Depok | Sketsa Online – Perayaan Idulfitri 1447 Hijriah kembali menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk merajut ulang hubungan sosial dalam balutan nilai religius dan kebudayaan. Hal itu tergambar dalam tradisi silaturahmi yang dijalankan Ketua Fraksi Partai Gerindra Kota Depok, Edi Masturo, dengan membuka kediamannya bagi masyarakat selama dua pekan pasca-Lebaran.
Dimulai sejak hari ketiga Idulfitri, kediaman Edi Masturo dipadati warga yang datang secara bergantian dari berbagai wilayah. Aktivitas silaturahmi berlangsung sejak pagi hingga larut malam, menghadirkan suasana hangat yang penuh dengan interaksi sosial dan nuansa kekeluargaan.
Bagi Edi, tradisi ini bukan sekadar kebiasaan tahunan, melainkan bagian dari implementasi nilai keimanan yang menempatkan silaturahmi sebagai amalan utama setelah menjalani ibadah Ramadan.
“Idulfitri adalah momen kembali ke fitrah. Silaturahmi menjadi jalan untuk saling memaafkan dan memperkuat ukhuwah,” ujarnya pada Kamis (26/3/26).
Dalam pelaksanaannya, jamuan disajikan dengan cara sederhana, tanpa kemewahan. Hidangan ringan menjadi pelengkap pertemuan yang lebih menitikberatkan pada makna kebersamaan. Hal ini sekaligus mencerminkan nilai kesederhanaan yang diajarkan dalam ajaran Islam.
Tradisi ini juga merefleksikan praktik halal bihalal yang telah lama menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia. Di wilayah Jawa Barat, kebiasaan saling berkunjung pasca-Lebaran tidak hanya berlangsung satu atau dua hari, tetapi dapat berlanjut hingga beberapa pekan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai kebersamaan.
Kediaman Edi Masturo pun menjadi ruang sosial yang terbuka dan inklusif. Warga dari berbagai latar belakang hadir tanpa sekat, duduk bersama dalam suasana akrab yang mencerminkan kuatnya nilai egalitarian dalam kehidupan masyarakat.
Sementara itu, istrinya, Nur Hatikah, menuturkan bahwa tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga mereka sejak lama. Bahkan sebelum Edi Masturo menjabat sebagai anggota DPRD, kebiasaan membuka rumah untuk masyarakat sudah dilakukan secara rutin.
“Ini sudah menjadi tradisi keluarga kami. Kami terbiasa menjalin silaturahmi dengan masyarakat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, dua hari pertama Lebaran dimanfaatkan untuk silaturahmi keluarga inti. Setelah itu, mulai hari ketiga hingga dua minggu ke depan, masyarakat umum dipersilakan datang secara bergantian.
Menurutnya, momentum ini menjadi sarana penting untuk menjaga hubungan sosial sekaligus mempererat kedekatan dengan masyarakat yang selama ini tidak selalu dapat ditemui secara langsung.
“Ini momen untuk saling memaafkan, berbagi cerita, dan memperkuat hubungan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nur Hatikah juga menekankan bahwa kehadiran masyarakat membawa nilai spiritual tersendiri, karena di dalamnya terdapat doa dan dukungan yang menjadi kekuatan dalam menjalankan amanah.
“Dukungan dan doa mereka sangat berarti bagi kami. Itu yang menjadi penyemangat,” ujarnya.
Di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistik, tradisi ini menjadi pengingat bahwa nilai religius dan kebudayaan tetap relevan dan perlu dijaga. Kesederhanaan dalam penyajian jamuan justru mempertegas bahwa esensi Idulfitri terletak pada keikhlasan dan kebersamaan.
Melalui tradisi ini, Edi Masturo dan istri berharap silaturahmi tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang harmonis, solid, dan penuh kepedulian.
“Semoga silaturahmi ini membawa keberkahan dan memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat,” tutupnya. (el’s)




