Depok|Sketsa-online.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok terus menunjukkan keseriusannya dalam mengatasi kemacetan kronis di Jalan Margonda. Salah satu langkah strategis yang kini tengah dipersiapkan adalah pembangunan flyover Margonda, yang ditargetkan mulai dikerjakan pada tahun 2026.
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Depok, Edi Masturo, menyampaikan apresiasinya atas langkah cepat dan proaktif Wali Kota Depok bersama Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Citra Indah Yulianty, yang aktif menjalin komunikasi dengan Kementerian PUPR untuk mendorong percepatan proyek tersebut.
“Pak Wali dan Bu Kadis tidak tinggal diam. Mereka langsung jemput bola ke pusat, dan alhamdulillah sambutannya sangat positif. Insyaallah, tahun 2026 proyek ini bisa dimulai,” ujar Edi pada Kamis (24/7).
Ia menjelaskan bahwa pembangunan flyover Margonda sebenarnya bukan hal baru. Proyek ini telah tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), namun sempat terhambat karena minimnya inisiatif dari daerah. Kini, Pemkot Depok mengambil langkah konkret dengan menyiapkan skema pembiayaan melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sebagai bentuk komitmen dalam mengatasi kemacetan.
“Walaupun ini proyek pusat, tanpa peran aktif dari daerah, realisasinya bisa tersendat. Keberanian Pemkot mengusulkan pembiayaan menunjukkan keseriusan mereka menghadirkan perubahan,” jelasnya.
Edi menegaskan bahwa pembangunan flyover tidak hanya bertujuan mengurai lalu lintas, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, kelancaran mobilitas warga akan mendorong aktivitas ekonomi yang selama ini terhambat kemacetan.
“Kemacetan bukan cuma soal kendaraan yang terjebak, tapi juga soal ekonomi yang tertahan. Kalau arus kendaraan lancar, orang lebih mudah bergerak, lebih mudah berbelanja, dan UMKM bisa hidup lagi,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur yang berpihak pada masyarakat. Menurutnya, pembangunan flyover harus dibarengi dengan penataan kawasan yang inklusif dan tidak hanya mengutamakan kendaraan, tetapi juga memperhatikan kehidupan sosial dan ekonomi warga sekitar.
“Flyover itu memang struktur fisik, tapi dampaknya bisa sampai ke dapur warga. Kalau dirancang dengan benar, pedagang kaki lima, warung kopi, dan toko kecil bisa ikut naik kelas,” ujarnya.
Edi mengusulkan agar pelaku UMKM dilibatkan sejak awal dalam perencanaan kawasan pasca flyover, termasuk penyediaan ruang usaha yang terintegrasi dengan transportasi umum, promosi produk lokal, serta perlindungan terhadap pelaku usaha yang berpotensi terdampak.
Ia mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur, sebesar apa pun manfaatnya, tetap memiliki potensi dampak sosial. Namun, jika dilakukan dengan pendekatan komunikasi yang terbuka dan skema adaptasi yang matang, resistensi masyarakat dapat diminimalkan.
Ia mencontohkan pengalaman saat penerapan sistem satu arah di sejumlah titik di Depok yang awalnya menimbulkan kekhawatiran, namun pada akhirnya membawa pertumbuhan baru bagi sebagian pelaku UMKM.
“Dulu banyak yang khawatir usahanya mati saat sistem satu arah diterapkan. Tapi nyatanya, setelah penyesuaian, sebagian UMKM justru tumbuh. Karena itu saya minta Pemkot belajar dari pengalaman itu dan sejak awal menggandeng para pelaku usaha,” tegasnya.
Menurut Edi, kemacetan yang selama ini menjadi keluhan utama masyarakat Depok merupakan persoalan mendasar yang harus ditangani secara lintas sektor. Pembangunan flyover Margonda bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan bagian dari transformasi menuju kota yang lebih tertib, nyaman, dan berdaya saing.
“Ini saatnya berubah. Warga sudah lelah dengan kemacetan yang menahun. Flyover Margonda bukan hanya mengurai kepadatan, tapi juga membuka ekosistem baru untuk ekonomi rakyat,” ucapnya.
Hingga kini, proyek flyover Margonda masih dalam tahap kajian teknis dan analisis dampak lingkungan. Meskipun rincian anggarannya belum diumumkan, Edi memastikan skema pembiayaan telah dirancang dan disesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah.
“Kemacetan bukan sekadar masalah jalan, tapi juga hambatan rezeki. Ini waktunya mengubah tantangan jadi peluang. Kalau ditata dengan baik, flyover ini bisa menjadi pintu masuk bagi ekonomi rakyat untuk naik level,” pungkasnya. (el’s)




