Depok | Sketsa Online – Ambrolnya turap di bantaran Kali Pesanggrahan, RT 05 RW 03, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kota Depok, menjadi pengingat pentingnya penguatan infrastruktur bantaran sungai secara berkelanjutan.
Peristiwa yang terjadi tidak lama setelah pembangunan turap selesai itu diduga dipicu faktor alam dan perubahan kondisi tanah di sekitar aliran kali.
Ketua DPC PPP Kota Depok, Mazhab HM, mengatakan dirinya telah meninjau langsung lokasi yang berada di belakang Kampus Madinatul Ilmi. Menurutnya, kondisi tersebut perlu dipahami secara objektif sebagai bagian dari dinamika alam yang kerap terjadi di wilayah bantaran sungai.
“Lokasinya di Kali Pesanggrahan RT 05 RW 03 Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, tepat di belakang Kampus Madinatul Ilmi. Saya lihat memang baru selesai penurapan dan kami tentu mengucapkan terima kasih kepada pemerintah kota, khususnya PUPR, yang sudah melakukan pembangunan,” ujar Mazhab pada Rabu (13/5/26).
Namun, tidak lama setelah proses penurapan selesai, bagian sisi kanan bantaran kali justru mengalami ambrol. Mazhab menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa kawasan bantaran sungai memiliki karakter alam yang dinamis dan tidak selalu mudah diprediksi.
“Karena memang faktor alam, kadang ada hal-hal yang tidak terduga. Begitu penurapan selesai, di sisi kanan yang sudah diturap malah ambrol,” katanya.
Ia menjelaskan, wilayah bantaran kali sangat dipengaruhi oleh perubahan cuaca, debit air, hingga kondisi struktur tanah. Ketika intensitas hujan meningkat, arus air yang besar dapat memicu pergeseran tanah dan mempercepat erosi di sekitar bantaran sungai.
Kondisi seperti itu tidak hanya berpotensi terjadi di satu titik, tetapi juga dapat muncul di wilayah lain yang memiliki karakteristik serupa.
“Kalau di satu tempat saja bisa seperti itu, tentu hal yang sama juga bisa terjadi di banyak tempat lainnya,” tuturnya.
Tak hanya itu, Mazhab menjelaskan, longsor di bantaran kali bukan hanya berdampak pada kerusakan infrastruktur, tetapi juga dapat memicu persoalan lingkungan yang lebih besar. Material tanah yang longsor berpotensi masuk ke aliran sungai dan menyebabkan penyempitan maupun penyumbatan arus air.
Jika kondisi tersebut terus terjadi tanpa penanganan berkelanjutan, maka risiko banjir di kawasan permukiman warga juga akan meningkat.
“Salah satu penyebab banjir bisa jadi dari longsor di pinggir kali. Karena ketika longsoran masuk ke aliran air, itu bisa menjadi sumbatan dan mempersempit jalur air,” jelasnya.
Karena itu, Mazhab mendorong Pemerintah Kota Depok agar program penurapan dan penguatan bantaran kali tidak hanya dilakukan sebagai penanganan sementara, tetapi menjadi bagian dari strategi jangka panjang mitigasi bencana dan perlindungan lingkungan.
Lebih lanjut, Ia menilai penguatan bantaran kali memiliki fungsi penting dalam menjaga stabilitas tanah, memperlancar aliran air, serta melindungi kawasan permukiman dari ancaman longsor dan banjir.
“Saya kira pemerintah kota memang perlu memprioritaskan anggaran penurapan karena ini menyangkut kelestarian alam juga. Jadi bukan hanya soal membangun turap, tetapi bagaimana menjaga lingkungan dan mencegah dampak bencana di kemudian hari,” ungkapnya.
Menutup pernyataannya, Mazhab menegaskan bahwa ambrolnya turap tersebut bukan disebabkan human error. Faktor alam tetap menjadi tantangan utama dalam pembangunan infrastruktur di kawasan bantaran kali.
“Ke depan saya berharap penanganan bantaran sungai di Kota Depok dapat dilakukan secara lebih menyeluruh, mulai dari pembangunan fisik, pengawasan kondisi tanah, normalisasi aliran air, hingga pemeliharaan rutin agar ketahanan infrastruktur terhadap perubahan alam semakin kuat dan masyarakat juga merasa lebih nyaman serta aman, ” tutupnya. (el’s)




