Depok | Sketsa Online – Berakhirnya rangkaian Lebaran Depok 2026 meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat Kota Depok. Selama sepekan penuh, mulai 4 hingga 9 Mei 2026, kawasan Alun-Alun Grand Depok City (GDC) dipadati ribuan pengunjung yang datang menikmati pesta budaya bertema Depok Rumah Kita.
Selama sepekan, kawasan Alun-Alun GDC berubah menjadi ruang budaya raksasa tempat tradisi lama kembali hidup di tengah wajah modern Kota Depok.
Melalui tema tersebut, Lebaran Depok 2026 sukses menghadirkan perpaduan tradisi, hiburan rakyat, pesta kuliner, pertunjukan seni, hingga ruang nostalgia yang menyatukan masyarakat lintas generasi.
Tidak hanya warga Depok, masyarakat dari Jakarta, Bogor, Tangerang, hingga Bekasi turut memadati area acara hampir setiap hari. Kepadatan pengunjung bahkan mulai terlihat sejak sore hingga malam hari, terutama saat parade budaya dan konser musik berlangsung.
Lampu panggung berskala besar, deretan tenant UMKM yang selalu ramai, alunan musik tradisional, hingga arak-arakan budaya menjadikan suasana Lebaran Depok terasa layaknya festival budaya berskala nasional.
Namun di balik kemeriahan tersebut, tersimpan misi besar yang terus dijaga Pemerintah Kota Depok bersama komunitas budaya dan masyarakat, yakni mempertahankan identitas budaya Betawi Depok agar tetap hidup di tengah modernisasi kota yang bergerak begitu cepat.
Lebaran Depok sendiri lahir dari upaya menjaga tradisi masyarakat Depok tempo dulu yang memiliki berbagai kebiasaan khas menjelang Hari Raya. Tradisi-tradisi tersebut kemudian dikemas kembali menjadi pesta budaya tahunan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda.
Panitia Lebaran Depok 2026 bersama KOOD Berbudaya menghadirkan kembali berbagai ritual budaya seperti Rowahan, Ngubek Empang, Ngaduk Dodol, Nyuci Perabotan, Motong Kebo Andil, Nyedengin Baju, Pasar Pengabisan, Kue Maleman, hingga Nyorog dan Rantangan sebagai inti utama perayaan Lebaran Depok 2026.
Rangkaian kegiatan dimulai pada Senin, 4 Mei 2026, melalui tradisi Rowahan di Pendopo Alun-Alun Depok. Suasana religius langsung terasa ketika tokoh agama, tokoh budaya, dan masyarakat berkumpul dalam doa bersama serta santunan anak yatim.

Tradisi tersebut menjadi simbol bahwa masyarakat Depok sejak dahulu menjunjung tinggi nilai kepedulian sosial dan kebersamaan. Di tengah hiruk pikuk kota modern, Rowahan menghadirkan suasana hangat yang mengingatkan warga pada akar budaya mereka sendiri.
Ketua Panitia Lebaran Depok, H. Hamzah, mengatakan pihaknya sengaja menggelar kegiatan rowahan dan santunan anak yatim demi kelancaran seluruh rangkaian acara.
“Ya, sore ini kami menggelar acara rowahan dan santunan untuk anak yatim. Tujuannya tak lain agar rangkaian acara Lebaran Depok dari awal hingga akhir dapat berjalan lancar, selamat dan tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Hamzah, Senin (4/5/2026).
Kemeriahan mulai memuncak pada hari kedua melalui tradisi Ngubek Empang dan Ngaduk Dodol yang digelar di Kecamatan Tapos, Cipayung, dan Sawangan.
Wali Kota Depok, Supian Suri, menjelaskan tema tahun ini dipilih untuk menegaskan bahwa Depok adalah milik bersama, tidak hanya bagi warga asli, tetapi juga seluruh masyarakat yang tinggal di kota tersebut.
“Siapapun yang tinggal di Depok, kita berharap semuanya merasakan kenyamanan sebagaimana rumah sendiri,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Sejak pagi hari, masyarakat sudah memadati area empang. Setelah doa bersama dan prosesi budaya selesai dilakukan, ratusan warga langsung turun ke lumpur untuk menangkap ikan bersama-sama. Gelak tawa pecah ketika anak-anak hingga orang tua saling membantu mengejar ikan di tengah empang.

