Depok | Sketsa Online – Hari Raya Iduladha tidak hanya dimaknai sebagai momentum ibadah kurban, tetapi juga menjadi sarana penting dalam membangun pendidikan karakter, akhlak, dan kepedulian sosial anak di tengah perkembangan era digital atau era siber yang semakin pesat.
Wakil Ketua DPRD Kota Depok sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Depok, Hj. Yuni Indriany, S.E., M.Si., mengatakan derasnya arus teknologi dan informasi saat ini menghadirkan tantangan besar bagi keluarga dalam mendidik anak.
Kehadiran gawai dan media sosial yang semakin dominan membuat anak-anak lebih banyak berinteraksi di ruang digital dibanding lingkungan sosial secara langsung.
Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan penguatan pendidikan moral dan akhlak sejak dini agar anak tidak kehilangan nilai empati, kepedulian, dan rasa kebersamaan di tengah kehidupan modern.
“Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Karena itu, momentum Iduladha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga tentang menanamkan nilai keikhlasan, pengorbanan, dan ketaatan kepada Allah SWT sejak dini,” ujar Hj. Yuni pada Rabu (20/5/26).
Ia menjelaskan, nilai-nilai Iduladha memiliki banyak pelajaran penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam pola pengasuhan anak di lingkungan keluarga.
Mulai dari membiasakan sikap peduli terhadap sesama, menanamkan rasa syukur, mengajarkan arti berbagi, hingga membentuk karakter yang rendah hati dan bertanggung jawab.
Pendidikan akhlak, kata dia, tidak selalu harus dilakukan melalui cara formal atau rumit. Nilai tersebut justru dapat dibangun dari kebiasaan sederhana di rumah yang dilakukan secara konsisten oleh orang tua.
Misalnya dengan mengajak anak berbagi makanan kepada tetangga, membantu warga yang membutuhkan, membiasakan mengucapkan terima kasih dan bersyukur, hingga melibatkan anak dalam kegiatan sosial saat Iduladha berlangsung.
“Anak-anak perlu diajak memahami bahwa Iduladha mengajarkan tentang arti pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Dari situ mereka belajar bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang membantu dan memperhatikan orang lain,” tuturnya.
Tak hanya itu, Hj. Yuni juga menilai kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi salah satu teladan penting dalam membangun pendidikan karakter anak. Kisah tersebut mengandung nilai tentang keimanan, keteguhan hati, kepatuhan kepada Allah SWT, serta hubungan keluarga yang dibangun atas dasar kasih sayang dan keikhlasan.
Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan diterapkan dalam kehidupan keluarga modern, terutama ketika orang tua menghadapi tantangan pengasuhan di era digital yang semakin kompleks.
Di tengah perkembangan teknologi saat ini, ia menyoroti pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi aktivitas anak, termasuk dalam penggunaan media digital.
Anak membutuhkan perhatian dan komunikasi yang hangat agar tidak tumbuh menjadi pribadi yang individualistis dan terlalu bergantung pada dunia maya.
Karena itu, pendidikan karakter dinilai tidak cukup hanya disampaikan melalui nasihat, tetapi harus diwujudkan dalam keteladanan nyata di lingkungan keluarga.
“Anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika orang tua membiasakan sikap peduli, sabar, disiplin, dan gemar berbagi, maka nilai itu akan lebih mudah tertanam dalam diri anak,” katanya.
Ia mencontohkan, momentum Iduladha dapat dimanfaatkan orang tua untuk mengajak anak melihat proses pembagian daging kurban, berinteraksi dengan masyarakat sekitar, hingga memahami pentingnya membantu warga yang membutuhkan.
Selain membangun kepedulian sosial, kegiatan tersebut juga dapat mempererat hubungan emosional anak dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Lebih lanjut, Hj. Yuni menambahkan suasana rumah yang penuh kasih sayang, perhatian, dan nilai religius menjadi fondasi penting dalam membentuk ketahanan moral anak di tengah pengaruh negatif era digital.
Langkah sederhana seperti membiasakan doa bersama, makan bersama keluarga, berdiskusi secara terbuka, serta mengajak anak memahami makna ibadah dinilai mampu membangun kedekatan emosional sekaligus memperkuat pendidikan akhlak dalam keluarga.
“Nilai Iduladha jangan berhenti menjadi seremoni tahunan, tetapi harus menjadi pembelajaran sosial dan spiritual yang membentuk akhlak anak dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Menutup pernyataannya, Hj. Yuni berharap melalui momentum Iduladha para orang tua, khususnya ibu, dapat semakin aktif menghadirkan pendidikan moral di lingkungan keluarga agar lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati sosial, akhlak mulia, serta ketahanan moral dalam menghadapi tantangan era siber.
“Ketika pendidikan akhlak dibangun sejak kecil di lingkungan keluarga, insyaAllah anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang beriman, berakhlak, dan peduli terhadap sesama,” tutupnya. (el’s)




