Redefinisi Kurban Menyambut Iduladha 1447 H: Spirit Siti Hajar dan Fikih Kemaslahatan dalam Pandangan Hj. Qonita Lutfiyah

Depok | Sketsa Online – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Kota Depok dari Fraksi PPP, Dr. Hj. Qonita Lutfiyah, SE, M.M., mengajak masyarakat memaknai ibadah kurban secara lebih mendalam dan tidak berhenti pada dimensi seremonial semata.

Dalam pandangannya, Iduladha merupakan momentum spiritual sekaligus sosial yang mengandung pelajaran besar tentang pendidikan karakter, ketahanan keluarga, prioritas ibadah, hingga tanggung jawab kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

Sebagai alumni pesantren yang tumbuh dalam tradisi kajian kitab kuning, Hj. Qonita memandang kisah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar bukan hanya bagian dari sejarah keagamaan, tetapi juga sumber nilai yang sangat relevan untuk menjawab tantangan masyarakat modern hari ini.

Baginya, salah satu sosok yang paling penting untuk dihadirkan kembali dalam kehidupan keluarga Muslim saat ini adalah Siti Hajar. Di tengah derasnya arus media sosial, budaya instan, hingga krisis komunikasi dalam keluarga modern, Hj. Qonita menilai keteladanan Siti Hajar menghadirkan inspirasi besar bagi para ibu dalam mendidik anak-anak di era digital.

“Keteladanan Siti Hajar sangat relevan untuk menjadi inspirasi pendidikan karakter bagi para ibu di era digital saat ini. Di tengah derasnya arus media sosial, budaya instan, dan semakin renggangnya komunikasi dalam keluarga, sosok beliau mengajarkan bahwa kekuatan seorang ibu bukan hanya terletak pada kasih sayang, tetapi juga pada keteguhan iman, kesabaran, kecerdasan emosional, dan kemampuan membangun pondasi karakter anak sejak dini,” ujarnya pada Minggu (24/5/26).

Hj. Qonita menjelaskan, kisah perjuangan Siti Hajar saat mendampingi Nabi Ismail di tengah padang tandus bukan sekadar sejarah spiritual, tetapi gambaran nyata tentang bagaimana seorang ibu mampu menghadapi keterbatasan dengan keyakinan dan ikhtiar.

Dalam kondisi serba sulit, Siti Hajar tidak memilih menyerah pada keadaan. Ia terus berusaha mencari air antara Shafa dan Marwah demi keselamatan anaknya. Bagi Hj. Qonita, perjuangan itu menjadi simbol bahwa pendidikan anak membutuhkan kesabaran, kehadiran emosional, dan konsistensi dalam membangun nilai.

Kondisi keluarga modern hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar persoalan ekonomi. Banyak orang tua merasa “kering” secara emosional akibat tekanan hidup, kesibukan pekerjaan, serta dominasi gadget yang mengurangi quality time dalam keluarga.

Baca juga:  Pemkab Bogor Perkuat Akses Arsip Digital Lewat SIKN–JIKN, 13 Ribu Data Siap Diakses Publik

“Ketika hari ini banyak orang tua merasa lelah oleh tekanan ekonomi, distraksi gadget, dan minimnya quality time, maka semangat Siti Hajar mengingatkan bahwa pendidikan terbaik lahir dari kedekatan hati, bukan sekadar fasilitas,” katanya.

Ia menilai anak-anak masa kini tumbuh sangat cepat dalam paparan informasi. Bahkan, banyak anak mengenal dunia luar lebih dulu sebelum benar-benar mengenal dirinya sendiri. Maka, peran ibu tidak lagi hanya sebagai pengasuh, tetapi juga penjaga nilai, penyaring informasi, sekaligus pendamping emosional anak.

Kemudian, Ia mengungkapkan, tantangan terbesar generasi hari ini bukan hanya soal akademik, tetapi juga krisis mental, kehilangan arah hidup, kecanduan digital, dan melemahnya daya tahan moral.

“Anak-anak hari ini lebih mudah meniru perilaku dibanding mendengar nasihat panjang. Maka karakter ibu menjadi kurikulum pertama bagi anak,” tegasnya.

Untuk itu, Hj. Qonita menekankan pentingnya kehadiran emosional orang tua dalam keluarga. Menurutnya, banyak keluarga hari ini tinggal serumah tetapi hidup dalam dunia masing-masing karena terlalu sibuk dengan layar gadget.

Padahal, kata dia, anak yang merasa didengar, dipahami, dan ditemani dengan hati akan memiliki ketahanan lebih kuat menghadapi pengaruh negatif lingkungan dan media sosial.

Ia juga menilai keteladanan Siti Hajar mengandung pelajaran penting tentang keseimbangan antara tawakal dan usaha. Saat mencari air antara Shafa dan Marwah, Siti Hajar tidak diam menunggu pertolongan datang, tetapi terus bergerak dan berikhtiar.

