Depok | Sketsa Online – Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-92 Gerakan Pemuda Ansor menjadi momentum refleksi yang sarat makna tentang keberlanjutan perjuangan ulama, penguatan nilai keislaman, serta peran strategis generasi muda dalam menjaga harmoni kehidupan berbangsa.
Bagi Dr. Hj. Qonita Lutfiyah S.E., M.M., politisi perempuan Kota Depok yang lahir dari lingkungan pesantren, Ansor bukan sekadar organisasi, melainkan jalan khidmat yang mempertemukan iman, ilmu, dan amal dalam satu tarikan napas perjuangan.
Sebagai putri dari ulama karismatik KH Syukron Ma’mun, Hj. Qonita memaknai warisan pesantren bukan hanya sebagai identitas, tetapi juga amanah spiritual yang harus dijaga dan diteruskan. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, pesantren menjadi pusat pembentukan insan beradab, melahirkan generasi yang tidak hanya alim dalam ilmu, tetapi juga santun dalam akhlak dan kuat dalam komitmen kebangsaan.
Ia menegaskan bahwa nilai utama yang diwariskan para ulama adalah keseimbangan antara hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia).
“Nilai inilah yang menjadi fondasi gerakan Ansor, sehingga setiap aktivitas kader tidak hanya bernilai sosial, tetapi juga bernilai ibadah,” ujarnya di Harla GP ke-92 tahun pada Jumat (24/4/26).
Hj. Qonita juga menilai bahwa proses kaderisasi di tubuh Ansor merupakan madrasah kehidupan yang membentuk pemuda disiplin, berintegritas, serta memiliki kesadaran kolektif untuk mengabdi kepada umat dan bangsa.
“Ansor mendidik kita untuk memahami bahwa pengabdian adalah jalan sunyi yang penuh keikhlasan. Tidak semua kerja-kerja sosial terlihat, tetapi setiap niat baik akan bernilai di hadapan Allah,” tuturnya.
Selama lebih dari sembilan dekade, Ansor dinilai konsisten menjalankan fungsi strategis sebagai penjaga nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat, toleran, dan inklusif. Dalam konteks kebangsaan, Ansor juga menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hj. Qonita secara khusus menyoroti peran Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sebagai cerminan nilai ikhlas, tangguh, dan siap berkhidmat kapan pun dibutuhkan.
“Banser adalah teladan nyata dari pengamalan prinsip khidmah lil ummah, yang tidak mengenal lelah dalam menjaga keamanan kegiatan keagamaan maupun terlibat dalam aksi kemanusiaan,” ungkapnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan zaman yang dihadapi generasi saat ini semakin kompleks. Arus globalisasi, perkembangan teknologi, serta perubahan sosial menuntut Ansor untuk terus berbenah tanpa kehilangan jati diri.
Dalam perspektif edukatif, Hj. Qonita mengungkapkan sejumlah langkah penguatan ke depan.
Pertama, penguatan ilmu dan adab secara seimbang, di mana kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan kematangan spiritual.
Kedua, penguatan literasi digital sebagai bagian dari dakwah, agar kader Ansor mampu menjadi penyebar pesan damai sekaligus penangkal hoaks dan paham ekstrem di ruang digital.
Ketiga, kemandirian ekonomi berbasis pesantren melalui kewirausahaan, koperasi, dan pengembangan UMKM.
“Kemandirian ekonomi adalah bagian dari menjaga martabat umat,” tegasnya.
Keempat, penguatan ukhuwah dalam tiga dimensi ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah sebagai fondasi menjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.
Kelima, perluasan kolaborasi inklusif, termasuk membuka ruang lebih besar bagi perempuan dalam gerakan sosial dan keagamaan.
“Perempuan memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan keluarga dan masyarakat,” tambahnya.
Sebagai wakil rakyat dari Partai Persatuan Pembangunan, Hj. Qonita juga menekankan pentingnya menjembatani nilai-nilai keagamaan dengan kebijakan publik.
Ia mendorong agar semangat pengabdian yang tumbuh di lingkungan Ansor dapat diterjemahkan dalam program nyata, seperti penguatan pendidikan berbasis pesantren, perlindungan sosial, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Nilai-nilai yang diajarkan di pesantren dan Ansor harus hadir dalam kehidupan nyata masyarakat. Di sinilah pentingnya sinergi antara gerakan sosial dan kebijakan publik,” jelasnya.
Menutup keterangannya, Hj. Qonita menyampaikan pesan spiritual kepada seluruh kader GP Ansor di usia ke-92. Ia mengajak agar setiap langkah perjuangan selalu dilandasi niat yang lurus dan orientasi pada kemaslahatan umat.
“Ansor harus terus menjadi cahaya di tengah zaman. Jadilah pemuda yang tidak hanya kuat dalam gagasan, tetapi juga tulus dalam pengabdian. Karena sejatinya, keberkahan perjuangan tidak diukur dari seberapa besar yang kita capai, tetapi seberapa ikhlas kita menjalaninya. Semoga Ansor senantiasa menjadi penjaga nilai, penggerak kebaikan, dan penerus perjuangan para ulama,” tutupnya. (el’s)




