Depok | Sketsa Online – Peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Kota Depok menghadirkan refleksi mendalam dari Pembina PGRI Kota Depok, Jiacep. Dalam pesannya, ia mengajak para pendidik untuk meninggalkan pola pembelajaran tradisional dan membuka diri pada model pendidikan yang lebih sejajar serta kolaboratif.
Ia menekankan bahwa perubahan di era digital menuntut hubungan guru dan siswa yang tidak lagi dipisahkan oleh hierarki kaku, melainkan dibangun melalui kerja sama dan penciptaan bersama.
Dengan nada tegas dan penuh energi, ia menyerukan bahwa sistem pembelajaran lama harus segera ditinggalkan karena sudah tidak sanggup mengikuti laju perubahan zaman.
“Dogma lama harus dipecahkan! Tidak ada lagi ruang untuk pola guru mengajar, siswa mendengar. Era digital menuntut kita berubah sekarang juga!” ujar Jiacep, pada Selasa (25/11).
Lebih lanjut, Jiacep menegaskan bahwa struktur pendidikan hierarkis yang selama puluhan tahun dijadikan pakem sudah tidak lagi relevan.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan terbukanya akses pengetahuan membuat peran guru dan siswa harus diredefinisi secara total. Guru tidak lagi bisa berdiri di podium seakan memegang seluruh kebenaran, sementara siswa diposisikan sebagai objek pasif.
“Paradigma itu sudah runtuh! Siswa kita sekarang menguasai teknologi, punya kreativitas, punya akses informasi yang luas. Mereka tidak mau hanya mendengarkan, mereka ingin mencipta!” tegasnya.
Jiacep dengan lantang menyampaikan bahwa guru masa kini wajib berubah menjadi collaborator. Guru tidak boleh lagi menjadi penguasa kelas, melainkan mitra yang bekerja bersama siswa dalam membangun pengetahuan.
Guru harus membuka percakapan, menyediakan ruang eksperimen, dan menghadirkan pembelajaran yang hidup, bukan kaku dan satu arah.
Di saat yang sama, siswa harus ditempatkan sebagai co-creators bukan konsumen pengetahuan, tetapi produsen gagasan. Mereka perlu diberi ruang untuk merancang solusi, mencipta karya, dan menghubungkan ilmu dengan kehidupan nyata.
“Siswa belajar bukan untuk sekadar nilai. Mereka belajar untuk menghasilkan nilai! Itu yang harus difasilitasi,” kata Jiacep.
Ia memperingatkan bahwa jika dunia pendidikan tidak segera berubah, Indonesia akan tertinggal di tengah persaingan global yang semakin sengit.
Kemudian, Ia menggambarkan bahwa masa depan hanya bisa diraih oleh ekosistem pendidikan yang kolaboratif, kreatif, dan bergerak cepat mengikuti dinamika teknologi.
“Kalau guru dan siswa masih terkurung dalam pola lama, kita akan kalah! Inilah saatnya sekolah menjadi pusat inovasi, bukan ruang menghafal,” serunya dengan nada peringatan.
Jiacep juga memberikan apresiasi mendalam kepada para pendidik yang terus berjuang dalam perubahan zaman. Namun ia menegaskan bahwa perjuangan itu tidak cukup bila tidak disertai keberanian untuk meninggalkan pola pikir tradisional.
“Guru bukan hanya mengajar. Guru memimpin perubahan. Dan mereka harus tumbuh bersama muridnya,” katanya.
Diakhir, Jiacep mengajak seluruh insan pendidikan untuk menjadikan Hari Guru Nasional sebagai momentum percepatan transformasi.
“Berhenti bertahan pada masa lalu. Lihat ke depan. Bangun pendidikan yang kolaboratif. Kolaborasi adalah masa depan dan masa depan itu dimulai hari ini! Selamat Hari Guru Nasional, hormat dan bangga untuk semua pendidik yang terus tumbuh bersama murid muridnya,” tutupnya. (el’s)