Tradisi Ngubek Empang menjadi gambaran kehidupan masyarakat Depok tempo dulu yang sangat dekat dengan alam dan budaya gotong royong. Empang bukan sekadar sumber pangan, tetapi juga ruang kebersamaan warga kampung.
Sekretaris Daerah Kota Depok, Mangnguluang Mansur, mengatakan tradisi turun-temurun tersebut bukan sekadar ajang menangkap ikan, tetapi juga simbol kebersamaan masyarakat.
“Lebaran Depok salah satunya Ngubek Empang yang dilaksanakan di tiga titik wilayah, yaitu Cipayung, Tapos, dan Sawangan. Ini menjadi kegiatan rutin dan merupakan tradisi yang harus dilestarikan serta diwariskan kepada anak cucu kita agar terus berlanjut,” ujarnya.
Di sisi lain, aroma khas dodol mulai menyeruak dari tungku-tungku besar tempat warga bergotong royong mengaduk adonan menggunakan alat tradisional. Asap kayu bakar, keringat warga, dan proses memasak yang memakan waktu panjang menghadirkan suasana nostalgia yang kini mulai sulit ditemukan di kawasan perkotaan.

Sekretaris Umum Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD), Nina Suzana, mengatakan proses pembuatan kuliner legendaris tersebut membutuhkan kedisiplinan tinggi.
“Generasi muda kudu tahu susahnya ngaduk dodol, makanya itu kenapa harganya mahal. Semoga lewat acara Lebaran Depok masyarakat semakin mengenal tradisi budaya daerahnya,” tutur Nina, Selasa (5/5/2026).

Menurut Nina, filosofi Ngaduk Dodol mengajarkan bahwa hasil yang manis hanya bisa diperoleh melalui kerja keras, kesabaran, dan kekompakan.
Di Kecamatan Tapos, kegiatan dibuka langsung oleh Wali Kota Depok, Dr. H. Supian Suri, M.M. Sementara di Kecamatan Cipayung dibuka Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, dan di Sawangan dibuka Sekretaris Daerah Kota Depok, Drs. Mangnguluang Mansur, M.Si.
Hari berikutnya, tradisi Nyuci Perabotan kembali menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat Depok masa lalu. Para perempuan dari KOOD kecamatan tampak mengenakan pakaian adat Betawi sambil mencuci perlengkapan rumah tangga di area sungai sekitar Alun-Alun GDC.

Tradisi sederhana tersebut justru menjadi perhatian banyak pengunjung. Bagi generasi muda, kegiatan itu menjadi gambaran bagaimana sungai dahulu menjadi pusat aktivitas sosial masyarakat Depok.
Menurut Hamzah, tradisi Nyuci Perabotan dahulu dilakukan masyarakat Depok menjelang Ramadan dan Idulfitri sebagai simbol kesiapan menyambut bulan suci.
“Bukan hanya membersihkan perabotan, tapi juga membersihkan hati,” ujarnya usai kegiatan di Alun-Alun Depok, Rabu (6/5/2026).
Hari ketiga juga dipenuhi berbagai lomba rakyat dan pertunjukan budaya yang melibatkan pelajar, komunitas seni, hingga masyarakat umum. Mulai dari lomba nganyam ketupat, numbuk uli, tari saman, marawis, silat, jaipong, hingga penampilan band pelajar tampil bergantian menghibur masyarakat.
Malam harinya, suasana berubah menjadi hiburan rakyat khas Betawi melalui penampilan Lenong Mini Cablak dan Band Biang Kerok yang sukses mengundang gelak tawa pengunjung lewat lawakan khas Betawi yang akrab dan sederhana.
Memasuki Kamis, 7 Mei 2026, perhatian masyarakat tertuju pada tradisi Motong Kebo Andil dan Nyedengin Baju. Tradisi Motong Kebo Andil menggambarkan budaya gotong royong masyarakat dalam memenuhi kebutuhan menjelang Hari Raya.
Sementara Nyedengin Baju menjadi simbol bagaimana masyarakat dahulu menyiapkan pakaian terbaik untuk menyambut Lebaran.

