Depok | Sketsa Online – Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, menghadapi tekanan serius dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan data estimasi, timbulan sampah di wilayah ini mencapai 145.418 kilogram atau setara 145,4 ton per hari.
Angka tersebut dihitung dari jumlah penduduk sebanyak 246.472 jiwa dengan rata-rata produksi sampah 0,59 kilogram per orang per hari yang didominasi oleh sampah rumah tangga.
Camat Sukmajaya, Christine Desima Arthauli, menjelaskan bahwa tingginya volume sampah ini menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan dan strategi pengelolaan berbasis lingkungan (eco green). Pendekatan ini menitikberatkan pada pengurangan sampah dari sumber sebagai langkah paling efektif dan berkelanjutan.
“Data ini kami gunakan untuk memetakan kebutuhan layanan sekaligus menentukan prioritas intervensi. Salah satu wilayah dengan timbulan tertinggi adalah Kelurahan Abadijaya,” ujarnya.
Ia menegaskan, fokus utama penanganan diarahkan pada sektor rumah tangga sebagai penyumbang terbesar sampah. Oleh karena itu, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan volume sampah harian.
Dari sisi operasional, pengangkutan sampah di Kecamatan Sukmajaya saat ini didukung oleh 21 unit armada. Rinciannya terdiri atas dua unit truk tronton dengan kapasitas total 30 ton, 15 unit dump truck dengan kapasitas total 60 ton, serta empat unit mobil pikap dengan kapasitas total 4 ton.
Secara keseluruhan, kapasitas angkut mencapai sekitar 94 ton per ritase atau per hari dengan asumsi satu kali pengangkutan.
Namun demikian, kapasitas tersebut masih belum mampu mengimbangi total timbulan sampah harian. Terdapat selisih sekitar 51,4 ton sampah per hari yang berpotensi tidak terangkut apabila hanya dilakukan satu kali ritase.
“Jika pengangkutan dilakukan dua kali dalam sehari, kapasitas bisa mencapai 188 ton. Tetapi ini masih perhitungan ideal karena belum memperhitungkan kendala teknis seperti waktu operasional, jarak tempuh, kondisi armada, hingga karakteristik sampah,” jelasnya.
Lebih lanjut Christine menjelaskan selain persoalan kapasitas angkut, tantangan juga terletak pada komposisi sampah. Berdasarkan kajian, sampah rumah tangga di Sukmajaya terdiri atas beberapa kategori, yakni sampah organik, anorganik (plastik, kertas, logam, kaca), residu seperti tekstil dan karet, serta limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) rumah tangga seperti baterai, lampu, dan obat-obatan.
Komposisi tersebut telah dikonversi ke dalam satuan kilogram per hari berdasarkan total timbulan 145.418 kilogram, sehingga menjadi acuan dalam menentukan strategi pengelolaan yang lebih tepat sasaran.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kecamatan Sukmajaya mengarahkan kebijakan pada penguatan pengelolaan dari hulu melalui penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Langkah ini diwujudkan melalui pemilahan sampah di tingkat RT/RW dengan skema pemisahan organik, anorganik, dan residu guna meningkatkan kualitas daur ulang.
Tak hanya itu, optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) dan bank sampah juga terus didorong, baik dari sisi sarana, jadwal operasional, maupun penguatan jejaring dengan pihak pengolah atau offtaker.
“Kami menargetkan pengurangan sampah dari sumber minimal 10 hingga 20 persen. Ini penting untuk menekan beban pengangkutan sekaligus mengurangi volume residu yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir,” tegasnya.
Upaya tersebut juga diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta, mulai dari aspek regulasi, pendanaan, hingga monitoring kinerja pengelolaan sampah. (el’s)
Menurut Christine, dengan dominasi sampah organik, Sukmajaya memiliki potensi besar dalam pengolahan menjadi kompos maupun bentuk pemanfaatan lain yang bernilai ekonomi. Jika dikelola dengan baik, hal ini tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Harapannya, dengan sinergi semua pihak dan perubahan perilaku dari masyarakat, pengelolaan sampah di Sukmajaya bisa lebih optimal, berkelanjutan, dan mampu menciptakan lingkungan yang bersih serta sehat,” pungkasnya.




