Depok | Sketsa Online – Luapan Kali Pesanggrahan kembali merendam Jembatan Jago, jalur alternatif penghubung Sawangan–Cipayung, usai hujan deras mengguyur wilayah Depok sejak Minggu malam (11/1) hingga Senin dini hari (12/1).
Hingga Senin siang, genangan air menyebabkan arus lalu lintas tersendat serta meningkatkan risiko keselamatan bagi pengguna jalan.
Legislator Partai Gerindra Kota Depok, Edi Masturo, menegaskan banjir di Jembatan Jago bukan peristiwa baru. Kondisi tersebut hampir selalu terjadi setiap kali hujan berintensitas tinggi atau berdurasi panjang. Menurutnya, kapasitas Kali Pesanggrahan terus menurun akibat pendangkalan yang dipicu endapan lumpur dan tumpukan sampah.
“Setiap hujan deras atau berlangsung lama, air pasti naik ke jembatan. Sungai sudah tidak mampu menampung aliran air secara normal karena terjadi pendangkalan,” ujar Edi Masturo, pada Senin (12/1).

Ia menyebut longsoran sampah dari arah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung turut memperparah kondisi Kali Pesanggrahan. Akumulasi sampah dan sedimen membuat dasar sungai semakin dangkal sehingga air mudah meluap hingga menggenangi badan jembatan.
“Sedimen terus bertambah karena sampah dari hulu ikut terbawa arus. Akibatnya, air meluber dan menggenangi jalur lalu lintas,” katanya.
Edi Masturo menjelaskan, Jembatan Jago memiliki peran strategis sebagai jalur alternatif yang setiap hari digunakan masyarakat, terutama pada jam kerja, untuk menghindari kepadatan di Jalan Raya Sawangan. Saat banjir terjadi, arus kendaraan roda dua maupun roda empat terhambat dan kerap memicu kemacetan panjang.
Selain itu, ia juga mengingatkan potensi bahaya bagi pengendara yang nekat melintas ketika debit air meningkat. Beberapa waktu lalu, sebuah mobil sempat terseret arus di lokasi tersebut, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
“Kami minta warga benar-benar waspada. Jangan memaksakan diri melintas saat hujan deras atau ketika air mulai naik, karena risikonya sangat tinggi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Edi Masturo mengungkapkan bahwa normalisasi Kali Pesanggrahan telah dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sekitar tiga bulan lalu. Namun, upaya tersebut belum mampu menekan banjir secara permanen karena sedimentasi kembali meningkat dalam waktu singkat.
“Normalisasi memang sudah dilakukan, tetapi tanpa pengendalian sampah dan sedimen dari hulu, hasilnya tidak akan bertahan lama,” ujarnya.
Ia menilai penanganan banjir di Jembatan Jago harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Tidak hanya fokus pada pengerukan sungai, tetapi juga pengelolaan sampah serta pengawasan alur sungai secara konsisten.
Sebagai penutup, Edi Masturo mendorong kolaborasi lintas instansi serta partisipasi aktif masyarakat, khususnya dalam pengelolaan sampah di kawasan hulu dan sekitar TPA Cipayung.
“Jika penanganan dilakukan secara terpadu dan konsisten, risiko banjir dapat ditekan dan Jembatan Jago kembali aman sebagai jalur vital warga Depok,” tutupnya. (el’s)