Kegiatan dibuka langsung oleh Wali Kota Depok, Supian Suri, yang kemudian melanjutkan prosesi menuju lokasi pemotongan kebo di area belakang acara.
Anggota DPRD Kota Depok, Mazhab, menyebut Kebo Andil sebagai simbol kuat budaya gotong royong masyarakat Depok tempo dulu yang mencerminkan kebersamaan tanpa sekat sosial.
“Budaya Kebo Andil itu mengajarkan bahwa hidup harus dijalani dengan rasa peduli dan kerja bersama. Semua ikut terlibat dan merasa memiliki tanggung jawab yang sama,” katanya usai menghadiri Fashion Jadul dalam rangkaian Lebaran Depok 2026 di Alun-Alun Timur GDC, Kamis (7/5/2026).

Ia menambahkan, nilai-nilai dalam tradisi tersebut masih sangat relevan untuk memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat saat ini.
“Ini bukan sekadar tradisi, tapi cara hidup yang membangun rasa saling membantu di lingkungan,” ucapnya.
Salah satu agenda yang paling menyita perhatian pengunjung adalah fashion show jadulan yang diikuti unsur Forkopimda, DPRD, OPD, komunitas budaya, hingga masyarakat umum. Busana khas Betawi dan pakaian lawas yang dikenakan peserta menghadirkan suasana nostalgia yang membuat pengunjung berkali-kali mengabadikan momen menggunakan telepon genggam mereka.
Ketua Fraksi Gerindra Kota Depok, Edi Masturo menilai gaya berpakaian era terdahulu mengandung filosofi kesederhanaan dan penghormatan dalam berpenampilan yang masih relevan diterapkan hingga saat ini.
“Dulu orang berpakaian sederhana, rapi, dan punya ciri khas budaya yang kuat. Itu yang perlu dipahami generasi sekarang, bahwa budaya bukan sesuatu yang kuno, tetapi bagian dari identitas dan jati diri masyarakat,” ujarnya.

Keramaian mencapai puncaknya pada Jumat, 8 Mei 2026, melalui tradisi Pasar Pengabisan dan Kue Maleman. Kawasan Alun-Alun GDC berubah menjadi pasar rakyat besar yang dipenuhi tenant kuliner khas Betawi dan UMKM lokal.
Berbagai makanan tradisional seperti kerak telor, dodol, kembang goyang, cucur, lupis, wajik, akar kelapa, biji ketapang, hingga selendang mayang menjadi buruan masyarakat. Banyak orang tua sengaja mengajak anak-anak mereka agar mengenal makanan tradisional yang kini mulai jarang ditemukan di pusat perbelanjaan modern.

Ramainya pengunjung juga membawa dampak besar terhadap geliat ekonomi masyarakat. Tenant kuliner tradisional, pedagang kaki lima, penyedia wahana permainan, hingga pelaku ekonomi kreatif mengaku mengalami lonjakan pengunjung selama acara berlangsung.
Tidak sedikit pelaku UMKM yang merasakan peningkatan penjualan signifikan dibanding hari biasa. Lebaran Depok tahun ini tidak hanya menjadi pesta budaya, tetapi juga menjadi ruang tumbuh ekonomi rakyat yang melibatkan banyak sektor informal masyarakat.
Malam harinya, suasana berubah semakin spektakuler ketika ribuan warga memadati kawasan utama untuk menyaksikan penampilan El Corona Band. Lautan manusia memenuhi area konser sambil bernyanyi bersama menikmati suasana malam yang penuh semangat kebersamaan.

