Depok | Sketsa Online – DPC Partai Persatuan Pembangunan Kota Depok menyelenggarakan kegiatan Ruahan Akbar yang digelar di kediaman Ketua DPC PPP Kota Depok, Mazhab HM, di Pancoran Mas, Depok, sebagai upaya menjaga tradisi keagamaan yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat.
Kegiatan ini menjadi penegasan komitmen para kader dalam merawat nilai budaya religius yang melekat pada identitas partai, sekaligus memperkuat hubungan spiritual dan sosial di tengah kehidupan warga.
Ketua DPC PPP Kota Depok, Mazhab HM, menegaskan bahwa ruwahan merupakan tradisi yang memiliki kedalaman makna keagamaan serta nilai budaya yang diwariskan oleh para ulama. Ia menjelaskan, tradisi tersebut memiliki kedekatan historis dengan jati diri PPP yang lahir dari lingkungan ulama dan tumbuh berkembang di kalangan santri.

“Acara ini di antaranya bertujuan menjaga tradisi. Ruwahan identik dengan PPP karena partai ini lahir dari rahim para ulama dan tumbuh di kalangan santri. Oleh karena itu, PPP Kota Depok akan terus menjaga tradisi ruwahan ini,” ujarnya pada Minggu (15/2/26).
Tak hanya itu, Ia juga menegaskan bahwa pelestarian tradisi merupakan langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan kekuatan nilai spiritual. Menurutnya, masyarakat tidak boleh tercerabut dari akar budaya religius yang selama ini menjadi fondasi moral kehidupan sosial.
Mazhab menilai ruwahan tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai ruang penguatan kebersamaan dan persaudaraan. Tradisi tersebut, lanjutnya, mampu mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam suasana ibadah, doa, dan refleksi spiritual, khususnya di wilayah Depok.
Momentum ini dinilai efektif dalam mempererat silaturahmi, menumbuhkan kepedulian sosial, serta menanamkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga nilai luhur warisan ulama.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa keberlangsungan tradisi ruwahan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya organisasi atau kelompok tertentu.
“Selama tradisi dijaga dan diwariskan, nilai kesantunan, persatuan, serta penghormatan kepada ulama akan tetap hidup dalam kehidupan sosial,” ucapnya.
Menutup pernyataannya, Mazhab menekankan dimensi spiritual dari tradisi tersebut. Ia menegaskan bahwa ruwahan bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga bentuk ikhtiar batin untuk merawat keberkahan hidup bermasyarakat.
“Selama tradisi ini dijaga dengan niat ibadah, insyaallah nilai keimanan, persaudaraan, dan kearifan budaya umat akan tetap terpelihara lintas generasi,” tutupnya. (el’s)




