Depok | Sketsa Online – Tragedi di Bekasi Timur yang merenggut korban jiwa, dengan mayoritas korban merupakan perempuan pekerja, menyisakan duka mendalam. Peristiwa ini sekaligus menyoroti kerentanan perempuan dalam mobilitas harian, terutama saat menggunakan transportasi publik demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Wakil Ketua DPRD Kota Depok sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Depok, Hj. Yuni Indriany, menyampaikan belasungkawa dan keprihatinannya atas musibah tersebut. Sebagai legislator perempuan, ia mengaku turut merasakan kesedihan mendalam dan memahami beratnya perjuangan para korban.
“Saya sangat berduka. Saya bisa membayangkan bagaimana perjuangan mereka setiap hari, berangkat pagi dan pulang petang demi keluarga. Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh yang berjuang tanpa lelah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” ujarnya, pada Rabu (29/4/2026).
Menurut Hj. Yuni, tragedi ini tidak boleh dipandang sebagai peristiwa biasa. Ia menegaskan bahwa keselamatan masyarakat, khususnya perempuan pekerja, harus menjadi perhatian utama semua pihak.
“Tidak boleh ada satu pun warga yang kehilangan rasa aman saat menjalani perjuangan hidupnya,” tegasnya.
Di tengah duka tersebut, Hj. Yuni juga menyampaikan pesan kepada para ibu, pekerja, dan perempuan tangguh di Kota Depok yang setiap hari menggunakan KRL maupun moda transportasi lainnya. Ia menyampaikan penghormatan atas keteguhan mereka dalam menjalankan peran ganda sebagai pencari nafkah sekaligus penggerak keluarga.
“Ibu-ibu adalah pahlawan keluarga. Tetaplah semangat, jaga kesehatan, dan utamakan keselamatan dalam perjalanan. Jika ada fasilitas publik yang belum aman atau belum nyaman, jangan ragu untuk menyuarakan keluhan. Suara perempuan harus didengar,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemerintah harus hadir secara nyata dan responsif terhadap kebutuhan perempuan pekerja. Kebijakan yang diambil tidak boleh berhenti pada tataran administratif, tetapi harus mampu memberikan perlindungan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sejumlah langkah konkret pun didorong, mulai dari peningkatan keamanan transportasi publik, pengawasan di titik-titik rawan, penyediaan fasilitas umum yang ramah perempuan, hingga penerangan jalan yang memadai serta sistem pengaduan yang cepat dan responsif.
“Harus ada implementasi nyata yang dirasakan langsung oleh perempuan pekerja. Kebijakan riil inilah yang harus menjadi perisai bagi mereka,” ujarnya.
Tak hanya itu, Hj. Yuni menambahkan, perempuan tidak hanya dituntut kuat dalam menjalani peran sehari-hari, tetapi juga berhak mendapatkan perlindungan dan penghargaan yang layak. Ia mengungkapkan bahwa perempuan merupakan tiang keluarga sekaligus pilar penting dalam pembangunan.
“Saya berharap perempuan-perempuan pejuang keluarga di Depok tidak hanya dituntut untuk kuat, tetapi juga mendapatkan perlindungan yang nyata. Pemerintah harus menghadirkan transportasi yang aman, fasilitas umum yang ramah perempuan, penerangan jalan yang memadai, serta akses pengaduan yang cepat dan responsif. Selain itu, diperlukan kebijakan yang berpihak pada pekerja perempuan dan ibu rumah tangga produktif,” paparnya.
“Perempuan adalah tiang keluarga sekaligus pilar pembangunan. Sudah seharusnya mereka dihargai, dilindungi, dan dimuliakan. Kota Depok harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi seluruh perempuan,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, ia menegaskan bahwa tragedi di Bekasi Timur menjadi momentum refleksi bersama bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sistem perlindungan terhadap perempuan di ruang publik.
“Kita tidak boleh hanya berduka, tetapi harus bergerak. Ke depan, tidak boleh ada lagi perempuan yang merasa takut saat berangkat dan pulang bekerja. Depok harus menjadi kota yang aman, nyaman, dan berpihak pada perempuan,” tutupnya. (el’s)