“Ini menjadi pelajaran penting bagi para ibu modern bahwa mendidik anak di era digital tidak cukup hanya melarang atau mengontrol, tetapi perlu keterlibatan aktif memahami dunia anak, membangun komunikasi hangat, mengawasi penggunaan teknologi dengan bijak, serta menanamkan nilai agama secara relevan dan penuh kasih,” ujarnya.

Selain berbicara mengenai pendidikan karakter dan ketahanan keluarga, Hj. Qonita juga menyoroti pentingnya edukasi fikih kepada masyarakat, terutama dalam menentukan skala prioritas ibadah menjelang Iduladha.

Meningkatnya semangat beribadah masyarakat harus dibarengi dengan pemahaman ilmu agama yang benar agar umat tidak keliru dalam menentukan prioritas syariat.

Baca juga:  Pengabdian untuk Negeri: Sebulan Penuh PDI Perjuangan Hadir bagi Warga Terdampak Bencana

Ia mencontohkan persoalan yang sering muncul di masyarakat, seperti memilih antara berkurban, mengaqiqahi diri sendiri karena dahulu belum sempat diaqiqahi orang tua, atau justru masih memiliki utang yang belum diselesaikan.

“Sebagai masyarakat yang religius, semangat beribadah umat Islam tentu patut diapresiasi. Namun memang masih banyak masyarakat yang bingung dalam menentukan skala prioritas ibadah. Di sinilah pentingnya edukasi fikih yang utuh, membumi, dan mudah dipahami masyarakat,” jelasnya.

Hj. Qonita menegaskan bahwa Islam sangat menekankan keseimbangan antara ibadah ritual dan tanggung jawab sosial. Karena itu, tidak semua amalan memiliki kedudukan prioritas yang sama.

Dalam fikih, melunasi utang yang sudah jatuh tempo jelas harus didahulukan dibanding ibadah sunnah seperti kurban atau aqiqah, sebab utang berkaitan dengan hak manusia yang wajib diselesaikan.

Sementara aqiqah, pada dasarnya merupakan tanggung jawab orang tua ketika anak masih kecil. Jika belum terlaksana karena keterbatasan ekonomi atau kondisi tertentu, hal itu tidak perlu menjadi beban psikologis berkepanjangan bagi anak ketika dewasa.

Adapun ibadah kurban memiliki nilai syiar dan sosial yang besar, tetapi tetap harus mempertimbangkan kemampuan dan kondisi masing-masing keluarga.

“Jangan sampai seseorang memaksakan diri berkurban demi gengsi sosial padahal masih terlilit utang atau kebutuhan keluarganya belum terpenuhi. Islam tidak datang untuk memberatkan, tetapi untuk menghadirkan kemaslahatan dan ketenangan,” tegasnya.

Dalam perspektifnya Hj. Qonita mengatakan, persoalan ini menunjukkan pentingnya dakwah dan edukasi fikih yang lebih kontekstual. Masyarakat tidak cukup hanya mendapatkan penjelasan halal dan haram secara tekstual, tetapi juga perlu memahami maqashid syariah atau tujuan utama syariat, yakni menghadirkan kemaslahatan, keadilan, dan ketenangan hidup.

Lebih lanjut, Ia juga mengingatkan bahwa di era media sosial saat ini masyarakat sering menerima potongan ceramah tanpa penjelasan utuh, sehingga mudah muncul perdebatan bahkan saling menghakimi dalam perkara khilafiyah.

Hj. Qonita mendorong penguatan literasi keagamaan melalui majelis taklim, masjid, sekolah, hingga ruang digital agar masyarakat mendapatkan pemahaman Islam yang lebih bijak, moderat, dan solutif.

“Umat perlu diajak memahami bahwa kualitas ibadah tidak hanya diukur dari banyaknya ritual, tetapi juga dari ketepatan dalam menjalankan prioritas syariat sesuai kondisi dan kemampuan,” katanya.

Baca juga:  Dharma Shanti di Balai Kota Bogor Tampilkan Harmoni Keberagaman, Jadi Sejarah Baru Perayaan Nyepi 2026

Dibesarkan dalam tradisi keilmuan pesantren, Hj. Qonita juga mengaitkan kaidah fikih siyasah “Tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil mashlahah” dalam pengawasan dan persiapan pelaksanaan Iduladha di Kota Depok tahun ini.

Kaidah tersebut menegaskan bahwa setiap kebijakan dan tindakan pemimpin harus selalu berorientasi pada kemaslahatan rakyat.

Atas dasar itu, pemerintah, DPRD, tokoh agama, panitia kurban, hingga masyarakat perlu memastikan bahwa seluruh proses pelaksanaan kurban benar-benar menghadirkan manfaat luas dan tidak menimbulkan mudarat.

