Depok | Sketsa Online – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukmajaya 2 (Tole Iskandar) menunjukkan keseriusannya mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menerapkan standar operasional prosedur (SOP) ketat, higienis, dan berbasis keselamatan kerja sejak hari pertama operasional, pada Senin (12/1/2025).
Sejak memasuki area dapur, seluruh petugas diwajibkan mematuhi protokol kesehatan dan kebersihan, mulai dari cuci tangan lima langkah, penggunaan tisu sekali pakai, masker, hairnet, sarung tangan, hingga penyimpanan barang pribadi di loker khusus. Alur kerja dapur juga dipisahkan secara jelas, dari ruang persiapan, pengolahan, hingga penyajian.
Kepala Dapur SPPG Sukmajaya 2, Bungaran Shallom Adonai Ompusunggu, menyatakan bahwa dapur MBG telah disiapkan dengan peralatan modern berskala besar untuk menjaga efisiensi dan konsistensi kualitas produksi.
“Kami menggunakan steamer nasi kapasitas besar, sekali masak bisa mencapai 30 sampai 50 kilogram. Selain itu ada fryer khusus kentang, alat masak telur massal, serta kompor bertekanan tinggi untuk memasak dalam jumlah besar,” ujar Bungaran.
Dalam penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), Bungaran menegaskan bahwa standar keamanan menjadi perhatian utama sejak awal operasional.
“Seluruh petugas wajib menggunakan sepatu karet dan boots. Kami juga menyiapkan APAR, kotak P3K, serta menggunakan material stainless steel di area dapur untuk meminimalkan risiko kecelakaan dan kebakaran,” katanya.
Pengelolaan bahan pangan dilakukan dengan pengendalian suhu ketat. Gudang basah untuk daging dan ikan disimpan pada suhu minus 18 derajat Celsius, chiller bahan segar pada suhu 4 derajat Celsius, serta gudang kering di kisaran 25 derajat Celsius. Pencatatan suhu dilakukan secara rutin setiap hari.
“Prinsip kami sederhana, makanan harus aman sampai dikonsumsi. Setelah disajikan, makanan maksimal dikonsumsi dalam waktu dua jam. Lebih dari itu, risiko pertumbuhan bakteri meningkat,” tegas Bungaran.
Pada hari pertama operasional, SPPG Sukmajaya 2 memproduksi 1.148 porsi MBG yang didistribusikan ke SDN Cipayung dan SDN Sukmajaya 5. Data alergi siswa turut dicatat untuk penyesuaian menu.
“Jika ada siswa alergi nasi, karbohidrat diganti kentang. Alergi ayam kami ganti telur, tanpa mengurangi nilai gizi,” jelasnya.
SPPG Sukmajaya 2 didukung 51 personel, dengan 48 di antaranya merupakan warga sekitar yang direkrut melalui proses seleksi ketat dari lebih 300 pendaftar.
“Kami ingin program ini tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi anak, tapi juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal,” kata Bungaran.
Ke depan, layanan MBG akan diperluas ke jenjang SMP, SMA, dan SMK, dengan rencana penambahan distribusi mulai minggu ketiga atau keempat operasional.
Dengan penerapan SOP ketat dan standar higienis berbasis K3, SPPG Sukmajaya 2 diproyeksikan menjadi model dapur MBG yang aman, terukur, dan berkelanjutan dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. (el’s)




