Kota Bogor | Sketsa Online — Ancaman robohnya bangunan di bantaran sungai kembali menjadi sorotan setelah sejumlah rumah dan musala di wilayah Kota Bogor rusak akibat derasnya aliran air saat hujan tinggi. Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menegaskan bahwa bangunan yang berdiri di atas turap maupun melanggar garis sempadan sungai memiliki risiko sangat tinggi mengalami kerusakan hingga ambruk.
Pemerintah Kota Bogor kembali mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan aturan tata ruang, khususnya terkait garis sempadan sungai. Hal ini menyusul kejadian bangunan roboh akibat abrasi di wilayah RW 03, Kelurahan Pasirjaya, yang dipicu oleh meningkatnya debit air sungai saat hujan deras.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan bahwa banyak bangunan yang berdiri terlalu dekat dengan aliran sungai tanpa memperhatikan aspek keselamatan dan ketentuan yang berlaku. Kondisi tersebut membuat struktur bangunan menjadi rentan terhadap gerusan air.
“Ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Aturan garis sempadan sungai dibuat untuk melindungi masyarakat. Bangunan yang berdiri di atas turap atau terlalu dekat dengan sungai sangat berisiko tergerus saat debit air meningkat,” ujarnya di Balai Kota Bogor, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, pelanggaran terhadap aturan tersebut tidak hanya berpotensi menyebabkan kerugian material, tetapi juga membahayakan keselamatan jiwa, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi.
Dedie juga mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam mendirikan bangunan dan tidak memaksakan pembangunan di lokasi yang secara struktur tanah maupun posisi sangat rawan.
“Kami minta masyarakat mematuhi aturan sempadan sungai. Jika hujan dengan intensitas tinggi terus terjadi, potensi longsor dan abrasi di bantaran sungai akan semakin besar,” tegasnya.
Sebagai langkah mitigasi, Pemerintah Kota Bogor terus melakukan berbagai upaya antisipasi, mulai dari normalisasi aliran sungai, pembersihan saluran air, hingga pemetaan titik-titik rawan longsor dan abrasi.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi dampak bencana sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.




