Lebih dari Sekadar Kebaya: Hj. Qonita Lutfiyah Ungkap Makna Kartini yang Sering Terlupakan

Depok | Sketsa Online – Peringatan Hari Kartini kerap identik dengan kebaya dan seremoni. Namun di balik itu, makna perjuangan perempuan sering kali tereduksi menjadi simbol semata. Padahal, semangat yang diwariskan Raden Ajeng Kartini jauh melampaui penampilan, ia berbicara tentang keberanian berpikir, hak atas pendidikan, dan kesetaraan yang hingga kini masih terus diperjuangkan.

Hal ini disoroti oleh legislator perempuan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Depok, Dr. Hj. Qonita Lutfiyah S.E.,M.M. Ia mengajak masyarakat memaknai Hari Kartini secara lebih substansial dan relevan dengan tantangan zaman.

Menurut Hj. Qonita, Kartini bukan hanya simbol emansipasi, tetapi pelopor perubahan pola pikir masyarakat terhadap peran perempuan. Pada masanya, perempuan menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari akses pendidikan hingga kebebasan menentukan pilihan hidup.

“Melalui gagasan dan keberaniannya, Kartini membuka jalan bagi lahirnya kesetaraan yang kini mulai dirasakan oleh perempuan Indonesia,” ujarnya pada Senin (20/4/26).

Baca juga:  KPK Buka Peluang Tahanan Ajukan Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

Namun demikian, Hj. Qonita menilai perjuangan tersebut belum sepenuhnya selesai. Meski perempuan masa kini memiliki akses lebih luas dalam pendidikan dan karier, berbagai tantangan masih ada, seperti stereotip gender, kesenjangan kesempatan, serta minimnya keterwakilan perempuan di posisi strategis.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga awal 2026 tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan masih stagnan di kisaran 56–57 persen. Kesenjangan dengan laki-laki pun masih tergolong lebar. Kondisi ini menunjukkan bahwa akses saja belum cukup, perempuan masih menghadapi hambatan struktural di dunia kerja.

“Kesetaraan hari ini tidak hanya soal kesempatan, tetapi juga tentang pengakuan dan kualitas peran. Perempuan masih sering menghadapi hambatan yang tidak selalu terlihat,” jelasnya.

Dalam pandangannya, pendidikan tetap menjadi kunci utama dalam melanjutkan semangat Kartini. Perempuan berpendidikan tidak hanya mampu membangun kemandirian, tetapi juga berperan dalam menciptakan perubahan di lingkungan sekitarnya.

“Perempuan memiliki potensi besar sebagai agen perubahan, baik di dalam keluarga maupun di ruang publik,” katanya.

Baca juga:  Cari Keadilan! Skandal Rumah Tangga Terkuak: Dugaan Perselingkuhan Hingga Kuretase, Suami Tempuh Jalur Hukum

Seiring itu, Hj. Qonita juga menegaskan bahwa kemajuan perempuan perlu tetap berakar pada nilai-nilai moral dan spiritual. Perempuan tidak hanya dituntut cerdas dan mandiri, tetapi juga memiliki pegangan kuat pada ajaran agama sebagai landasan dalam bersikap dan mengambil keputusan.

“Nilai religius penting untuk menjaga integritas, keseimbangan hidup, serta arah perjuangan agar tetap selaras dengan etika dan norma masyarakat,” tegasnya.

Tak hanya itu, Ia juga menekankan pentingnya kehadiran perempuan dalam ruang-ruang pengambilan keputusan. Representasi, katanya, bukan sekadar soal kuantitas, melainkan kualitas perspektif. Kehadiran perempuan diyakini mampu memperkaya arah kebijakan agar lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

“Ketika perempuan diberi ruang untuk berpartisipasi, maka kebijakan yang dihasilkan akan lebih mencerminkan kebutuhan masyarakat secara menyeluruh,” tambahnya.

Lebih lanjut, Hj. Qonita turut mengajak generasi muda perempuan untuk terus mengembangkan diri dan tidak ragu mengambil peran. Ia mengungkapkan tantangan terbesar perempuan masa kini sering kali datang dari dalam diri, seperti kurangnya rasa percaya diri atau ketakutan untuk melangkah.

Baca juga:  Kelbes Guru dan Tenaga Administrasi SMAN 1 Natal Gelar Bukber, Perkuat Nilai Ukhuwah Islamiyah

Menutup pernyataannya Hj. Qonita menegaskan, hari Kartini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan pengingat bahwa perjuangan perempuan tidak pernah benar-benar usai. Semangat Kartini menuntut keberanian untuk terus melangkah, berpikir kritis, dan mengambil peran dalam perubahan zaman.

“Perempuan masa kini memiliki tanggung jawab bukan hanya untuk menikmati hasil perjuangan, tetapi juga melanjutkannya melalui kontribusi nyata dan keberanian menjadi bagian dari solusi,” tutupnya.

Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi hidup dalam setiap langkah perempuan yang berani bermimpi, bersuara, dan menentukan arah masa depan. Dengan demikian, Kartini tidak hanya dikenang sebagai tokoh sejarah, tetapi hadir dalam setiap perempuan Indonesia yang memilih untuk maju dan membawa perubahan. (el’s)

Latest

Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Natal, Camat Natal Bacakan Pidato Ketua BPIP

Mandailing Natal, | Sketsa Online.com - Peringatan Hari Lahir...

Belajar Melepas untuk Memberi: Hikmah Kurban ala Dandim 0508/Depok

Depok | Sketsa Online - Hari Raya Idul Adha...

Sembelih Ego Lewat Kurban, Iwan Setiawan Sebut Idul Adha Momentum Muhasabah di Era Modern

Depok | Sketsa Online – Hari Raya Idul Adha...

Newsletter

Don't miss

Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Natal, Camat Natal Bacakan Pidato Ketua BPIP

Mandailing Natal, | Sketsa Online.com - Peringatan Hari Lahir...

Belajar Melepas untuk Memberi: Hikmah Kurban ala Dandim 0508/Depok

Depok | Sketsa Online - Hari Raya Idul Adha...

Sembelih Ego Lewat Kurban, Iwan Setiawan Sebut Idul Adha Momentum Muhasabah di Era Modern

Depok | Sketsa Online – Hari Raya Idul Adha...

Hidupkan Spirit Pengorbanan Nabi Ibrahim, White House Premier Bagikan 4.000 Paket Daging Kurban

Depok | Sketsa Online - Momentum Idul Adha tidak...

Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Natal, Camat Natal Bacakan Pidato Ketua BPIP

Mandailing Natal, | Sketsa Online.com - Peringatan Hari Lahir Pancasila perdana dilaksanakan di Lapangan Merdeka Natal pada Senin (1/6/2026). Bertindak selaku Inspektur Upacara (Irup) Camat...

Belajar Melepas untuk Memberi: Hikmah Kurban ala Dandim 0508/Depok

Depok | Sketsa Online - Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah dimaknai Kodim 0508/Depok bukan sekadar momentum penyembelihan hewan kurban, tetapi juga sebagai sarana...

Sembelih Ego Lewat Kurban, Iwan Setiawan Sebut Idul Adha Momentum Muhasabah di Era Modern

Depok | Sketsa Online – Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah tidak hanya dimaknai sebagai ibadah penyembelihan hewan kurban semata, tetapi juga menjadi momentum...