Puncak acara berlangsung pada Sabtu, 9 Mei 2026, melalui tradisi Nyorog, Rantangan, dan Malam Puncak. Sejak pagi, masyarakat sudah memadati kawasan Alun-Alun GDC untuk menyaksikan arak-arakan budaya dari berbagai kecamatan di Kota Depok.
Wali Kota Depok, Supian Suri, disambut tradisi rebut dandang, rampak bedug, dan tari penyambutan yang semakin memperkuat nuansa budaya Betawi Depok.

Puluhan rombongan budaya tampil memperlihatkan kostum tradisional, kesenian daerah, dan atraksi budaya khas wilayah masing-masing. Parade budaya tersebut menjadi simbol keberagaman sekaligus kekuatan budaya lokal yang masih hidup di tengah masyarakat urban.

Tradisi nyorog, ngejot, pembagian fitrah, dan duit menghadirkan suasana penuh kepedulian sosial antarwarga. Sementara rantangan dan ambengan memperlihatkan budaya makan bersama yang penuh kehangatan dan kekeluargaan.
Supian Suri menyampaikan rasa bangga sekaligus ucapan terima kasih kepada seluruh panitia, sponsor, komunitas budaya, pelaku UMKM, serta masyarakat yang telah bersama-sama menyukseskan pesta budaya tahunan tersebut.

“Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Kota Depok, para panitia, para sponsor yang sama-sama telah mengadakan kegiatan ulang tahun Kota Depok dan Lebaran Depok tahun 2026 ini,” ujarnya.
Ia menilai kegiatan tersebut berhasil menghadirkan suasana guyub dan kekeluargaan yang semakin mempererat hubungan antarwarga di tengah keberagaman masyarakat Kota Depok.
Menjelang malam, ribuan masyarakat kembali memadati kawasan utama untuk menyaksikan Opera Depok bertajuk “Gugurnya Letnan Margonda” yang dibawakan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Depok. Pertunjukan tersebut menghadirkan kisah perjuangan sejarah Kota Depok dalam balutan seni modern yang memukau penonton.

Kemeriahan Lebaran Depok 2026 kemudian ditutup spektakuler melalui penampilan Wali Band yang sukses membuat seluruh kawasan acara dipenuhi nyanyian warga hingga malam hari.

Meski dipadati pengunjung dalam jumlah besar selama hampir sepekan, seluruh rangkaian acara berlangsung relatif aman dan tertib berkat pengamanan gabungan dari aparat keamanan, panitia, dan relawan yang disiagakan selama kegiatan berlangsung.
Di akhir acara, Ketua panitia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam menyukseskan rangkaian HUT ke-27 Kota Depok dan Lebaran Depok 2026.

“Alhamdulillahirabbil’alamin, seluruh rangkaian HUT ke-27 Kota Depok dan Lebaran Depok 2026 berjalan dengan baik, aman, dan meriah. Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pemerintah Kota Depok, aparat keamanan, sponsor, panitia, dan seluruh masyarakat yang telah bersama-sama menyukseskan acara ini,” ujar H. Hamzah.
Panitia juga mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan yang akan menjadi bahan evaluasi pada penyelenggaraan tahun berikutnya.
“Kami memohon maaf apabila masih ada kekurangan selama pelaksanaan acara. Terima kasih kepada seluruh masyarakat Kota Depok atas dukungan dan partisipasinya. Semoga Lebaran Depok tahun depan bisa lebih meriah lagi dan terus menjadi kebanggaan masyarakat Depok,” lanjutnya.
Lebaran Depok 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang konser musik, pesta rakyat, atau festival tahunan semata. Perayaan ini menjadi penanda bahwa di tengah derasnya modernisasi, masyarakat Depok masih memiliki keterikatan kuat terhadap akar budaya mereka sendiri.
Tradisi yang dahulu hidup di kampung-kampung kini kembali hadir di ruang publik kota, dirayakan bersama lintas generasi, sekaligus menjadi simbol bahwa budaya lokal masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat “Depok Rumah Kita”. (el’s)




