Depok | Sketsa Online – Memasuki hari ke-13 bulan suci Ramadan, suasana religius semakin terasa di berbagai lingkungan permukiman di Depok. Sejumlah gang dihiasi lampu warna-warni, ornamen Islami, hingga tulisan bernuansa dakwah yang dipasang secara swadaya oleh warga.
Fenomena yang dikenal sebagai Gang Ramadan ini tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga menghadirkan atmosfer spiritual yang kental di tengah kehidupan masyarakat.
Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan Kota Depok, Mazhab HM, mengapresiasi inisiatif warga tersebut. Ia menilai kreativitas masyarakat mampu menghadirkan semangat kebersamaan sekaligus memaknai Ramadan sebagai momentum memperkuat nilai keimanan dan persaudaraan.
“Anda memasuki gang Ramadan dengan suasana yang berbeda. Ada lampu-lampu hias, ornamen Islami, dan kebersamaan warga yang begitu terasa. Menurut saya, ini keren,” ujar Mazhab pada Selasa (3/3/26).
Tradisi menghias gang bukan sekadar mempercantik lingkungan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut mencerminkan kegembiraan masyarakat dalam menyambut bulan penuh berkah sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan sosial di tingkat lingkungan.
“Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Bulan ini juga menjadi waktu untuk memperkuat ukhuwah, menumbuhkan kepedulian, dan membangun kebersamaan. Ketika warga berkumpul menghias lingkungan, nilai-nilai itu terasa hidup,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan gotong royong menjelang dan selama Ramadan juga menjadi ruang interaksi antarwarga yang semakin jarang ditemui dalam kehidupan perkotaan. Melalui aktivitas tersebut, masyarakat dapat saling mengenal, bekerja sama, serta membangun suasana lingkungan yang lebih hangat dan harmonis.
“Di tengah kesibukan masyarakat perkotaan, Ramadan justru menghadirkan ruang untuk kembali berkumpul. Warga saling membantu menghias gang, membersihkan lingkungan, bahkan menyiapkan kegiatan keagamaan bersama. Ini adalah tradisi sosial yang sangat baik,” jelasnya.
Mazhab berharap semangat kreatif masyarakat dalam menghadirkan nuansa Ramadan di lingkungan tempat tinggal dapat terus dijaga dan dikembangkan. Tradisi tersebut dinilai bukan hanya memperindah kawasan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada generasi muda.
“Ketika anak-anak melihat lingkungannya hidup dengan nuansa Ramadan, mereka belajar bahwa bulan suci ini memiliki makna yang dalam. Ada kebersamaan, ada ibadah, dan ada kegembiraan yang dibangun bersama,” ungkapnya.
Menutup pernyataannya, Mazhab mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial.
“Ramadan adalah bulan yang mengajarkan kita tentang kesederhanaan, kepedulian, dan kebersamaan. Ketika lingkungan terasa hidup dengan semangat itu, maka makna Ramadan benar-benar hadir di tengah masyarakat,” tutup Mazhab. (el’s)




