirkan langsung Kepala Kantor Wilayah HAM Jawa Barat, Hasbullah Fudail, sebagai narasumber utama yang memberikan pemahaman komprehensif mengenai prinsip, implementasi, serta tanggung jawab terkait HAM di lingkungan pemasyarakatan.
Kepala Rutan Kelas I Depok, Agung Nurbani, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi pembinaan berkelanjutan yang tidak hanya menitikberatkan pada aspek kedisiplinan, tetapi juga pada pembentukan kesadaran hukum dan nilai kemanusiaan.
Ia menegaskan bahwa pemahaman HAM sangat penting agar warga binaan mampu menjalani masa pembinaan dengan sikap yang tertib, saling menghargai, dan memiliki kesiapan mental untuk kembali ke masyarakat.
Dalam pemaparannya, Hasbullah menjelaskan bahwa HAM merupakan hak dasar yang melekat pada setiap manusia tanpa memandang latar belakang, status sosial, maupun kondisi hukum seseorang.
“Hak asasi manusia tidak hilang hanya karena seseorang sedang menjalani masa pidana. Hak itu tetap ada dan wajib dihormati, baik oleh sesama warga binaan maupun oleh petugas,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa pemahaman HAM harus disertai kesadaran akan kewajiban. Menurutnya, keseimbangan antara hak dan tanggung jawab merupakan prinsip utama dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam sistem pemasyarakatan.
“Pemenuhan HAM di lingkungan pemasyarakatan harus berjalan seiring dengan pelaksanaan kewajiban serta kepatuhan terhadap tata tertib yang berlaku. Tanpa disiplin dan kepatuhan, hak tidak akan bisa terlindungi secara optimal,” jelasnya.
Hasbullah menambahkan bahwa tata tertib di rutan bukanlah bentuk pembatasan kebebasan semata, melainkan instrumen pembinaan.
“Aturan dibuat bukan untuk menekan, tetapi untuk menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan bersama. Ketika aturan dipatuhi, maka lingkungan pembinaan menjadi kondusif dan hak setiap individu bisa terjaga,” ujarnya.
Dalam sesi materi, ia juga menyoroti pentingnya menjaga martabat manusia dalam setiap interaksi. Ia mengingatkan bahwa sikap saling menghormati menjadi kunci terciptanya suasana pembinaan yang sehat.
“Menghargai sesama adalah bagian dari praktik HAM yang paling sederhana namun paling penting. Dari sikap itu akan tumbuh rasa saling percaya, kedisiplinan, dan kesadaran untuk berubah menjadi lebih baik,” katanya.
Tak hanya itu, Hasbullah juga menekankan bahwa proses pembinaan di rutan sejatinya merupakan kesempatan memperbaiki diri.
“Masa pembinaan harus dimaknai sebagai waktu untuk belajar, memperbaiki sikap, dan menyiapkan diri kembali ke masyarakat. Pemahaman HAM akan membantu saudara-saudara memahami batasan, tanggung jawab, serta nilai kehidupan sosial,” tambahnya.
Kegiatan yang diikuti sekitar 100 warga binaan tersebut berlangsung tertib, kondusif, dan penuh antusiasme. Dalam sesi dialog interaktif, peserta aktif mengajukan pertanyaan mulai dari hak pelayanan, mekanisme penyampaian aspirasi, hingga batasan kewenangan petugas dalam pelaksanaan pembinaan.
Menanggapi hal itu, Hasbullah menjawab satu per satu dengan penjelasan rinci agar mudah dipahami.
“Transparansi dan komunikasi terbuka adalah bagian dari penghormatan HAM. Karena itu, bertanya dan mencari pemahaman adalah hal yang baik,” ungkapnya.
Menutup kegiatan, ia menegaskan bahwa penguatan kapasitas HAM harus menjadi budaya, bukan sekadar agenda formal.
“Kesadaran HAM harus dibangun secara kolektif. Ketika semua pihak memahami hak dan kewajiban masing-masing, maka lingkungan pemasyarakatan akan menjadi tempat pembinaan yang adil, manusiawi, dan berorientasi pada perubahan,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran HAM semakin tertanam di lingkungan rutan serta memperkuat sinergi antara jajaran pemasyarakatan dan Kanwil HAM Jawa Barat dalam mendorong penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak asasi manusia secara berkelanjutan, sekaligus membentuk warga binaan yang siap kembali ke masyarakat dengan sikap yang lebih positif dan bertanggung jawab. (el’s)




