Depok | Sketsa Online – Dari sepetak lahan tidur yang pernah dibiarkan gelap, kotor, dan rawan kriminal, lahirlah sebuah gerakan penghijauan yang kini menjadi salah satu titik transformasi lingkungan terbesar di Kota Depok.
Sosok di balik perubahan itu adalah Bowo Sungkowo Pujodimono dikenal sebagai Pakde Bowo yang selama satu dekade terakhir berjuang dalam senyap, mengubah tanah yang dilupakan menjadi ruang hidup yang produktif.
Perjuangan Pakde Bowo dimulai dari keresahan sederhana. Setiap hari, ia melewati Jalan Raya Juanda dan menyaksikan betapa kawasan itu dipenuhi semak, sampah, dan minim penerangan.
“Waktu itu saya melihat kumuhnya Jalan Raya Juanda, dari rel kereta api sampai Jalan Raya Bogor. Dulu tempat itu sepi dan rawan begal,” tuturnya.
Rasa tidak nyaman itu perlahan berubah menjadi tekad lingkungan harus diperbaiki, apa pun risikonya.
Langkah awal Pakde Bowo tidak mudah. Saat ia mengutarakan keinginan untuk menata jalur pipa gas dan lahan sekitar Juanda, banyak warga meremehkan.
Namun Pakde Bowo tidak gentar. Ia menyusun rencana kecil bagaimana menata ulang lahan, menata pedagang tanaman, membuat zonasi aman dari pipa, dan menjaga estetika jalur.
Pada 2015, ia memberanikan diri menghadap Pertamina dan Kementerian PUPR untuk meminta izin mengelola jalur tersebut.
“Waktu itu saya hanya membawa niat baik. Tidak ada modal, tidak ada dukungan, tapi saya yakin lingkungan ini harus berubah,” katanya.
Izin itu akhirnya diberikan, menjadi pintu masuk bagi perubahan besar yang kelak menghidupkan kembali kawasan itu.
“Akhirnya di lahan Pertamina kami jadikan tempat para pedagang tanaman hias, sebagai awal langkah penghijauan di Jalan Raya Juanda,” kata Pakde Bowo.
Dengan penataan rapi dan disiplin wilayah, para pedagang diberi ruang berjualan tanpa mengganggu marka jalan maupun jalur pipa.
“Mereka berjualan tidak melanggar marka jalan, tidak mengganggu jalur pipa gas,” tegasnya.
Kini, hampir 40 persen pedagang tanaman hias di Kota Depok menggantungkan hidup di jalur tersebut. Kawasan yang dulu gelap berubah menjadi rentang warna hijau yang menyala di tengah hiruk-pikuk kota.
Gerakan hijau Pakde Bowo tidak berhenti di sana. Lahan tidur seluas 1,5 hektare dekat Tol Cijago yang sebelumnya tidak dimanfaatkan, kini menjadi ladang urban farming. Ia mengajak warga sekitar membentuk kelompok tani beranggotakan 25 orang. Mereka membersihkan lahan, menggemburkan tanah, membuat bedengan, hingga menyiapkan irigasi manual.
“Kami memaksimalkan urban farming ini bekerja sama dengan Kodim 0508 Depok dalam rangka ketahanan pangan,” jelasnya.
Semua dilakukan dengan peralatan sederhana dan semangat gotong royong.
Hasil perjuangan itu tidak kecil. Panen bawang merah pertama mencapai lima ton dan disaksikan langsung Korem 051/Wijayakarta. Bahkan, Menteri ATR kala itu, Agus Harimurti Yudhoyono, turut hadir saat penanaman perdana.
“Mas Agus Harimurti Yudhoyono waktu masih menjabat Menteri ATR ikut menanam perdana,” kenang Pakde Bowo dengan bangga.
Dari panen pertama itu, semakin banyak warga yang terinspirasi bahwa lahan tidur bisa menjadi sumber kehidupan, bukan sekadar ruang terbuang.
Kini, jika seseorang melewati Juanda, ia tidak hanya melihat rimbun cabai, bawang, dan sayuran produktif yang tumbuh subur. Ia menyaksikan hasil dari kerja keras seorang warga yang memulai perubahan di saat banyak orang memilih diam.
Juanda bukan lagi jalur yang kotor, gelap, dan rawan, tetapi menjadi ruang hijau yang hidup, aman, dan memberi manfaat ekonomi serta sosial bagi masyarakat.
Perubahan yang diinisiasi Pakde Bowo menghadirkan harapan baru bagi arah pembangunan kota. Apa yang ia mulai menunjukkan bahwa masa depan Depok tidak harus didominasi beton dan gedung tinggi, tetapi dapat tumbuh seimbang antara pembangunan dan keberlanjutan.
Ruang hijau yang ia bangun bukan hanya mempercantik kota, tetapi menjadi fondasi bagi model kota masa depan kota yang menempatkan warga sebagai aktor utama perubahan, kota yang memberi ruang tumbuh bagi alam, dan kota yang tidak kehilangan identitas humanisnya.
Terbukanya kembali lahan tidur Juanda menjadi bukti bahwa sebuah kota dapat berubah jika ada keberanian untuk memulainya, bahkan dari satu orang saja.
Dari tangan seorang warga, lahir ruang hidup yang membuat kota kembali bernapas. Dari tanah yang dulu terlupakan, tumbuh harapan baru untuk generasi berikutnya. Dan dari perjuangan Pakde Bowo, Depok sedang membangun masa depan yang lebih hijau, lebih sehat, dan lebih manusiawi. (el’s)




