Jakarta | Sketsa Online – Di tengah stigma yang masih kerap menilai perempuan dari penampilan semata, Chika Biata Malau hadir mematahkan anggapan tersebut.
Finalis Putri Indonesia DKI Jakarta 4 tahun 2026 ini tidak hanya mengandalkan kecantikan, tetapi membawa misi besar: mengubah cara pandang publik terhadap makna kecantikan, kepemimpinan, dan keberlanjutan.
Ia menawarkan narasi baru bahwa perempuan dapat menjadi agen perubahan melalui gagasan, aksi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Bagi Chika, Jakarta bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang belajar yang hidup. Kota metropolitan ini mengajarkannya tentang dinamika kehidupan mulai dari keberagaman, kompetisi, hingga pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian budaya.
Dari pengalamannya tumbuh dan berkembang di ibu kota, ia memaknai bahwa kesejahteraan tidak cukup diukur dari sisi ekonomi semata, tetapi juga dari kualitas lingkungan dan keberlanjutan hidup.
“Lingkungan bukan sekadar tempat kita tinggal. Ia adalah warisan yang kita pilih untuk dilindungi. Dan setiap warisan bermula dari rumah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi landasan nilai yang terus ia pegang dalam setiap langkah hidupnya.
Chika dibesarkan dalam keluarga dengan semangat kewirausahaan yang kuat. Kedua orang tuanya merupakan pelaku usaha yang menanamkan nilai kemandirian, disiplin, serta keberanian dalam mengambil keputusan.
Namun lebih dari itu, ia juga diajarkan bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Sebagai anak perempuan yang tumbuh di tengah saudara laki-laki, Chika terbiasa menghadapi dinamika yang membentuk ketangguhan mental sekaligus kepekaan sosial.
Ia belajar beradaptasi, menghargai perbedaan, serta membangun komunikasi yang sehat. Nilai-nilai tersebut kemudian membentuk karakter kepemimpinannya tegas dalam prinsip, namun tetap mengedepankan empati.
Fondasi tersebut semakin kuat melalui pendidikan yang ia tempuh di Universitas Indonesia, jurusan Teknik Lingkungan. Dalam studinya, Chika tidak hanya memahami teori, tetapi juga dilatih untuk berpikir sistematis dan solutif dalam melihat persoalan lingkungan.
“Teknik mengajarkan saya untuk melihat segala sesuatu secara menyeluruh bagaimana energi mengalir, bagaimana sumber daya digunakan, dan bagaimana limbah dikelola. Dari situ saya sadar, keberlanjutan bukan pilihan, melainkan cara hidup,” tuturnya.
Saat ini, Chika bekerja sebagai engineer muda di Pertamina pusat. Dalam perannya, ia terjun langsung melihat bagaimana proses energi berjalan dari hulu ke hilir mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi oleh masyarakat.
Ia memahami bahwa di balik kemudahan akses energi yang dinikmati sehari-hari, terdapat tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan sumber daya.
“Ketahanan energi bukan hanya tentang ketersediaan, tetapi tentang bagaimana kita menyeimbangkan kebutuhan hari ini dengan solusi untuk masa depan,” jelasnya.
Pengalaman ini memperluas perspektifnya bahwa isu keberlanjutan tidak bisa dipandang secara parsial, melainkan harus dilihat sebagai sistem yang saling terhubung.
Lebih lanjut, selain berkarier di sektor energi, Chika juga menjajaki dunia kewirausahaan melalui bisnis kuliner. Ia mulai menerapkan prinsip-prinsip yang lebih bertanggung jawab, seperti pemilihan bahan baku ramah lingkungan, efisiensi penggunaan sumber daya, hingga pengelolaan limbah produksi.
“Keberlanjutan meluas ke sistem yang menggerakkan bangsa kita. Perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” ungkapnya.
Dari perpaduan pengalaman hidup, pendidikan, dan karier tersebut, lahirlah advokasi yang ia usung, yakni From Source to Cycle (Dari Sumber ke Siklus). Gagasan ini menekankan pentingnya kesadaran terhadap siklus hidup setiap produk dari asalnya, proses pengolahan, distribusi, hingga dampak setelah digunakan.
Melalui advokasi ini, Chika mendorong masyarakat untuk lebih kritis dan bertanggung jawab dalam pola konsumsi. Ia mengajak publik memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi terhadap lingkungan dan kehidupan di masa depan.
“Konsumsi yang bertanggung jawab harus menjadi komitmen bersama. Kita perlu memahami perjalanan dari hulu ke hilir, karena di situlah letak tanggung jawab kita sebagai manusia,” tegasnya.
Sebagai finalis Putri Indonesia DKI Jakarta 2026, Chika membawa perspektif yang lebih luas tentang peran perempuan di ruang publik. Ia tidak hanya hadir sebagai representasi kecantikan, tetapi juga sebagai simbol generasi muda yang memiliki kesadaran, kepedulian, dan keberanian menyuarakan isu-isu penting.
Di tengah arus modernitas yang sering menempatkan penampilan sebagai tolok ukur utama, Chika menghadirkan sudut pandang berbeda. Ia menegaskan bahwa kecantikan sejati terletak pada nilai, integritas, dan kontribusi yang diberikan kepada masyarakat.
Dengan latar belakang pendidikan teknik, pengalaman profesional di sektor energi, serta kiprah di dunia usaha, ia mampu memadukan logika, empati, dan aksi secara seimbang. Hal ini menjadikannya tidak hanya sebagai sosok inspiratif, tetapi juga representasi nyata perempuan yang berdaya dan berpengaruh.
Kini, dengan visi yang semakin matang, Chika Biata Malau melangkah membawa harapan besar untuk masa depan. Ia ingin membangun kesadaran kolektif bahwa keberlanjutan adalah tanggung jawab bersama, yang dimulai dari pilihan-pilihan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
“Sebab pada akhirnya, keberlanjutan bukan sekadar isu yang dibicarakan, melainkan cerminan dari bagaimana manusia memilih untuk hidup. Apakah hanya sebagai pengguna sumber daya, atau sebagai penjaga warisan yang akan diteruskan kepada generasi mendatang,” tutupnya. (el’s)




