Tak Hanya Cantik! Hj. Yuni Indriany: Perempuan Harus Ambil Peran Nyata dan Berdampak

Depok | Sketsa Online – Peringatan Hari Kartini bukan lagi sekadar tentang simbol kecantikan atau seremoni semata. Lebih dari itu, momentum ini menjadi pengingat bahwa perempuan harus melampaui stigma tersebut menjadi pribadi yang berperan nyata dan memberi dampak. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Ketua DPRD Kota Depok sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Depok, Hj. Yuni Indriany.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan perempuan, DPC PDI Perjuangan Kota Depok menggelar kegiatan ziarah ke makam tokoh perempuan Ratu Jaya di Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, pada Minggu (19/4/2026). Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Hj. Yuni Indriany selaku Ketua DPC, dan diikuti jajaran pengurus, serta kader.

Kegiatan ziarah berlangsung khidmat dengan doa bersama dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada para tokoh perempuan yang telah berjasa bagi masyarakat.

“Momentum ini sekaligus menjadi ruang refleksi untuk meneguhkan kembali semangat perjuangan perempuan di masa kini,” ungkap Hj. Yuni.

Menurutnya, perempuan hari ini berada pada fase yang berbeda dibandingkan masa lalu. Jika dulu akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan ruang publik sangat terbatas, kini berbagai peluang terbuka semakin luas. Perempuan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkembang, berkarier, bahkan mengambil peran strategis dalam kepemimpinan.

Baca juga:  Langkah Tarling di Bulan Penuh Berkah, Edi Masturo Rajut Ukhuwah Bersama Warga

Namun, Hj. Yuni mengingatkan bahwa keterbukaan tersebut tidak otomatis menjadikan perempuan lebih berdaya. Justru, tantangan yang dihadapi kini semakin kompleks, bukan lagi soal membuka pintu kesempatan, melainkan bagaimana memanfaatkan peluang tersebut dengan kualitas dan kesiapan diri.

“Kesempatan sudah terbuka, tapi yang menentukan adalah bagaimana kita mengisi ruang itu dengan kapasitas, integritas, dan kesungguhan,” ujarnya pada Senin (20/4/26).

Ia menilai, semangat yang dahulu diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini kini harus dimaknai ulang dalam konteks kekinian. Perempuan tidak lagi cukup menjadi simbol emansipasi, tetapi harus hadir sebagai subjek yang aktif, mandiri, dan mampu menciptakan perubahan.

Dalam pandangannya, pendidikan menjadi fondasi utama dalam membentuk perempuan yang berdaya dan berpengaruh. Namun, pendidikan tidak boleh dipahami secara sempit sebagai gelar formal semata. Lebih dari itu, perempuan dituntut untuk terus belajar sepanjang hayat, mampu beradaptasi, serta memiliki daya kritis terhadap berbagai dinamika yang terjadi.

Hal ini menjadi semakin penting di era digital, ketika arus informasi begitu deras dan tidak semuanya dapat dipastikan kebenarannya. Tanpa kemampuan literasi yang baik, perempuan rentan terjebak dalam misinformasi yang justru dapat menghambat kemajuan diri.

“Perempuan harus cerdas dalam menyaring informasi. Literasi itu penting, agar kita tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang belum tentu benar,” katanya.

Baca juga:  Lawan Tekanan dan Intimidasi, 2 Korban Dugaan Pelecehan Pelatih Voli Datangi LBH Kami Ada

Di dunia profesional, Hj. Yuni juga menyoroti adanya tantangan ganda yang kerap dihadapi perempuan. Selain tuntutan kinerja, perempuan sering kali juga dibebani ekspektasi sosial yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Kondisi ini, menuntut perempuan untuk memiliki ketangguhan, konsistensi, dan kepercayaan diri yang kuat.

“Kehadiran saja tidak cukup. Perempuan harus mampu menunjukkan kompetensi, menjaga konsistensi, dan membangun kepercayaan. Dari situlah peran kita benar-benar diakui,” tegasnya.

Meski demikian, Hj. Yuni menekankan bahwa peran perempuan dalam keluarga tetap memiliki arti yang sangat penting dan tidak bisa diabaikan. Ia menyebut keluarga sebagai ruang pertama dan utama dalam pembentukan karakter generasi penerus bangsa.

“Perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dari sanalah nilai-nilai kehidupan, etika, dan cara berpikir mulai dibentuk,” ungkapnya.

Dengan berbagai peran yang dijalankan secara bersamaan baik di ranah domestik maupun publik Hj. Yuni menilai penting bagi perempuan untuk mampu menjaga keseimbangan hidup. Ia mengingatkan bahwa tekanan untuk selalu sempurna justru dapat menjadi beban jika tidak disikapi secara bijak.

“Perempuan juga manusia. Kita perlu menjaga kesehatan mental, tahu kapan harus beristirahat, dan tidak memaksakan diri melampaui batas,” tambahnya.

Baca juga:  Kado Istimewa di HUT ke-27, Wali Kota Depok Resmikan Kerja Sama Pengolahan Sampah Berbasis Energi

Lebih lanjut, ia mendorong perempuan untuk tidak ragu terlibat dalam ruang publik, termasuk dalam proses pengambilan keputusan. Menurutnya, keterlibatan perempuan bukan hanya soal keterwakilan, tetapi juga soal menghadirkan perspektif yang lebih luas dan inklusif dalam setiap kebijakan.

“Kalau perempuan tidak ikut terlibat, banyak perspektif penting yang akan hilang. Padahal, perempuan punya sudut pandang yang sangat dibutuhkan dalam membangun kebijakan yang adil,” jelasnya.

Ia pun menegaskan bahwa perempuan tidak boleh lagi diposisikan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian penting yang ikut menentukan arah perubahan.

Pada akhirnya, Hj. Yuni melihat bahwa perjuangan perempuan hari ini telah memasuki babak yang lebih maju. Jika dahulu perempuan berjuang untuk mendapatkan hak dan didengar, kini tantangannya adalah memastikan bahwa suara tersebut mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Kalau dulu perempuan berjuang untuk didengar, sekarang saatnya memastikan suara itu membawa perubahan yang nyata,” tutupnya.

Dengan semangat itu, perempuan masa kini tidak hanya melanjutkan perjuangan Kartini, tetapi juga memperluas maknanya sesuai dengan tuntutan zaman menjadi pribadi yang cerdas, adaptif, tangguh, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat luas. (el’s)

Latest

Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Natal, Camat Natal Bacakan Pidato Ketua BPIP

Mandailing Natal, | Sketsa Online.com - Peringatan Hari Lahir...

Belajar Melepas untuk Memberi: Hikmah Kurban ala Dandim 0508/Depok

Depok | Sketsa Online - Hari Raya Idul Adha...

Sembelih Ego Lewat Kurban, Iwan Setiawan Sebut Idul Adha Momentum Muhasabah di Era Modern

Depok | Sketsa Online – Hari Raya Idul Adha...

Newsletter

Don't miss

Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Natal, Camat Natal Bacakan Pidato Ketua BPIP

Mandailing Natal, | Sketsa Online.com - Peringatan Hari Lahir...

Belajar Melepas untuk Memberi: Hikmah Kurban ala Dandim 0508/Depok

Depok | Sketsa Online - Hari Raya Idul Adha...

Sembelih Ego Lewat Kurban, Iwan Setiawan Sebut Idul Adha Momentum Muhasabah di Era Modern

Depok | Sketsa Online – Hari Raya Idul Adha...

Hidupkan Spirit Pengorbanan Nabi Ibrahim, White House Premier Bagikan 4.000 Paket Daging Kurban

Depok | Sketsa Online - Momentum Idul Adha tidak...

Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Natal, Camat Natal Bacakan Pidato Ketua BPIP

Mandailing Natal, | Sketsa Online.com - Peringatan Hari Lahir Pancasila perdana dilaksanakan di Lapangan Merdeka Natal pada Senin (1/6/2026). Bertindak selaku Inspektur Upacara (Irup) Camat...

Belajar Melepas untuk Memberi: Hikmah Kurban ala Dandim 0508/Depok

Depok | Sketsa Online - Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah dimaknai Kodim 0508/Depok bukan sekadar momentum penyembelihan hewan kurban, tetapi juga sebagai sarana...

Sembelih Ego Lewat Kurban, Iwan Setiawan Sebut Idul Adha Momentum Muhasabah di Era Modern

Depok | Sketsa Online – Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah tidak hanya dimaknai sebagai ibadah penyembelihan hewan kurban semata, tetapi juga menjadi momentum...