Depok | Sketsa Online – Wali Kota Supian Suri meresmikan tiga Posyandu di wilayah Cilodong sebagai langkah konkret memperkuat layanan kesehatan dasar masyarakat.
Peresmian ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah kota untuk memperluas akses layanan, meningkatkan kualitas fasilitas kesehatan lingkungan, serta memperkuat peran Posyandu sebagai pusat pembinaan kesehatan ibu, anak, dan keluarga secara terpadu.
Ia menegaskan bahwa keberadaan bangunan Posyandu merupakan kebutuhan mendasar yang sejak lama diharapkan para kader. Selama ini, sejumlah Posyandu masih menempati lahan pinjaman atau fasilitas sementara yang sewaktu-waktu dapat berubah fungsi. Kondisi tersebut kerap menghambat kesinambungan pelayanan dan mengurangi kenyamanan masyarakat saat memanfaatkan layanan kesehatan.
“Karena itu pemerintah hadir memberi solusi. Ada Posyandu yang kita fasilitasi lahannya, ada yang memanfaatkan aset pemerintah, dan ada pula yang kita bantu renovasi agar layak digunakan. Prinsipnya, pelayanan masyarakat tidak boleh terganggu hanya karena persoalan tempat,” ujarnya pada Jumat (13/1/26).
Tiga Posyandu yang diresmikan meliputi Kemuning 1 RW 10 dan Widuri RW 11 di Kelurahan Sukamaju, serta Kartini 2 RW 01 di Kelurahan Kalimulya. Ia menjelaskan, pembangunan dan penataan sarana tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah daerah untuk menuntaskan persoalan infrastruktur layanan kesehatan berbasis masyarakat secara bertahap dan berkelanjutan.
Menurutnya, fasilitas yang memadai bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama agar pelayanan kesehatan anak berjalan optimal, terukur, dan konsisten sejak usia dini. Dengan sarana yang layak, pemantauan tumbuh kembang, imunisasi, edukasi gizi, hingga deteksi dini masalah kesehatan dapat dilakukan lebih sistematis.
Dalam sambutannya, ia memaparkan dua fokus strategis utama penguatan Posyandu. Fokus pertama adalah optimalisasi pelaksanaan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) Posyandu. Ia menekankan bahwa standar tersebut harus diterapkan secara nyata di lapangan, bukan sekadar menjadi kelengkapan administratif.
“Saya tidak ingin program ini hanya berjalan secara formalitas. Yang sudah siap langsung kita jalankan, sementara yang belum siap kita benahi sampai benar-benar mampu memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa kesiapan pelaksanaan SPM mencakup berbagai aspek, mulai dari ketersediaan alat kesehatan dasar, kecukupan tenaga, sistem pencatatan data balita, hingga koordinasi lintas sektor antara kader, puskesmas, dan pemerintah kelurahan. Tanpa kesiapan menyeluruh, standar pelayanan tidak akan memberikan dampak nyata.
Fokus kedua adalah penyesuaian jam layanan kesehatan. Berdasarkan dialog dengan para kepala puskesmas, ia menilai waktu layanan yang selama ini berakhir lebih cepat belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan masyarakat, khususnya warga pekerja yang baru memiliki waktu luang setelah siang hari.
“Kita ingin pendaftaran bisa diperpanjang sampai pukul 13.00, dan pelayanan tetap berlangsung hingga sekitar pukul 15.00. Dengan begitu masyarakat yang datang siang hari tetap bisa dilayani,” jelasnya.
Ia menilai penyesuaian tersebut sebagai bentuk adaptasi kebijakan terhadap pola aktivitas masyarakat yang semakin dinamis. Fleksibilitas waktu layanan diyakini akan meningkatkan partisipasi warga dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan sekaligus mencegah keterlambatan penanganan masalah kesehatan anak.
Lebih lanjut, menjelang bulan puasa, selain menyoroti aspek teknis, ia juga menekankan dimensi nilai sosial Posyandu. Ia mengingatkan bahwa Posyandu lahir dari tradisi gotong royong masyarakat terdahulu yang menjadikan kepedulian terhadap kesehatan anak sebagai gerakan bersama. Momentum ini, menurutnya, menjadi pengingat agar semangat kebersamaan dan kepedulian sosial semakin diperkuat, sejalan dengan nilai kebersihan hati dan solidaritas yang identik dengan suasana Ramadan.
Ia menambahkan, warisan generasi tidak hanya berupa bangunan fisik, tetapi juga nilai kebersamaan, kepedulian sosial, perhatian terhadap tumbuh kembang anak, serta kesadaran akan pentingnya pendidikan sejak usia dini. Karena itu, ia meminta kader Posyandu tidak hanya menjalankan layanan kesehatan, tetapi juga turut memantau kondisi sosial lingkungan, termasuk memastikan anak-anak memperoleh akses pendidikan dan dokumen administrasi dasar.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti pentingnya peran keluarga sebagai fondasi pembentukan karakter. Perhatian, kasih sayang, kedisiplinan, dan kebiasaan baik di rumah, menurutnya, akan menjadi bekal utama bagi anak hingga dewasa. Karena itu, penguatan keluarga harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas fasilitas layanan kesehatan masyarakat.
Menutup sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada kader Posyandu, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, serta seluruh pihak yang telah bekerja dengan penuh dedikasi melayani warga. Ia berharap semangat pengabdian tersebut terus terjaga seiring meningkatnya dukungan sarana, kebijakan, dan perhatian pemerintah daerah.
“Semangat melayani masyarakat harus tetap ada, tetapi jangan lupa menjaga kesehatan diri dan keluarga. Pelayanan terbaik lahir dari orang-orang yang juga sehat,” tutupnya. (el’s)




