Depok | Sketsa Online – Momentum Hari Kartini menjadi refleksi bahwa perjuangan emansipasi perempuan belum berakhir, melainkan terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.
Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia Kota Depok,Binton J Nadapdap.,S.Sos.,S.H.,M.M.,M.H., menegaskan perempuan berdaya kini menjadi faktor kunci dalam mendorong lahirnya kota kreatif yang inklusif dan berdaya saing di era digital.
Binton menilai, kemajuan perempuan Indonesia secara statistik memang menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat melek huruf perempuan telah mencapai 99,02 persen.
Menurutnya, capaian tersebut belum mencerminkan kesiapan menghadapi tantangan baru yang jauh lebih kompleks, yakni literasi digital, penguasaan teknologi, serta kemampuan beradaptasi di tengah arus informasi yang masif.
“Perempuan hari ini tidak cukup hanya berpendidikan. Mereka harus mampu menguasai teknologi, memahami informasi secara kritis, dan mengubahnya menjadi kekuatan ekonomi maupun sosial,” ujar Binton pada Rabu (22/4/26).
Ia menegaskan bahwa tantangan perempuan telah bergeser dari persoalan akses pendidikan menuju kesenjangan digital. Berdasarkan kajian UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, hanya sekitar 42 persen perempuan di wilayah terpencil yang memiliki akses internet stabil.
Sementara itu, laporan Databoks menunjukkan perempuan masih tertinggal dalam hal literasi digital dibanding laki-laki, baik dalam aspek teknis maupun pemanfaatan teknologi untuk kegiatan produktif.
“Ini adalah bentuk baru dari perjuangan perempuan. Jika dulu Raden Ajeng Kartini berjuang membuka akses pendidikan, hari ini perjuangan itu bergeser ke penguasaan teknologi dan ruang digital,” tegasnya.
Dalam konteks pembangunan daerah, Binton menilai perempuan memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi berbasis komunitas. Keterlibatan perempuan dalam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terbukti mampu memperkuat ketahanan ekonomi keluarga sekaligus menjadi motor pertumbuhan ekonomi lokal.
“Perempuan adalah aktor penting dalam ekonomi rakyat. Ketika mereka diberdayakan, dampaknya langsung terasa pada kesejahteraan keluarga hingga masyarakat luas,” ujarnya.
Namun demikian, ia tidak menutup mata terhadap kompleksitas tantangan yang dihadapi perempuan saat ini. Selain kesenjangan akses digital, perempuan juga menghadapi beban ganda antara peran domestik dan ekonomi, serta tekanan sosial dari media digital yang kerap menciptakan standar semu terkait kesuksesan dan gaya hidup.
“Perempuan hari ini menghadapi tantangan berlapis. Karena itu, pendekatan pemberdayaan tidak bisa parsial, tetapi harus menyentuh aspek pendidikan, ekonomi, dan teknologi secara bersamaan,” jelasnya.
Sebagai langkah konkret, PSI Depok mendorong sejumlah strategi terukur. Di antaranya penguatan literasi digital berbasis komunitas hingga tingkat kelurahan, pelatihan pemanfaatan teknologi untuk pelaku UMKM perempuan, serta pembukaan ruang kepemimpinan yang lebih luas bagi perempuan dalam berbagai sektor.
“Perempuan tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus naik kelas menjadi kreator, inovator, dan penggerak ekonomi digital,” tegas Binton.
Ia menambahkan, langkah tersebut sejalan dengan kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia yang menempatkan inklusi digital sebagai salah satu pilar pembangunan nasional, termasuk mendorong peningkatan peran perempuan dalam ekosistem ekonomi digital.
“Sejalan dengan kebijakan pemerintah, perempuan harus berada di garis depan transformasi digital. Jika perempuan tertinggal, maka potensi kota juga akan terhambat,” katanya.
Lebih lanjut, Binton menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, dan lembaga pendidikan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pemberdayaan perempuan secara berkelanjutan.
“Setengah kekuatan kota ada pada perempuan. Jika mereka diberdayakan secara optimal, maka percepatan pembangunan akan terjadi secara signifikan. Kota kreatif tidak akan tumbuh tanpa perempuan yang kuat, mandiri, dan berdaya,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Binton menegaskan bahwa semangat Kartini harus terus dilanjutkan dalam konteks kekinian.
“Perempuan berdaya adalah kunci. Ketika perempuan mampu menguasai teknologi dan berkontribusi nyata, maka kota akan tumbuh lebih cepat, inklusif, dan berdaya saing. Inilah makna perjuangan Kartini di era modern,” tutupnya. (el’s)