Hj. Qonita menyoroti pentingnya pengawasan kesehatan hewan kurban agar masyarakat mendapatkan hewan yang sehat, aman, dan sesuai syariat. Pengawasan distribusi hewan, pemeriksaan kesehatan, hingga kebersihan lokasi penyembelihan juga dinilai penting demi menjaga keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.

Selain itu, ia menilai distribusi daging kurban harus lebih tepat sasaran dan benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan.

“Semangat Iduladha sejatinya adalah menghadirkan keadilan sosial dan memperkuat kepedulian terhadap sesama. Karena itu, pelaksanaan kurban jangan hanya menjadi simbol ibadah tahunan, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas sosial di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Hj. Qonita juga mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban, kebersihan lingkungan, dan pengelolaan limbah penyembelihan, terutama di kawasan perkotaan seperti Depok, agar tidak menimbulkan persoalan kesehatan maupun kenyamanan masyarakat sekitar.

Kemaslahatan paling mendesak menjelang Iduladha saat ini adalah penguatan kepedulian sosial dan ketahanan masyarakat di tengah tekanan ekonomi serta perubahan sosial yang cepat.

Ia menilai banyak masyarakat yang secara lahiriah terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang menghadapi kesulitan ekonomi, tekanan mental, hingga melemahnya solidaritas sosial di lingkungan sekitar.

Hj. Qonita berharap Iduladha tidak dimaknai sebatas seremoni penyembelihan hewan kurban, tetapi benar-benar menjadi momentum memperkuat empati sosial, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama.

Baginya, spirit pengorbanan Nabi Ibrahim dan keteguhan Siti Hajar mengajarkan pentingnya keikhlasan, kepedulian, dan keberanian mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi.

“Iduladha sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih ego, membangun empati, memperkuat keluarga, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama,” tutupnya. (el’s)

Latest

Padam Total di Tujuh Provinsi! Gangguan SUTET 275 kV Picu Blackout Massal Sumatera

Sumatera | Sketsa Online - Pulau Sumatera dilanda pemadaman...

Mengenal St. Binton Jhonson Nadapdap: Tokoh Multitalenta dengan Semangat Pelestarian Sejarah Depok

Depok | Sketsa Online - Di tengah pesatnya pembangunan...

Dua Terdakwa Korupsi Lahan PT Adhi Persada Realti Ajukan Eksepsi, Sidang Ditunda!

Depok | Sketsa Online - Sidang perdana perkara dugaan...

Pengabdian untuk Negeri: Sebulan Penuh PDI Perjuangan Hadir bagi Warga Terdampak Bencana

Depok | Sketsa Online - Komitmen kemanusiaan terus diwujudkan...

Newsletter

Don't miss

Padam Total di Tujuh Provinsi! Gangguan SUTET 275 kV Picu Blackout Massal Sumatera

Sumatera | Sketsa Online - Pulau Sumatera dilanda pemadaman...

Mengenal St. Binton Jhonson Nadapdap: Tokoh Multitalenta dengan Semangat Pelestarian Sejarah Depok

Depok | Sketsa Online - Di tengah pesatnya pembangunan...

Dua Terdakwa Korupsi Lahan PT Adhi Persada Realti Ajukan Eksepsi, Sidang Ditunda!

Depok | Sketsa Online - Sidang perdana perkara dugaan...

Pengabdian untuk Negeri: Sebulan Penuh PDI Perjuangan Hadir bagi Warga Terdampak Bencana

Depok | Sketsa Online - Komitmen kemanusiaan terus diwujudkan...

Yuk Jadi Inspirasi Kemanusiaan Bersama PDI Perjuangan! Bergerak Cepat, Tanggap, dan Peduli

Depok | Sketsa Online - Upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat...

Padam Total di Tujuh Provinsi! Gangguan SUTET 275 kV Picu Blackout Massal Sumatera

Sumatera | Sketsa Online - Pulau Sumatera dilanda pemadaman listrik massal (blackout) berskala besar pada Jumat (22/5/2026) malam. Gangguan yang mulai terjadi sekitar pukul...

Mengenal St. Binton Jhonson Nadapdap: Tokoh Multitalenta dengan Semangat Pelestarian Sejarah Depok

Depok | Sketsa Online - Di tengah pesatnya pembangunan Kota Depok sebagai wilayah penyangga ibu kota, perhatian terhadap pembangunan fisik dinilai perlu berjalan beriringan...

Dua Terdakwa Korupsi Lahan PT Adhi Persada Realti Ajukan Eksepsi, Sidang Ditunda!

Depok | Sketsa Online - Sidang perdana perkara dugaan tindak pidana korupsi dalam pembelian bidang tanah oleh PT Adhi Persada Realti (APR) tahun 2012–2013...