Jakarta | Sketsa Online – Upaya percepatan Proyek Lapangan Abadi Blok Masela kembali mendapatkan angin segar. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, turun langsung membereskan berbagai hambatan perizinan yang selama ini membuat proyek strategis tersebut berjalan lambat.
Dalam sidang hambatan investasi (debottlenecking) di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, Purbaya mengumpulkan jajaran INPEX Masela Ltd beserta para pemangku kepentingan terkait. Pertemuan ini difokuskan untuk mencari solusi konkret atas proyek yang telah direncanakan selama puluhan tahun namun belum juga rampung.
INPEX Diberi Perlakuan Investor Prioritas
Sebagai proyek yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) dan menjadi salah satu proyek hulu migas terbesar di Indonesia, Blok Masela mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Purbaya bahkan menyatakan akan memberikan ruang pelaporan rutin bagi INPEX dan mitra konsorsiumnya.
“Mereka bisa lapor secara reguler kapan pun. Nanti kami bereskan di sini. Jadi, saya akan perlakukan mereka sebagai investor spesial,” ujar Purbaya.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mempercepat realisasi investasi sektor energi, khususnya di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, lokasi proyek berada.
Proses Amdal Hampir Rampung
Terkait dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), Purbaya mengungkapkan bahwa prosesnya telah mendekati tahap akhir. Meski demikian, pemerintah tetap akan mendalami aspek lanjutan guna memastikan seluruh persyaratan terpenuhi secara komprehensif.
Sebelumnya, INPEX telah mengantongi Persetujuan Pelepasan Kawasan Hutan untuk pembangunan kilang darat (Onshore LNG) dari Kementerian Kehutanan pada Januari 2026. Sementara itu, Persetujuan Lanjutan Amdal dari Kementerian Lingkungan Hidup terbit pada awal Februari 2026.
Investasi Tembus 20 Miliar Dolar AS
Project Director INPEX Masela, Harrad Blinco, menyebut nilai belanja modal (capex) proyek Blok Masela diproyeksikan melampaui 20 miliar dolar AS. Angka ini berpotensi meningkat seiring inflasi global dan dinamika pasar internasional dibandingkan saat proses tender awal dilakukan.
Blok Masela ditargetkan memiliki kapasitas produksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA), penyaluran gas domestik sebesar 150 MMSCFD, serta produksi kondensat sekitar 35.000 barel per hari.
Tak hanya itu, proyek ini juga mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) guna menghasilkan LNG rendah emisi, sejalan dengan tuntutan pasar global terhadap energi yang lebih ramah lingkungan.
Infrastruktur Terintegrasi dan Teknologi Modern
Dalam tahap pengembangan, proyek ini akan melibatkan 11 sumur subsea yang terhubung ke fasilitas FPSO (Floating Production Storage and Offloading) untuk pemrosesan awal gas. Selanjutnya, gas akan dialirkan melalui pipa sepanjang 180 kilometer menuju kilang LNG di Pulau Yamdena, dekat Saumlaki.
INPEX berharap pemerintah dapat terus melakukan intervensi melalui penyederhanaan regulasi dan percepatan proses perizinan. Dengan demikian, kontraktor dapat segera masuk dan membangun proyek secara lebih cepat serta efisien dari sisi biaya.
Percepatan Blok Masela dinilai krusial tidak hanya bagi ketahanan energi nasional, tetapi juga bagi pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia. Jika hambatan perizinan benar-benar dapat dibereskan, proyek ini berpotensi menjadi motor penggerak investasi besar di sektor migas nasional.




