Depok | Sketsa Online – Di tengah polemik penghentian skema Universal Health Coverage (UHC) di Kota Depok, tokoh pendidikan Kota Depok, H. Acep, mengajak publik untuk menilai kepemimpinan daerah secara lebih utuh, objektif, dan berimbang.
Menurutnya, arah pembangunan sebuah kota tidak semestinya diukur semata dari kebijakan yang dihentikan, melainkan dari keberanian dan konsistensi pemerintah dalam membangun fondasi jangka panjang bagi masa depan masyarakat.
Jiacep mengatakan, dinamika pro dan kontra yang muncul pasca keputusan Wali Kota Depok Supian Suri menghentikan UHC merupakan konsekuensi logis dari sebuah keputusan strategis. Namun di balik polemik tersebut, terdapat keberanian kepemimpinan yang patut diapresiasi.
“Tidak semua pemimpin berani mengambil keputusan yang tidak populer. Dalam konteks ini, Pak Supian Suri menunjukkan keberanian politik untuk menata ulang kebijakan demi keberlanjutan fiskal dan arah pembangunan Depok ke depan,” ujar Jiacep, pada Sabtu (7/2/2026).
Ia menegaskan, mengelola kota sebesar Depok menuntut lebih dari sekadar keberanian melanjutkan kebijakan lama. Justru, seorang kepala daerah diuji ketika berani mengevaluasi kebijakan warisan sebelumnya dan mengambil langkah korektif demi kepentingan jangka panjang warga.
“Menghentikan UHC jelas bukan keputusan ringan. Ini langkah berisiko secara politik. Namun di situlah terlihat kepemimpinan sejati. Pak Supian tidak memilih jalan aman, melainkan jalan yang menurutnya paling rasional dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Jiacep menilai, keberanian Supian Suri sejalan dengan visi pembangunan yang menitikberatkan pada penguatan fondasi, khususnya di sektor pendidikan dan infrastruktur. Arah kebijakan tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Depok tidak terjebak pada kebijakan populis jangka pendek, melainkan berupaya membangun sistem yang berkelanjutan.
Sebagai pemerhati pendidikan, Jiacep secara khusus mengapresiasi komitmen Wali Kota Supian Suri dalam mendorong rintisan sekolah gratis serta peningkatan akses dan kualitas pendidikan.
“Pendidikan memang tidak memberi hasil instan. Tetapi pemimpin yang berpikir jauh ke depan akan menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama. Dan itu yang sedang ditunjukkan oleh Pak Supian Suri,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Jiacep juga menyinggung penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Lembaga Pendidikan GHAMA dan EWIC Malaysia sebagai contoh konkret kebijakan dan inisiatif yang dibangun untuk menjawab persoalan pendidikan, khususnya penyerapan lulusan SMK.

Kolaborasi lintas negara ini dinilai sebagai langkah progresif yang menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan melalui sinergi antara lembaga pendidikan, dunia industri, dan pemerintah.
“MoU GHAMA dengan EWIC Malaysia ini mencerminkan keberanian berpikir global. Sejalan dengan semangat kepemimpinan Pak Supian Suri yang mendorong pendidikan vokasi agar tidak berhenti di ijazah, tetapi berujung pada kompetensi dan penyerapan kerja,” jelasnya.
Menurut Jiacep, kerja sama tersebut menjadi jawaban atas persoalan klasik lulusan SMK yang selama ini kerap tidak terserap optimal di dunia kerja. Dengan membuka akses pelatihan, sertifikasi, hingga peluang kerja internasional, Depok dinilai tengah menyiapkan generasi muda yang lebih kompetitif.
Selain sektor pendidikan, Jiacep juga mengapresiasi keberanian Pemerintah Kota Depok di bawah kepemimpinan Supian Suri dalam membenahi sektor infrastruktur. Program pelebaran jalan dan pembangunan underpass dinilainya sebagai langkah strategis untuk mengurai persoalan kemacetan yang telah lama membebani warga.
“Ini kebijakan yang dampaknya tidak selalu langsung dirasakan. Tetapi pemimpin yang visioner berani membangun infrastruktur sebagai tulang punggung pertumbuhan kota,” ujarnya.
Tak hanya itu, pembangunan dan revitalisasi sarana olahraga juga disebut sebagai cerminan kepedulian pemerintah kota terhadap kesehatan masyarakat serta pembinaan generasi muda.
Di akhir pernyataannya, Jiacep mengajak masyarakat untuk memberikan ruang bagi kepemimpinan Supian Suri bekerja dan menunaikan visi pembangunannya, sembari tetap mengawal dengan kritik yang konstruktif.
“Kritik itu penting. Tetapi keadilan dalam menilai jauh lebih penting. Pak Supian Suri sedang meletakkan fondasi. Depok tidak akan dikenang dari satu kebijakan yang dihentikan, melainkan dari keberanian membangun masa depan yang lebih kuat dan berkelanjutan,” tutupnya. (el’s)




