Depok | Sketsa Online – Memasuki hari kedua pelaksanaan, Lebaran Depok yang digelar di Alun-Alun Kota Depok pada Selasa (6/5) berlangsung semakin semarak. Antusiasme masyarakat terus meningkat, tercermin dari tingginya partisipasi pengunjung yang tidak hanya datang untuk menyaksikan hiburan, tetapi juga terlibat dalam ruang pembelajaran budaya yang disuguhkan secara terbuka dan inklusif.
Kegiatan hari ini secara resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Depok. Dalam momentum tersebut, panitia mengangkat tradisi nyuci perabotan sebagai tema utama sebuah kearifan lokal yang merepresentasikan kebiasaan masyarakat Depok tempo dulu dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.
Ketua Panitia Lebaran Depok, H. Hamzah, menilai pengangkatan tradisi ini merupakan langkah strategis untuk menghadirkan kembali nilai-nilai dasar kehidupan yang mulai tergerus oleh perubahan zaman.
“Dulu, masyarakat menyambut Ramadan sebagai tamu agung. Maka seluruh aspek kehidupan dibersihkan mulai dari rumah, perabotan, hingga lingkungan sekitar. Namun yang paling utama adalah membersihkan hati. Ini adalah proses pembentukan nilai dan karakter,” ujar H. Hamzah.
Ia menegaskan, dalam praktiknya, tradisi nyuci perabotan mengandung dimensi edukatif yang kuat. Tradisi ini mengajarkan keteraturan, tanggung jawab, serta kesadaran kolektif terhadap lingkungan dan kehidupan sosial. Nilai-nilai tersebut dinilai sangat relevan untuk ditanamkan kepada generasi muda di tengah tantangan modernitas yang semakin kompleks.
H. Hamzah juga memaknai tradisi ini sebagai simbol transformasi. Setiap individu dan komunitas didorong untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki kekurangan, serta memperbarui komitmen dalam menjalani kehidupan yang lebih baik dan bermakna.
“Tradisi ini kita hadirkan kembali bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dipahami maknanya. Ini adalah cara kita mendidik anak-anak agar mengerti bahwa budaya memiliki filosofi yang dalam dan menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang beradab,” jelasnya.
Tak hanya itu, Lebaran Depok juga menghadirkan berbagai penampilan seni dan budaya dari sanggar-sanggar lokal. Ragam pertunjukan yang ditampilkan tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media transmisi nilai, pengetahuan, dan identitas budaya kepada masyarakat secara lebih kontekstual.
Untuk mendukung hal tersebut, panitia menyediakan dua panggung, yakni panggung utama dan panggung kedua di area belakang pendopo. Langkah ini dilakukan untuk memperluas ruang ekspresi sekaligus memperkuat fungsi edukatif kegiatan.
Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diajak memahami makna di balik setiap ekspresi budaya yang ditampilkan.
“Besok akan menjadi puncak keramaian. Lebih banyak performer akan hadir dengan variasi pertunjukan yang lebih luas, sehingga masyarakat bisa melihat kekayaan budaya kita secara lebih utuh,” tambah H. Hamzah.
Di sisi lain, Lebaran Depok juga dirancang sebagai ekosistem yang mengintegrasikan aspek budaya, sosial, dan ekonomi. Sebanyak 200 pelaku UMKM dilibatkan secara terkurasi, dengan penerapan sistem kupon yang bertujuan menciptakan distribusi transaksi yang lebih merata dan inklusif.
H. Hamzah menekankan bahwa penguatan ekonomi lokal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pelestarian budaya. Ketika kegiatan budaya mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata, maka keberlanjutannya akan semakin terjamin.
“Kita ingin memastikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berdampak secara simbolik, tetapi juga nyata bagi masyarakat. UMKM adalah tulang punggung ekonomi lokal, sehingga harus kita dorong agar tumbuh bersama,” ujarnya.
Ia memproyeksikan perputaran ekonomi selama empat hari pelaksanaan dapat mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah, terutama pada puncak acara seperti Ngubek Setu dan pawai budaya yang diperkirakan akan menarik puluhan ribu pengunjung.
Lebih lanjut, Lebaran Depok juga membawa pesan kuat tentang pentingnya inklusivitas sosial. Keterlibatan anak-anak berkebutuhan khusus dalam panggung pertunjukan menjadi wujud nyata bahwa ruang budaya adalah ruang bersama yang terbuka bagi semua kalangan.
“Kita ingin menegaskan bahwa Depok adalah rumah bersama. Siapa pun yang tinggal di sini, dengan latar belakang apa pun baik suku, budaya, maupun kondisi memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dan merasa memiliki,” tegas Hamzah.
Menurutnya, konsep “Depok Rumah Kita” merupakan prinsip dasar dalam membangun kota yang inklusif dan berdaya. Pelestarian budaya tidak hanya dimaknai sebagai upaya menjaga tradisi, tetapi juga sebagai sarana membangun kohesi sosial, memperkuat rasa kebersamaan, serta menumbuhkan empati di tengah keberagaman.
“Kalau kita mampu menjaga budaya sekaligus merawat kebersamaan, maka kita sedang membangun fondasi yang kuat bagi masa depan Depok. Kota ini tidak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga secara nilai dan karakter,” ujarnya.
Melalui Lebaran Depok, H. Hamzah berharap tercipta sinergi berkelanjutan antara pemerintah, komunitas, pelaku seni, dan masyarakat luas dalam menjaga serta mengembangkan budaya lokal. Ia menekankan bahwa kegiatan ini harus dipandang sebagai gerakan bersama yang memiliki dampak jangka panjang.
“Ini bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi gerakan edukatif dan kultural. Dari tradisi, kita belajar tentang kebersihan, kebersamaan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang kita dorong untuk membentuk generasi yang berkarakter, beradab, dan siap menghadapi masa depan,” tutupnya. (el’s)




