Depok | Sketsa Online – Aksi sosial tanpa dukungan dana APBD kembali menggeliat di Depok. Haji Rudiman bersama TP PKK Kota Depok turun langsung membangun rumah warga di Cimpaeun, Tapos, yang selama ini hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Kolaborasi ini menjadi simbol kekuatan gotong royong yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.
Program bedah rumah ini menyasar kediaman Ibu Salmah, seorang warga lanjut usia yang hidup bersama dua anaknya yang tuna netra dalam hunian yang tidak layak.
Bangunan yang sudah lapuk, lembap, dan minim pencahayaan membuat aktivitas harian keluarga tersebut berisiko. Kondisi semakin berat karena Ibu Salmah mengalami kelumpuhan, sehingga membutuhkan lingkungan tinggal yang jauh lebih aman dan layak.
Peluncuran program dilakukan di RT 02 RW 06, Kelurahan Cimpaeun, dengan target penyelesaian satu hingga dua bulan. Seluruh biaya pembangunan ditanggung oleh donatur dan masyarakat tanpa menggunakan dana APBD, menunjukkan betapa kuatnya peran partisipasi sosial dalam membantu sesama.
Pengusaha sekaligus donatur, Haji Rudiman, menjelaskan bahwa konsep perbaikan rumah kali ini dirancang untuk tidak hanya memberi kenyamanan tempat tinggal, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi jangka panjang bagi keluarga.
“Setelah kami lihat, rumahnya cukup besar. Karena itu, kami sepakat untuk membuat sebagian bangunan menjadi kontrakan. Hasil sewanya bisa menjadi pemasukan bulanan bagi keluarga ini, apalagi kondisi Ibu Salmah yang lumpuh membuat mereka benar-benar membutuhkan dukungan tambahan,” ujar Haji Rudiman pada Sabtu (29/11).
Ia optimistis bahwa pembangunan dapat rampung sebelum bulan puasa, sehingga keluarga bisa menyambut Ramadan dengan rumah yang lebih aman dan layak.
Dilokasi yang sama, Ketua TP PKK Kota Depok, Cing Ikah, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi mendalam atas kekompakan warga Cimpaeun, RT, RW, kecamatan, para donatur seperti Baznas dan Dinsos, serta para relawan yang turun langsung ke lapangan.
“Alhamdulillah, hari ini kita menyaksikan keguyuban yang luar biasa. Semua pihak bergerak bersama tanpa mengandalkan APBD. Ini bukti nyata bahwa bantuan untuk warga tidak mampu bisa diwujudkan melalui kepedulian berbagai elemen masyarakat,” ujar Cing Ikah.
Ia menegaskan bahwa masih banyak warga Depok yang membutuhkan bantuan serupa dan mengajak seluruh masyarakat untuk turut terlibat.
“Kami ingin tidak ada lagi warga Depok yang tinggal di rumah tidak layak huni. Jika masyarakat ingin membantu, TP PKK dan Posyandu Kota Depok sangat terbuka untuk berkolaborasi,” tambahnya.
Upaya membantu Ibu Salmah tidak sekadar membangun kembali dinding dan atap rumah yang rapuh. Lebih dari itu, program ini menjadi pengingat bahwa kemanusiaan dapat tumbuh subur ketika warga, donatur, dan para relawan memilih bergerak bersama. Di tengah keterbatasan, kolaborasi ini menunjukkan bahwa perubahan besar justru lahir dari tangan-tangan yang mau peduli tanpa menunggu instruksi maupun anggaran pemerintah.
Semangat gotong royong yang tercipta hari ini juga menjadi cermin masa depan Kota Depok sebuah kota yang warganya tidak membiarkan satu pun tetangganya tertinggal.
Dengan sinergi seperti ini, visi mewujudkan lingkungan yang layak, aman, dan manusiawi bukan lagi sekadar wacana, tetapi langkah nyata yang terus mengalir dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Harapannya, gerakan kemanusiaan tanpa APBD ini dapat menjadi gelombang yang menjalar lebih luas, menginspirasi lebih banyak pihak untuk turut membangun kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang berada dalam keterbatasan.
Sebab setiap rumah yang diperbaiki bukan hanya mengubah bangunan tetapi menghidupkan kembali harapan, martabat, dan masa depan sebuah keluarga. (el’s)




