Depok | Sketsa Online – Perayaan Lebaran Depok tak sekadar menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga momentum strategis untuk menghidupkan kembali identitas lokal yang mulai memudar. Dari semangat inilah, Sekretaris Kumpulan Orang Orang Depok (KOOD), Nina Suzana, mendorong penguatan Bahasa Depok agar masuk sebagai muatan lokal di dunia pendidikan Kota Depok.
Menurut Mpok Nina, sapaan akrabnya, akar dari gagasan tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap generasi muda yang semakin jauh dari bahasa dan tradisi khas Depok.
“Sekarang kalau kita bicara pakai Bahasa Depok, banyak anak-anak yang tidak paham. Ini jadi tanda bahwa kita sedang kehilangan identitas. Kalau tidak segera kita lakukan langkah nyata, bisa hilang,” ujarnya disela sela acara Lebaran Depok 2026, Alun-alun GDC, pada Rabu (6/5/26).
Ia menegaskan, Lebaran Depok menjadi ruang refleksi sekaligus sarana edukasi budaya. Berbagai tradisi lama kembali diangkat agar masyarakat, khususnya generasi muda, memahami nilai yang terkandung di dalamnya.
Salah satu tradisi yang kembali dikenalkan adalah kebiasaan bebersih menjelang Lebaran. Pada masa lalu, masyarakat Depok membersihkan seluruh rumah, terutama dapur dan perabotannya secara menyeluruh.
“Dulu itu bukan sekadar bersih-bersih. Semua perabot penggorengan, dandang, kuali, nyaringan, bakul dicuci bersih. Ini simbol bahwa selama Ramadan kita membersihkan hati, dan menjelang Lebaran kita sempurnakan dengan membersihkan lingkungan,” jelasnya.
Selain itu, tradisi mengeringkan empang (kolam ikan) juga menjadi bagian penting. Biasanya dilakukan sekitar tiga hari sebelum Idulfitri. Ikan-ikan yang dipelihara selama setahun, seperti tawes atau ikan mas, dipanen dan dibagikan.
“Dulu banyak ikan tawes, sekarang lebih banyak ikan mas. Hasil empang itu dibagi ke keluarga, saudara, bahkan tetangga yang kurang mampu. Nilai berbagi dan kepedulian sosial sangat terasa,” katanya.
Tradisi lain yang sarat makna adalah pembuatan dodol secara gotong royong. Prosesnya panjang dan membutuhkan kerja sama banyak orang.
“Ngaduk dodol bisa sampai 20 liter ketan, bahkan dilakukan dua sampai tiga kali. Setelah jadi, dibungkus pakai daun dan dibagi ke warga. Semua ikut menikmati, semua bahagia,” tuturnya.
Lebih lanjut, Mpok Nina menjelaskan bahwa di balik tradisi tersebut terdapat nilai keadilan dan kebersamaan yang kuat. Dalam pengelolaan sumber daya, seperti empang atau kebun, masyarakat dahulu menerapkan sistem patungan dan pembagian hasil yang merata.
“Ada yang bayar mingguan, ada yang bulanan. Semua ikut andil, dan hasilnya dibagi rata. Ini menunjukkan nilai keadilan dan gotong royong yang luar biasa,” ungkapnya.
Namun, ia mengakui bahwa perubahan zaman membuat tradisi tersebut kian tergerus. Gaya hidup modern yang serba praktis menjadikan masyarakat cenderung meninggalkan proses dan nilai yang terkandung di dalamnya.
“Sekarang semua instan. Dodol tinggal beli, ikan tinggal beli. Padahal dulu penuh perjuangan. Mayoritas orang tua kita petani, sekarang banyak yang kerja kantoran. Perubahan ini tidak salah, tapi nilai budayanya jangan sampai hilang,” tegasnya.
Berangkat dari kondisi itu, KOOD melihat bahasa sebagai pintu utama untuk menjaga keberlanjutan budaya. Oleh karena itu, pihaknya mendorong agar Bahasa Depok dapat masuk dalam kurikulum sebagai muatan lokal.
“Bahasa itu kunci. Kalau bahasa hilang, budaya ikut hilang. Maka kita dorong Bahasa Depok jadi muatan lokal, supaya anak-anak tidak hanya tahu, tapi juga menggunakan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Ia menambahkan, upaya tersebut membutuhkan proses panjang dan tidak bisa dilakukan secara instan. Persiapan yang dilakukan meliputi penyusunan kurikulum, pembuatan silabus, hingga pelatihan tenaga pengajar.
KOOD bersama Pemerintah Kota Depok juga berencana menggandeng Universitas Indonesia untuk membantu menyusun materi pembelajaran yang terstruktur dan relevan, termasuk integrasi nilai-nilai Pancasila dalam pengajaran.
“Kita siapkan dulu gurunya, kita latih. Lalu kurikulumnya kita susun bersama. UI juga siap membantu menyusun silabus agar pembelajaran ini mudah diterapkan di sekolah,” paparnya.
Targetnya, program muatan lokal Bahasa Depok dapat mulai direalisasikan secara bertahap hingga tahun 2027. Ia optimistis, dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, langkah ini dapat terwujud.
“Yang penting ada dukungan dari pemerintah kota dan semua stakeholder. Ini bukan hanya soal bahasa, tapi soal identitas dan warisan budaya kita,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Mpok Nina juga menekankan bahwa saat ini tradisi asli Depok mungkin hanya tersisa sebagian kecil saja. Oleh karena itu, diperlukan langkah serius untuk mengangkat kembali dan mengenalkannya kepada generasi muda.
“Mungkin sekarang tinggal 10 persen yang masih menjalankan. Kalau tidak kita angkat sekarang, bisa hilang. Ini tanggung jawab kita untuk melestarikan, mengembangkan, dan mewariskan kepada anak cucu kita,” tutupnya. (el’s)




