Depok | Sketsa Online – Dalam momentum peringatan Hari Buruh Internasional 2026, Wakil Ketua Bidang Tenaga Kerja PDI Perjuangan Kota Depok, Rere Callista Siswoyo, menegaskan pentingnya membangun paradigma baru ketenagakerjaan yang berkeadilan dan inklusif, khususnya dalam menjamin perlindungan nyata bagi pekerja perempuan.
Menurut Rere, kontribusi pekerja perempuan saat ini semakin besar dan merata di berbagai sektor. Namun, di balik kemajuan tersebut, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.
“Kalau melihat kondisi saat ini, pekerja perempuan sudah menunjukkan kontribusi yang sangat besar di berbagai sektor pekerjaan. Namun, kita juga harus jujur bahwa masih ada tantangan yang dihadapi, mulai dari ketimpangan kesempatan, beban kerja ganda, hingga perlindungan yang belum sepenuhnya merata di setiap tempat kerja,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).
Ia menekankan bahwa peningkatan partisipasi perempuan di dunia kerja harus diiringi dengan penguatan perlindungan serta kebijakan yang lebih responsif. Tanpa langkah tersebut, perempuan berpotensi tetap berada dalam posisi rentan meskipun perannya semakin signifikan.
“Walaupun ada kemajuan, perjuangan untuk menciptakan lingkungan kerja yang benar-benar adil bagi perempuan masih harus terus dilanjutkan,” lanjutnya.
Rere juga menyoroti bahwa keadilan bagi pekerja perempuan hingga kini belum sepenuhnya terwujud. Berbagai persoalan klasik masih terus terjadi dan dirasakan secara langsung di lingkungan kerja.
“Masih banyak pekerja perempuan yang menghadapi ketidakadilan, baik dalam bentuk kesenjangan upah, perlakuan diskriminatif, maupun rasa tidak aman di lingkungan kerja. Karena itu, perlindungan hukum dan pengawasan terhadap implementasi hak-hak pekerja harus terus diperkuat agar rasa aman dan keadilan benar-benar dirasakan, bukan hanya tertulis di regulasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa peran ganda perempuan sebagai pekerja sekaligus pengurus keluarga merupakan realitas sosial yang tidak bisa diabaikan dalam penyusunan kebijakan ketenagakerjaan ke depan.
“Peran ganda perempuan sebagai pekerja sekaligus pengurus keluarga adalah realitas yang harus dipahami bersama. Kebijakan ke depan harus lebih adaptif terhadap kebutuhan pekerja perempuan, termasuk dalam hal fleksibilitas kerja, perlindungan ibu bekerja, penyediaan fasilitas pendukung, serta penciptaan lingkungan kerja yang ramah keluarga,” jelasnya.
Tak hanya itu, dalam konteks implementasi, Rere menegaskan komitmennya untuk terus mendorong langkah konkret agar perlindungan pekerja perempuan tidak berhenti pada tataran kebijakan, tetapi benar-benar dirasakan di lapangan.
“Kami mendorong penguatan pengawasan ketenagakerjaan, edukasi hak-hak pekerja, penegakan aturan anti-diskriminasi, serta mendorong perusahaan menyediakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Selain itu, kami juga mendukung kebijakan yang memberi ruang lebih besar bagi perempuan untuk berkembang dan memimpin tanpa hambatan diskriminatif,” paparnya.
Menutup pernyataannya, Rere menyampaikan pesan reflektif kepada seluruh pekerja perempuan agar tetap percaya diri dan berani memperjuangkan hak-haknya.
“Untuk seluruh pekerja perempuan, saya ingin menegaskan bahwa kontribusi Anda sangat berarti bagi keluarga, masyarakat, dan pembangunan bangsa. Tetaplah percaya pada kemampuan diri, terus berkembang, dan jangan takut memperjuangkan hak-hak yang seharusnya didapatkan. Hari Buruh bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga pengingat bahwa setiap pekerja berhak dihargai, dilindungi, dan diperlakukan dengan adil,” tegasnya.
Peringatan Hari Buruh Internasional 2026 diharapkan menjadi momentum bersama untuk memperkuat komitmen dalam menciptakan sistem ketenagakerjaan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan demikian, setiap pekerja perempuan dapat bekerja dengan aman, bermartabat, serta memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang. (el’s)




